للرد على جماعة الإخوان المسلمين و جماعة التبليغ بالأدلة والبراهين

Friday, August 8, 2008
   Membongkar Kedok Jama'ah Tabligh
MEMBONGKAR KEDOK JAMA'AH TABLIGH
Oleh: Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc


Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita,terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai 'biang pemecah belah umat', membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.

Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; ”Mas, Jamaah Tabligh, ya?” atau “Mas, karkun, ya?” Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung dihukumi sebagai Jamaah Tabligh. Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jamaah yang berkiblat ke India ini? Kajian kali ini adalah jawabannya.

~~~ Pendiri Jamaah Tabligh ~~~

Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang sufi dari tarekat Jisytiyyah yang berakidah Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan nisbat dari Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi dinisbatkan kepada Dihli (New Delhi), ibukota India. Di tempat dan negara inilah, markas gerakan Jamaah Tabligh berada. Adapun Ad-Diyubandi adalah nisbat dari Diyuband, yaitu madrasah terbesar bagi penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti
dinisbatkan kepada tarekat Al-Jisytiyah, yang didirikan oleh Mu’inuddin Al-Jisyti. Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H. (Bis BriMusliman, hal.583, Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 144-146, dinukil dariJama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).

~~~ Latar Belakang Berdirinya Jamaah Tabligh ~~~

Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan, ”Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan
tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut.” (Nazhrah 'Abirah I’tibariyyah Haulal Jama'ah At-Tablighiyyah, hal. 7-8, dinukil dari kitab Jama'atut Tabligh Aqa’iduha Wa Ta’rifuha, karya Sayyid Thaliburrahman, hal. 19)

Merupakan suatu hal yang ma’ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh, red) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 3).

~~~ Markas Jamaah Tabligh ~~~

Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di kota Dakka (Bangladesh). Yang menarik, pada markas-markas mereka yang berada di daratan India itu, terdapat hizb (rajah) yang berisikan Surat Al-Falaq dan An-Naas, nama Allah yang agung, dan nomor 2-4-6-8 berulang 16 kali dalam bentuk segi empat, yang dikelilingi beberapa kode yang tidak dimengerti. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 14)

Yang lebih mengenaskan, mereka mempunyai sebuah masjid di kota Delhi yang dijadikan markas oleh mereka, di mana di belakangnya terdapat empat buah kuburan. Dan ini menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani, di mana mereka menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagai masjid. Padahal Rasulullah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid, bahkan mengkhabarkan bahwasanya mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi.(Lihat Al-Qaulul Baligh Fit Tahdziri Min Jama’atit Tabligh, Allah karya Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri, hal. 12)

~~~ Asas dan Landasan Jamaah Tabligh ~~~

Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat teguh mereka pegang, bahkan cenderung berlebihan. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash- shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagai berikut:

Sifat Pertama: Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah

Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dialah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan”. Kebanyakan pembicaraan mereka tentang tauhid, hanya berkisar pada tauhid rububiyyah semata (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 4).

Padahal makna Laa Ilaha Illallah sebagaimana diterangkan para ulama adalah: “Tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah.” (Lihat Fathul Majid, karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, hal. 52-55). Adapun makna merealisasikannya adalah merealisasikan tiga jenis tauhid; al-uluhiyyah, ar-rububiyyah, dan al- asma wash shifat (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, karya Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-'Adnani, hal. 10). Dan juga sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan: “Merealisasikan tauhid artinya membersihkan dan memurnikan tauhid (dengan tiga jenisnya, pen) dari kesyirikan, bid’ah, dan kemaksiatan.” (Fathul Majid, hal. 75)

Oleh karena itu, Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan bahwa di antara 'keistimewaan' Jamaah Tabligh dan para pemukanya adalah apa yang sering dikenal dari mereka bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berikrar dengan tauhid. Namun tauhid mereka tidak lebih dari tauhidnya kaum musyrikin Quraisy Makkah, di mana perkataan mereka dalam hal tauhid hanya berkisar pada tauhid rububiyyah saja, serta kental dengan warna-warna tashawwuf dan filsafatnya. Adapun tauhid uluhiyyah dan ibadah, mereka sangat kosong dari itu. Bahkan dalam hal ini, mereka termasuk golongan orang-orang musyrik. Sedangkan tauhid asma wash shifat, mereka berada dalam lingkaran Asya’irah serta Maturidiyyah, dan kepada Maturidiyyah mereka lebih dekat”. (Nazhrah ‘Abirah I’tibariyyah Haulal Jamaah At- Tablighiyyah, hal. 46).

Sifat Kedua: Shalat dengan Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri

Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata: “Demikianlah perhatian mereka kepadashalat dan kekhusyukannya. Akan tetapi, di sisi lain mereka sangat buta tentang rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajibannya, sunnah- sunnahnya, hukum sujud sahwi, dan perkara fiqih lainnya yang berhubungan dengan shalat dan thaharah. Seorang tablighi (pengikut Jamaah Tabligh, red) tidaklah mengetahui hal-hal tersebut kecuali hanya segelintir dari mereka.” (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 5- 6).

Sifat ketiga: Keilmuan yang Ditopang dengan Dzikir

Mereka membagi ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhail. Ilmu masail, menurut mereka, adalah ilmu yang dipelajari di negeri masing-masing. Sedangkan ilmu fadhail adalah ilmu yang dipelajari pada ritus khuruj (lihat penjelasan di bawah, red) dan pada majlis-majlis tabligh. Jadi, yang mereka maksudkan dengan ilmu adalah sebagian dari fadhail amal (amalan-amalan utama, pen) serta dasar-dasar pedoman Jamaah (secara umum), seperti sifat yang enam dan yang sejenisnya, dan hampir-hampir tidak ada lagi selain itu. Orang-orang yang bergaul dengan mereka tidak bisa memungkiri tentang keengganan mereka untuk menimba ilmu agama dari para ulama, serta tentang minimnya mereka dari buku-buku pengetahuan agama Islam. Bahkan mereka berusaha untuk menghalangi orang-orang yang cinta akan ilmu, dan berusaha menjauhkan mereka dari buku-buku agama dan para ulamanya.(Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 6 dengan ringkas).

Sifat Keempat: Menghormati Setiap Muslim

Sesungguhnya Jamaah Tabligh tidak mempunyai batasan-batasan tertentu dalam merealisasikan sifat keempat ini, khususnya dalam masalah al- wala (kecintaan) dan al-bara (kebencian). Demikian pula perilaku mereka yang bertentangan dengan kandungan sifat keempat ini di mana mereka memusuhi orang-orang yang menasehati mereka atau yang berpisah dari mereka dikarenakan beda pemahaman, walaupun orang tersebut 'alim rabbani. Memang, hal ini tidak terjadi pada semua tablighiyyin, tapi inilah yang disorot oleh kebanyakan orang tentang mereka. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 8)

Sifat Kelima: Memperbaiki Niat

Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adalah porosnya. Akan tetapi semuanya membutuhkan ilmu. Dikarenakan Jamaah Tabligh adalah orang-orang yang minim ilmu agama, maka banyak pula kesalahan mereka dalam merealisasikan sifat kelima ini. Oleh karenanya engkau dapati mereka biasa shalat di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)

Sifat Keenam: Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah subhanahu wata'ala

Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah, pen) bersama Jamaah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain. Hadir pada dua majelis ta’lim setiap hari, majelis ta’lim pertama diadakan di masjid sedangkan yang kedua diadakan di rumah. Meluangkan waktu 2,5 jam setiap hari untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi, membaca satu juz Al Qur’an setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jamaah yang khuruj, serta i’tikaf pada setiap malam Jum’at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj, mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah (ala mereka, pen) yang disampaikan oleh salah seorang anggota jamaah yang berpengalaman dalam hal khuruj. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)

Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Khuruj di jalan Allah adalah khuruj untuk berperang. Adapun apa yang sekarang ini mereka (Jamaah Tabligh, pen) sebut dengan khuruj maka ini bid’ah. Belum pernah ada (contoh) dari salaf tentang keluarnya seseorang untuk
berdakwah di jalan Allah yang harus dibatasi dengan hari-hari tertentu. Bahkan hendaknya berdakwah sesuai dengan kemampuannya tanpa dibatasi dengan jamaah tertentu, atau dibatasi 40 hari, atau lebih sedikit atau lebih banyak.” (Aqwal Ulama As-Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 7)

Asy-Syaikh Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Khuruj mereka ini bukanlah di jalan Allah, tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi berdakwah kepada (pemahaman) Muhammad Ilyas, syaikh mereka yang ada di Banglades (maksudnya India, pen). (Aqwal Ulama As Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 6)

~~~ AQIDAH Jamaah Tabligh dan Para Tokohnya ~~~

Jamaah Tabligh dan para tokohnya, merupakan orang-orang yang sangat rancu dalam hal aqidah1. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadhail A’mal karya Muhammad Zakariya Al- Kandahlawi, merupakan kitab yang penuh dengan kesyirikan, bid’ah, dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka dalam masalah aqidah adalah2:

1. Keyakinan tentang wihdatul wujud (bahwa Allah menyatu dengan alam ini). (Lihat kitab Tablighi Nishab, 2/407, bab Fadhail Shadaqat, cet. Idarah Nasyriyat Islam Urdu Bazar, Lahore).

2. Sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih dan keyakinan bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib. (Lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Dzikir, hal. 468-469, dan hal. 540-541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

3. Tawassul kepada Nabi (setelah wafatnya) dan juga kepada selainnya, serta berlebihannya mereka dalam hal ini. (Lihat Fadhail A’mal, bab Shalat, hal. 345, dan juga bab Fadhail Dzikir, hal. 481-482, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

4. Keyakinan bahwa para syaikh sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni (lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Qur’an, hal. 202- 203, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf, yakni bisa menyingkap segala sesuatu dari perkara ghaib atau batin. (Lihat Fadhail A’mal, bab Dzikir, hal. 540- 541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).

6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dengan mengikuti tarekat
Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi (lihat Shaqalatil Qulub, hal. 190). Oleh karena itu, Muhammad Ilyas sang pendiri Jamaah Tabligh telah membai’atnya di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314 H, bahkan terkadang ia bangun malam semata-mata untuk melihat wajah syaikhnya tersebut. (Kitab Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 143, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).

7. Saling berbai’at terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Sahruwardiyyah. (Ad-Da'wah fi Jaziratil 'Arab, karya Asy-Syaikh Sa’ad Al-Hushain, hal. 9-10, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 12).

8. Keyakinan tentang keluarnya tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kubur beliau untuk berjabat tangan dengan Asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i. (Fadhail A’mal, bab Fadhail Ash-Shalati ‘alan Nabi, hal. 19, cet. Idarah Isya’at Diyanat Anarkli, Lahore).

9. Kebenaran suatu kaidah, bahwasanya segala sesuatu yang menyebabkan permusuhan, perpecahan, atau perselisihan -walaupun ia benar- maka harus dibuang sejauh-jauhnya dari manhaj Jamaah. (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 10).

10. Keharusan untuk bertaqlid (lihat Dzikir Wa I’tikaf Key Ahmiyat, karya Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, hal. 94, dinukil dari Jama'atut Tabligh ‘Aqaiduha wa Ta’rifuha, hal. 70).

11. Banyaknya cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits lemah/ palsu di dalam kitab Fadhail A’mal mereka, di antaranya apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Hasan Janahi dalam kitabnya Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 46-47 dan hal. 50-52. Bahkan cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits palsu inilah yang mereka jadikan sebagai bahan utama untuk berdakwah. Wallahul Musta’an.

~~ FATWA Para Ulama Tentang Jamaah Tabligh ~~~

1. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Siapa saja yang berdakwah di jalan Allah bisa disebut “muballigh” artinya: (Sampaikan apa yang datang dariku (Rasulullah), walaupun hanya satu ayat), akan tetapi Jamaah Tabligh India yang ma’ruf dewasa ini mempunyai sekian banyak khurafat, bid’ah dan kesyirikan. Maka dari itu, tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali bagi seorang yang berilmu, yang keluar (khuruj) bersama mereka dalam rangka mengingkari (kebatilan mereka) dan mengajarkan ilmu kepada mereka. Adapun khuruj, semata ikut dengan mereka maka tidak boleh”.

2. Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata: “Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (atas pengecualian beliau tentang bolehnya khuruj bersama Jamaah Tabligh untuk mengingkari kebatilan mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, pen), karena jika
mereka mau menerima nasehat dan bimbingan dari ahlul ilmi maka tidak akan ada rasa keberatan untuk khuruj bersama mereka. Namun kenyataannya, mereka tidak mau menerima nasehat dan tidak mau rujuk dari kebatilan mereka, dikarenakan kuatnya fanatisme mereka dan
kuatnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu. Jika mereka benar-benar menerima nasehat dari ulama, niscaya mereka telah tinggalkan manhaj mereka yang batil itu dan akan menempuh jalan ahlut tauhid dan ahlus sunnah. Nah, jika demikian permasalahannya, maka tidak boleh keluar
(khuruj) bersama mereka sebagaimana manhaj as-salafush shalih yang berdiri di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal tahdzir (peringatan) terhadap ahlul bid’ah dan peringatan untuk tidak bergaul serta duduk bersama mereka. Yang demikian itu (tidak bolehnya khuruj bersama mereka secara mutlak, pen), dikarenakan termasuk memperbanyak jumlah mereka dan membantu mereka dalam menyebarkan kesesatan. Ini termasuk perbuatan penipuan terhadap Islam dan kaum muslimin, serta sebagai bentuk partisipasi bersama mereka dalam hal dosa dan kekejian. Terlebih lagi mereka saling berbai’at di atas empat tarekat sufi yang padanya terdapat keyakinan hulul, wihdatul wujud, kesyirikan dan kebid’ahan”.

3. Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata: “Bahwasanya organisasi ini (Jamaah Tabligh, pen) tidak ada kebaikan padanya. Dan sungguh ia sebagai organisasi bid’ah dan sesat. Dengan membaca buku-buku mereka, maka benar-benar kami dapati kesesatan, bid’ah, ajakan kepada peribadatan terhadap kubur- kubur dan kesyirikan, sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Oleh karena itu -insya Allah- kami akan membantah dan membongkar kesesatan dan kebatilannya”.

4. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “Jamaah Tabligh tidaklah berdiri di atas manhaj Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta pemahaman as- salafus shalih.” Beliau juga berkata: “Dakwah Jamaah Tabligh adalah dakwah sufi modern yang semata-mata berorientasi kepada akhlak. Adapun pembenahan terhadap aqidah masyarakat, maka sedikit pun tidak mereka lakukan, karena -menurut mereka- bisa menyebabkan perpecahan”. Beliau juga berkata: “Maka Jamaah Tabligh tidaklah mempunyai prinsip keilmuan, yang mana mereka adalah orang-orang yang selalu berubah-ubah dengan perubahan yang luar biasa, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada”.

5. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Kenyataannya mereka adalah ahlul bid’ah yang menyimpang dan orang-orang tarekat Qadiriyyah dan yang lainnya. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah, akan tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi kepada Muhammad Ilyas, syaikh mereka di Bangladesh (maksudnya India, pen)”.

Demikianlah selayang pandang tentang hakikat Jamaah Tabligh, semoga sebagai nasehat dan peringatan bagi pencari kebenaran. Wallahul Muwaffiq wal Hadi Ila Aqwamith Thariq.

Labels: ,


Baca Artikel Selengkapnya…!
posted by ibn sarijan @ 4:50:00 PM  
Friday, April 18, 2008
   Hukum Bergabung Dgn Firqoh-firqoh Untuk Memperbaiki Dari Dalam

HUKUM BERGABUNG DENGAN FIRQOH-FIRQOH

UNTUK MEMPERBAIKI DARI DALAM

Oleh: Asy-Syaikh Abu Yasir Kholid Ar-Radadiy Hafizahullah


Pengantar:

Segala puji hanya bagi Allah Rabb alam semesta, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi akhir zaman, keluarganya, para sahabatnya, serta ummatnya hingga akhir zaman.

Amma Ba’du:

Berikut adalah nukilan Tanya jawab Al-Ustadz Wildan dengan Asy-Syaikh Abu Yasir Kholid Ar-Radadiy tentang beberapa permasalahan. Kami nukilkan disini bagian dari fatwa Syaikh Kholid Ar-Radadiy tentang HUKUM BERGABUNG DENGAN FIRQOH-FIRQOH DENGAN ALASAN UNTUK MEMPERBAIKI DARI DALAM.

Telah berkata kepada kami dan kepada Abu Zaid Anang*) Abu Muhammad Amin Abdul Ma’bud Al-Indonisiy**) sbb:”Jika kalian hendak memperbaiki Jama’ah ini –yakni Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh-, maka kalian masuklah kedalam jama’ah ini”.

Perkataan beliau ini (Abu Muhammad Amin) ulangi sebanyak dua kali baik kepada kami maupun kepada Abu Zaid Anang. Dalam pandangan kami, jelas perkataan ini tidaklah benar tetapi dalam pandangan Abu Zaid Anang beliau menganggapnya sebagai angin lalu saja. Maka, untuk menimbang kebenaran perkataan da’I Ihya’ut Turots Al-Hizbiyyah ini berikut kami nukilkan Fatwa As-Syaikh Kholid Ar-Radadiy. Semoga dengan adanya fatwa ini akan menjadi jelaslah permasalahannya,اللهم آمين.

0 0 0 0 0

Tanya (Ustadz Wildan) :

Apa bantahan Anda terhadap perkataan sebagian da’i tentang bolehnya bergaul dengan firqah-firqah atau jama’ah-jama’ah yang ada dengan alasan untuk memperbaiki dari dalam ?

Jawab (Syaikh Kholid) :

Yang pertama, perbaikan dari dalam bukan berarti bahwa engkau tetap bersamanya. Bentuk pengingkaran paling kecil adalah tindakanmu memisahkan diri darinya. Pengingkaran terkecil itu adalah tindakanmu memisahkan diri darinya, tidak bergaul dengannya. Adapun apabila engkau tetap bersama mereka, bergaul dengan mereka, mendiamkan kemungkaran-kemungkaran mereka, maka tidak akan terjadi perbaikan pada diri mereka dan tidak pula pada dirimu.

Jadi, perkataan seperti itu adalah perkataan yang tidak benar. Khususnya jika disana ada saudara-saudara salafiyyun, hendaknya saudara-saudara kita yang salafiyun tersebut menyeru, menda’wahi mereka dan menasehati mereka dari/dalam keadaan jauh dari mereka. Apabila mereka menerima nasehat tersebut, dan juga apabila diantara mereka ada yang menerima kebenaran, Alhamdulillah …(ada perkataan yg tidak jelas)… bahwa bentuk pengingkaran yang paling kecil adalah memisahkan diri dari mereka. Tidak bersama mereka dan tidak bermajlis dengan mereka sebab tidak akan tercapai bentuk pengingkaran apabila seseorang itu tetap bersama mereka, mereka/kaum muslimin tidak memahami ketika seseorang tetap bersama suatu kelompok yang mempunyai penyimpangan, bahwa orang tersebut mengingkari manhajnya.

Ketika meninggal Abu Rawwaad, manusia pada waktu itu melihat Sufyan ats-Tsaury, mereka mengatakan “Sufyan (Sufyan ats-Tsaury) akan menyolatkan orang tersebut”.

Kemudian ketika Sufyan tidak menyolatkan orang tersebut ditanyakan kepada beliau: “mengapa kamu tidak menyolatkannya”. beliau menjawab, “agar manusia tahu bahwa ia seorang mubtadi’”.

Jadi, agar manusia tahu bahwa ia seorang mubtadi’, terutama apabila orang yang tidak menyolatkan tersebut adalah seorang yang mempunyai kedudukan dan derajad yang tinggi di tengah-tengah masyarakat.


Catatan Kaki:

*) Salah seorang perawat Indonesia yang bekerja di Kuwait yang mana pada awalnya beliau aktif di Jama’ah Tabligh kemudian beliau mengikuti ta’lim dengan da’I dari Jum’iyyah Ihya’ut Turots Al-Hizbiyyah sampai sekarang.

**) Seorang pegawai Jum’iyyah Ihya’ut Turots Al-Hizbiyyah Lajnah Junub Syarq Asia, lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir. Beliau juga bekerja di Kementrian Auqof (DEPAG) Kuwait.


Sumber: Tanya Jawab Ustadz Wildan dengan Asy-Syaikh Kholid Ar-Radadiy pada tanggal 17 Dzulhijjah 1423 H/19 Februari 2003 M

Labels:


Baca Artikel Selengkapnya…!
posted by ibn sarijan @ 9:40:00 PM  
   Memang Harus Beda Antara SALAFIYYAH Dengan HIZBIYYAH

Memang Harus Beda antara SALAFIYYAH dengan HIZBIYYAH

(Sebuah Bantahan Buku Beda Salaf dengan “Salafi”)

Penulis: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Atsariy)


Pergolakan antara tentara kebenaran dan tentara kebatilan akan senantiasa berjalan sampai akhir zaman. Para pejuang kebenaran harus memiliki kesabaran yang tinggi dan ilmu yang kuat, sebab ia akan diserang oleh musuh-musuh kebatilan dengan berbagai macam senjata syubuhatnya.

Diantara syubuhat yang mereka arahkan kepada dakwah salafiyyah, dan pengikutnya (salafiyyun), adanya sebagian kitab-kitab yang menyudutkan dakwah salaf, dan salafiyyun, seperti: “Aku Melawan Teroris”,(1) “Dakwah Salaf Dakwah Bijak” , “Siapa Teroris Siapa Khawarij” (2) .

Masih segar dalam ingatan terbitnya tiga kitab itu, tiba-tiba muncul lagi kitab baru yang diterjemahkan dari kitab yang berbahasa Arab. Kitab ini juga menyudutkan para salafiyyun, dan memberikan angin segar, dan nafas lega bagi para hizbiyyun di Indonesia, dan Makassar -khususnya-.

Pasalnya, ada sebagian ikhwah Al-Jami’ah Alauddin datang membawa kitab terjemahan itu kepada kami saat ada kajian di Masjid Kampus UIN Alauddin, Makassar. Dia mengisahkan bahwa kitab terjemahan itu ia dapatkan dari kiriman seorang akhwat OrmasWahdah Islamiyyah (WI) kepada ikhwah tersebut. Dia juga mengisahkan bahwa ada seorang ikhwah yang tak mau ikut kajian salaf lagi –wal’iyadzu billah- seusai membaca kitab itu.(3)

Ikhwah ini datang meminta nasihat kepada kami secara pribadi tentang isi kitab itu, walaupun berupa catatan ringkas tentang isi kitab tersebut.

· Kitab Apa itu?

Kitab itu aslinya berjudul “Kasyful Haqo’iq Al-Khofiyyah ‘Inda Mudda’i As-Salafiyyah”. Lalu diberi judul secara serampangan oleh penerjemah dengan “Beda Salaf dengan “Salafi”" (Harusnya Sama Kenapa Beda?)(4). Kitab ini diterjemahkan oleh Wahyuddin, Abu Ja’far Al-Indunisiy; diterbitkan oleh Media Islamika, Solo pada bulan November 2007 M.

Penulis kitab ini bernama Mut’ab bin Suryan Al-’Ashimiy.(5) Konon kabarnya, ia adalah penduduk Makkah sebagaimana yang dijelaskan oleh Peneberbit dalam kata pengantarnya (hal.9). Tidak lebih dari itu !! Siapakah dia? Wallahu a’lam tentang jati dirinya.

Kemudian kitab BSDS ini terdiri dari dua bagian. Bagian Pertama berupa tulisan asli Muth’ab bin Suryan dari hal. 10-88. Jadi isi kitab aslinya Cuma berisi 78 hal. Bagian Kedua , lalu digembungkan oleh Penerbit dengan tambahan 146 hal yang terdiri dari : cover dalam dari hal. 1-4, pengantar Penerbit dari hal. 5-9, dan tambahan fatwa-fatwa (?) dari hal.89-223. Satu halaman yang tersisa berisi ucapan syukur: tamma bihamdillah. Jadi, tambahannnya hampir 3 kali lipat !! Sebagai amanah ilmiah, semoga saja Penerbit mendapat izin dan ridho dari Penulis sehingga ia boleh menambahkan halaman yang begitu banyak jumlahnya di belakang tulisan Muth’ab, sedang tambahan itu melebihi aslinya!!

· Judul Kitab dalam Terjemahan

Penerjemah memberi judul bagi kitab itu dengan Beda Salaf dengan “Salafi”. Sedang “Salafi” maksudnya disini adalah orang yang mengaku salafi.

Jika kita menelaah isi kitab, maka kita akan mendapatkan bahwa yang dimaksud dengan orang yang mengaku salafi adalah orang yang suka mencela ulama, dan orang suka men-tashnif (menggolongkan) manusia.(6)

Sebenarnya Penulis dalam hal ini salah kaprah(7) tentang mencela, sampai orang yang mengingkari penyimpangan aqidah sebagian orang juga dianggap mencela. Demikian pula, Penulis dan Penerbit salah kaprah dalam mendudukkan semacam Salman, Safar Al-Hawaliy, A’idh Al-Qorniy, Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna sebagai ulama’, padahal bukan ulama’. Kalau pun ia ulama’, apa salahnya mengingkari mereka dengan cara yang hikmah. Para ulama’ dari dulu mengingkari ulama’ yang lainnya, baik dalam perkara fiqih, maupun perkara aqidah. Tak ada yang menganggap hal itu sebagai celaan. Namun herannya di zaman ini ada sebagian pemuda yang dangkal pemahamannya –termasuk Penulis- menganggap hal itu sebagai celaan dan ghibah. (8)

Ini yang dikatakan oleh Penulis dengan pengaku salafi. Selain itu ia menganggap pengaku salafi itu adalah orang yang suka men-tashnif (menggolong-golongkan)manusia.

Sebenarnya jika kita mau memperhatikan judul Arab maupun judul terjemahan, maka sebenarnya Penulis dan Penerjemah sendiri telah melakukan tashnif.(9) Coba perhatikan judul aslinya yang berbunyi “Kasyful Haqo’iq Al-Khofiyyah ‘Inda Mudda’i As-Salafiyyah” (Menyingkap Hakekat yang Samar di Sisi Pengaku Salafi). Lalu perhatikan juga judul yang disematkan oleh Penerjemah yang berbunyi Beda Salaf dengan “Salafi”.

Perhatikan bagaimana Penulis menggunakan istilah mudda’is salafiyyah, dan Penerjemah menggunakan istilah Salafi –dengan tanda petik- yang artinya sama dengan mudda’is salafiyyah (Pengaku Salafi).

Jadi, Penulis dan Penerjemah sama-sama men-tashnif (menggolong-golongkan) manusia, sebab jika disana ada orang yang mengaku salafi, berarti disana ada yang Salafi Sejati. Ini adalah tashnif yang dicela oleh Penulis, dan Penerjemah, namun keduanya melakukan hal itu sendiri(10).

Wahai Penulis dan Penerjemah, dengarkan Allah -Ta’ala- berfirman,
{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ} (44) سورة البقرة
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (QS. Al-Baqoroh:44 ).

Ini dari segi judul. Belum lagi isinya !! Insya’ Allah -Ta’ala- Pembaca yang budiman akan melihat lebih dari ini berupa penyimpangan Penulis, dan kecohannya kepada para pembaca dengan memakai “sistem standar ganda” yang tumpul.

· Inti Pembahasan Kitab BSDS

Jika kita membaca buku terjemahan yang berjudul Beda Salaf dengan “Salafi” (BSDS) dari awal sampai akhir, maka kita akan dapatkan kesimpulan bahwa Penulis BSDS hanya berkisar dalam beberapa perkara (baca:syubhat), diantaranya: Masalah Menggunakan Nama Salafiy atau Atsariy, Larangan Men-tashnif, Tuduhan bahwa Salafiyyun Suka Mencela.

Untuk membantah syubhat-syubhat ini, maka kami akan membawakan beberapa tanya jawab yang akan menghilangkan segala kerancuan tentang manhaj dan dakwah salaf. Berikut tanya jawab tersebut:

v Terlarangkah Memakai Nisbah As - Salafiy atau Al - Atsariy ???

Penulis BSDS dalam soal 03 (hal. 40), ia menyebutkan ciri khas dan simbol para pengaku salafi, yaitu menggunakan simbol As-Salafiy atau Al-Atsariy diakhir nama mereka atau mengaku dengan lisannya, “Aku adalah salafi”, “Kami adalah salafiyyun”. Jika seorang melakukan hal seperti itu, maka ia dianggap jauh dari intisari yang terkandung.

Dengarkan Penulis berkata dengan ceroboh di bawah judul Slogan Para Pengaku Salafi, “Apa simbol mereka, yaitu orang-orang yang selalu mengaku-aku salafi?”.

Lalu ia jawab sendiri, “Simbol mereka yang dapat dikenali adalah pengakuan “as-salafiyah” atau perkataan mereka, “Kami adalah salafiyyun”, atau “Saya adalah salafi”. Atau mereka sertakan diakhir nama-nama mereka dengan sebutan salafi. Seperti, fulan bin fulan as-salafi atau al-atsari dan demikian seterusnya. Ini merupakan pengakuan yang mengindikasikan jauh dari intisari yang terkandung”.[Lihat BSDS (hal.40)]

Kemudian Penulis membawakan fatwa Syaikh Al-Fauzan yang menyatakan bahwa tidak perlu memakai nama As-Salafiy atau Al-Atsariy, karena beliau khawatir pengakuan itu tidak sesuai dengan perbuatan dan aqidah seorang muslim. Tapi apakah Syaikh melarang secara mutlak? Tentunya tidak !! Bagi orang yang memiliki aqidah dan manhaj sesuai dengan salaf, maka tak apa baginya untuk menamakan diri dengan As-Salafiy atau Al-Atsariy.

Karenanya, Syaikh Al-Fauzan sendiri pernah berfatwa saat ditanya, “Apakah menggunakan nama As-Salafiy dianggap membuat kelompok (hizbiyyah)?”. Syaikh Al-Fauzan -hafizhahullah- menjawab, “ Menggunakan nama As-Salafiy –jika sesuai hakekatnya-, tak mengapa. Adapun jika hanya sekedar pengakuan, maka tidak boleh baginya menggunakan nama As-Salafiy, sedang ia bukan di atas manhaj Salaf. Maka orang-orang Al-Asy’ariyyah -contohnya- berkata, “Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. Ini tak benar, karena pemahaman yang mereka pijaki bukanlah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Demikian pula orang-orang Mu’tazilah menamai diri mereka dengan Al-Muwahhidin (orang-orang bertauhid).

كل يدعي وصلا لليلى
وليلى لا تقر لهم بذاكا

Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila

Sedang Laila tidak mengakui hal itu bagi mereka

Jadi, orang yang mengaku bahwa ia berada di atas madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah akan mengikuti jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihi (madzhab Ahlus Sunnah.-pent). Adapun jika ia mau mengumpulkan antara “biawak dan ikan pau” –menurut istilah orang-, yakni: mau mengumpulkan hewan daratan dengan hewan laut, maka ini tak mungkin; atau ia mau mengumpulkan antara api dengan air dalam suatu daun timbangan. Maka tak akan bersatu ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan madzhabnya orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti Khawarij, Mu’tazilah, dan Hizbiyyun(11) yang disebut orang dengan “Muslim Masa Kini”, yaitu orang yang mau mengumpulkan kesesatan-kesesatan orang-orang di zaman ini bersama manhaj salaf. Maka “Tak akan baik akhir ummat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki awalnya”. Walhasil, harus ada pembedaan dan penyaringan”. [Lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘an As’ilah Al-Manahij Al-Jadidah (hal.36-40) karya Jamal bin Furoihan Al-Haritsiy -hafizhahullah-, cet. Darul Minhaj, 1426 H]

Jadi, menamakan diri dengan As-Salafiy, ini tak apa, jika seorang berada di atas manhaj dan aqidah salaf. Karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata, “tak ada aibnya orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menisbahkan diri kepadanya, dan mengasalkan diri kepadanya. Bahkan wajib menerima hal itu darinya menurut kesepakatan (ulama’), karena madzhab salaf, tidak ada, kecuali benar”. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (4/149)]

v Salahkah Ahlus Sunnah (Salafiyyun) ketika Mereka Men-tashnif (mengelompokkan) Manusia ?

Penulis Beda Salaf dengan “Salafi” (BSDS) telah menuduh Salafiyyun secara keji ketika ia menjelaskan tugas Iblis(12) yang diemban oleh para salafiyyun –menurut sangkaan buruk dan kejinya-. Apa tugas Iblis tersebut? Tugas Iblis adalah men-tashnif: mengklasifikasi manusia.(13) Jadi, menurutnya tak boleh seorang menyatakan fulan Tabligh, Ikhwanul Muslimin (IM), Salafiyyun, Shufiy, Syi’ah, Wahdah Islamiyyah (WI), dan lainnya

Silakan dengarkan Penulis BSDS menjelaskannnya tugas Iblis yang dimaksud dalam BSDS (hal.45) di bawah sub judul “Tugas Iblis“ , “Apa pekerjaan pokok yang menyatukan mereka dan dengannya mereka dikenali?”.

Kemudian si Penulis sendiri yang menjawab, “Jawab: Tugas utama mereka adalah (mengklasifikasikan manusia)berdasarkan hawa nafsu dan was-was. Itulah yang menjadi kesibukan di setiap majelis dan tempat-tempat berkumpul mereka(14) serta menjadi pekerjaan rutin mereka dengan segala kesungguhan dan potensi diri yang dimiliki tanpa memandang orang selainnya itu baik”. [Lihat BSDS (45)]

Sejak dahulu sampai sekarang para ulama kita masih terus memberikan label bagi kelompok-kelompok sesat, bahkan kelompok-kelompok sesat itu sendiri yang melabeli dirinya.

Perlu kami jelaskan bahwa kata tashnif ditinjau secara bahasa, maka ia bermakna :”Membedakan sesuatu, sebagiannya dari sebagian yang lain”.(15)

Tashnif (membedakan dan mengelompokkan manusia), ini bisa kita dapatkan dalam Kitabullah, As-Sunnah, atsar para salaf.

Bukankah kita kita dapati dalam Kitabullah bahwa Allah -Ta’ala- membagi manusia: mukmin dan kafir, taat & suka maksiat, muslim & munafiq. Bahkan orang mukmin dan kafir dibagi lagi.

Dalam Sunnah kita dapati Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- membagi manusia : mukmin dan kafir, taat & suka maksiat, muslim & munafiq. Bahkan orang mukmin dan kafir dibagi lagi. Yang mukmin ada yang ahlus sunnah & ahli bid’ah. Ahli bid’ah terbagi lagi. Karenanya kita akan dapati Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan golongan Al-Qodariyyah,
القدرية مجوس هذه الأم
“Al-Qodariyyah majusinya ummat ini”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4691). Di-hasan-kan oleh Muhaddits Negeri Syam Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy-rahimahullah- dalam Zhilal Al-Jannah (338)]

Demikian pula dalam sunnah disebutkan ciri dan anjuran memerangi orang-orang Khawarij(16)

Sejak dulu para ulama kita telah membedakan ini Mu’tazilah, ini Shufiyyah, ini Murji’ah, ini Khawarij, dan ini Syi’ah sehingga istilah-istilah ini terkenal sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Hazm –misalnya- dalam Al-Fishol fil Milal wal-Ahwaa’ wa An-Nihal, Abdul Qohir Ibn Muhammad Al-Baghdady dalam Al-Farq bainal Firoq, Asy-Syahrostany dalam Al-Milal Wa An-Nihal. Demikian pula ulama’-ulama’ mutakhirin pun menggunakan istilah-istilah untuk jama’ah dakwah agar bisa dibedakan dari dakwah Ahlus Sunnah. Misalnya, Syaikh Ibn Baz, Syaikh Al-Albany dalam berbagai kitab dan kasetnya, Syaikh At-Tuwaijiry dalam At-Tahdzir Al-Baligh min Jama’ah At-Tabligh, Syaikh Al-Fauzan dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah, Syaikh Ahmad An-Najmy-hafizhohumullah- dan lainnya.

Nah, Apakah menggunakan istilah-istilah (seperti Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Hizbut Tahrir dan lainnya) terlarang sementara para ulama kita memakainya dalam rangka membedakan mereka dari pengikut dakwah salaf??

Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily –hafizhohullah- berkata setelah menerangkan asal kata Salafiyyun, “Dengan ini, nyatalah bahwa penggunaa nama ini (yaitu, nama Salafiyyun,pent)bagi Ahlus Sunnah adalah sesuatu yang syar’i dan kembali -pada asal maknanya- kepada nama-nama mereka (Ahlussunnah) yang Syar’i. Seperti: Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Ath-Tho’ifah Al-Manshuroh, Al-Firqoh An-Najiyah untuk membedakan antara mereka (Ahlus Sunnah-Salafiyyun, pen) dengan orang-orang yang menisbahkan diri kepada Islam dari kalangan orang-orang yang menyimpang dari aqidah yang benar yang Rasul –Shollallahu alaihi wasallam- meninggalkan ummatnya da atasnya.Karenan ini, para ulama’ muhaqqiqin telah menyebutkan bahwa istilah Salafhanyalah muncul ketika terjadi perselisihan seputar prinsip-prinsip agama diantara kelompok-kelompok ahli kalam, dan semuanya berusaha menisbahkan diri kepada As-salaf Ash-sholih(17). Maka hal ini mengharuskan munculnya kaedah-kaedah yang jelas bagi manhaj salaf yang akan membedakannya dari orang yang mengaku menisbahkan diri kepada Salafiyyah (manhaj salaf)” (18).

Sekali lagi, Apakah membedakan kelompok-kelompok yang ada dengan memberi label kepada mereka dengan menggunakan kata Ikhwani, Tablighi, Tahriri, WI, NII bagi kelompok-kelompok yang menyimpang dari rel Salaf merupakan perkara yang salah??

Jawabnya, tentu tidak berdasarkan amaliyyah ulama’. Bahkan Nabi–Shollallahu alaihi wasallam- juga membedakan ini muslim, itu kafir dan beliau juga pernah bersabda dalam memberi label kepada orang-orang yang mengingkari takdir:“Al-Qodariyyah: majusinya ummat ini…”.(19)

Jika kita tidak memberi label kepada kelompok da’wah sufiyyah modern (baca: Jama’ah Tabligh), kepada kelompok da’wah Neo Mu’tazilah(baca: HT) dan lainnya, maka kapankah umat tahu kawan dan lawan mereka. Apakah setelah mereka terjerat dalam kesesatan kelompok-kelompok itu, baru kita berteriak-teriak kepanikan !!

Dulu ketika kami masih di Wahdah Islamiyyah, kami sering kali mendengar kata “ MANIS ”(20), Jama’ah Tabligh, IM, HT, dan lainnya dari mulut para pengikut WI dan para ustadznya. Bahkan label “MANIS” mereka jadikan bahan untuk menyudutkan Salafiyyun. Bukankah ini juga tashnif?? Mengapa justru fenomena tashnif ini malah diarahkan dan dituduhkan kepada orang lain tanpa hujjah. Ingat, jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tidak satu pun tuduhan itu terbukti.

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]

Kalian nyuruh orang agar tidak melakukan tashnif, tapi kalian sendiri men-tashnif manusia. Wallahi, hadza lasyai’un ujaab!!

Jika seorang men-tashnif jama’ah-jama’ah yang menyimpang, apakah ini keliru, dan dimana letak kekeliruannya. Maka kami akan katakan kepada anda sebagaimana yang dikatakan Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah-, ”Jika engkau beradu argumen dengan salah seorang dari mereka, maka engkau tidak akan menemukan apapun darinya kecuali sepotong semangat yang menggerakkannya tanpa landasan ilmu yang jelas. Maka ia pun masuk ke dalam akal orang-orang bodoh dengan semboyan “ghirah terhadap dien”, “menolong sunnah”, dan “persatuan ummat”.(21) Padahal merekalah yang pertama kali yang mengayunkan palu godam untuk menghancurkan dan mengoyak-ngoyak keutuhannya…” (22)

Adapun nukilan Penulis berupa larangan men-tashnif manusia dari Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya Tashnif An-Naas baina Azh-Zhonni wal Yaqin, maka ada baiknya kita dengarkan komentar dua orang ulama’ kita tentang kitab Syaikh Bakr ini sehingga kita bisa mengetahui bobot pandangan Syaikh Bakr:

Al-Allamah Muhaddits Ad-Diyar Al-Yamaniyyah, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy As-Salafiy -rahimahullah- berkata, “Risalah Saudara kami Bakr bin Abdillah Abu Zaid “Tashnif An-Naas baina Azh-Zhonni wal Yaqin ” teranggap sebagai sesuatu yang paling jelek beliau tulis. Kebanyakan diantara tulisannya –Alhamdulillah- teranggap sebagai tulisan yang paling baik. Semoga Allah membalasinya dengan kebaikan”.[Lihat Nasho’ih wa Fadho’ih (hal.112) karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy Al-Atsariy, cet. Maktabah Shon’a’ Al-Atsariyyah, 1425 H]

Kenapa kitab tersebut dinilai demikian oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy Al-Atsariy ??! Jawabnya: kita dengarkan Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholiy -hafizhahullah- memberikan perincian yang lebih panjang saat beliau berkata mengingkari Syaikh Bakr dalam bentuk dialog, “Sesungguhnya aku melihat asap kebakaran yang mengepul bagaikan awan hitam yang tebal dari kitabmu Tashnif An-Naas, dan surat selebaranmu yang melanggar ini. Maka kitabmu Tashnif An-Naas, di dalamnya terdapat penyelisihan terhadap sabda Rasul yang Mulia -Shollallahu ‘alaihi wasallam,

افترقت اليهود على إحدى أو ثنتين وسبعين فرقة و افترقت النصارى على ثنتين وسبعين فرقة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة , كلها في النار إلا واحدة قالوا: من هي يا رسول الله؟ قال من كان على ما أنا عليه وأصحابي
“Orang-orang Yahudi telah berpecah menjadi 72 golongan. Orang-orang Nashroni berpecah menjadi 72 golongan. Ummatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka, kecuali satu”. Mereka (para sahabat) berkata, “Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang berada di atas sesuatu yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” “.(23)

Para salaf telah menggolong-golongkan manusia ke dalam (beberapa golongan, seperti):Khawarij, Rofidhoh, Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah. Mereka membagi setiap firqoh (golongan) menjadi beberapa golongan. Telah ditulis beberapa kitab dalam hal itu berdasarkan realita golongan-golongan itu”. [Lihat Al-Hadd Al-Fashil (hal.140-141), karya Syaikh Robi’ Al-Madkholiy, cet. Maktabah Al-Furqon, 1421 H]

Selain itu, kitab Tashnif An-Naas sebenarnya bisa dipukulbalikkan kepada para hizbiyyun yang suka mencela ulama’ Ahlus Sunnah –semisal Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albaniy Syaikh Robi’, Syaikh Muqbil – dan suka mencela pemerintahnya, bahkan ingin memberontak.

v Memangkah Salafiyyun Mencela?

Penulis BSDS dalam beberapa tempat telah menuduh Salafiyyun mencela, benarkah demikian?

Penulis BSDS berkata, “Bendera tersebut dibawa oleh sekelompok orang yang menipu dari orang-orang yang mengaku salafi. Mereka menampakkan diri di hadapan manusia dengan penampilan seolah-olah mencuplik ilmu para ulama dan mutiara hikmah orang-orang bijak. Tampak dengan pakaian kebesaran dalam peribadatan yang menipu, mereka beralasan ini adalah sebuah nasihat dan kritik yang membangun serta untuk meluruskan kesalahan. Akan tetapi, sebenarnya adalah celaan dan hinaan sehingga mereka pun tersesat“.[Lihat BSDS (hal.23)](24)

Jika yang dimaksudkan mencela adalah meng-ghibah, dan mencaci-maki, maka ini tak benar. Namun jika yang dimaksud mencela adalah mengingkari kemungkaran para hizbiyyun, dan ahli bid’ah secara umum, maka ini memang benar, karena ini termasuk amar ma’ruf nahi mungkar.

Sebagian orang-orang yang lemah hatinya dan sedikit ilmunya akan sempit dadanya ketika menelaah kitab-kitab yang berisi bantahan. Ini didasari bahwa menjauhi bantah-membantah merupakan jalan yang paling dekat kepada waro’, dan lebih menjaga kehormatan kaum muslimin.

Namun jika seseorang mau sedikit meneliti sejarah perjalanan para ulama’ kita, maka hal itu akan mengabarkan anda bahwa tak ada suatu zaman pun yang kosong dari bantahan atas mukholif (orang menyelisihi kebenaran), walaupun ia (orang yang dibantah) adalah orang pilihan.(25)

Tatkala hampir semua kelompok-kelompok hizbiyyah berusaha menguburkan perkara an-naqd adz-dzati (bantahan atas person tertentu), menggugurkan amar ma’ruf nahi munkar, dan mengosongkan pertahanan kaum muslimin. Terkadang dengan dalih “menutupi aib kaum muslimin”, mengumpulkan makar bagi orang-orang kafir, dan lainnya diantar hujjah-hujjah yang didasari oleh perasaan yang menjadikan akal-akal mereka tercekoki di saat lemahnya ilmu. Semua ini mengharuskan kita untuk mengembalikan kebenaran pada tempatnya.

“agar dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)”. (QS. Al-Anfaal: 42).

Syaikh Bakr Ibn Abdillah Abu Zaid -hafizhahullah- berkata, “Orang-orang yang bersilat lidah demi mengingkari naqd (bantahan) terhadap kebatilan –walaupun sebagian diantara mereka nampak kesholehan-, tapi semua ini adalah bentuk lemahnya semangat, kurang memahami kebenaran. Bahkan pada hakikatnya, itu adalah bentuk larinya seseorang dari medan laga di hari peperangan; lari dari daerah pertahanan agama Allah. Ketika itu orang yang terdiam dari ucapan kebenaran laksana orang yang berbicara dengan kebatilan dalam dosa.

Abu Ali Ad-Daqqoq berkata, “Orang yang terdiam dari kebenaran adalah setan bisu; orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”.

Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah mengabarkan tentang berpecahnya ummat ini menjadi 73 golongan. Keselamatan darinya bagi satu golongan yang berada di atas manhaj kenabian.

Apakah orang-orang yang mengingkari boleh memberikan pengingkaran dan bantahan kepada orang-orang yang menyimpang; apakah mereka ini menjadikan ummat ini menjadi satu golongan saja. Padahal terjadi perbedaan aqidah yang saling kontradiksi; ataukah itu adalah propaganda untuk mencerai-beraikan kalimat tauhid. Waspadailah !!

Mereka tak punya hujjah, selain lontaran ucapan-ucapan batil, “Jangan kalian memecah barisan dari dalam”(26) , “Jangan kalian menghamburkan debu di luar”(27) , “Jangan kalian mengobarkan khilaf di natara kaum muslimin!”, “Kita bersatu dalam perkara yang kita sepakati, dan saling memaafkan dalam perkara yang kita perselisihkan”. Demikianlah halnya.

Iman yang paling rendah, kita katakan kepada mereka, “Apakah para pelaku kebatilan itu mau diam afar kita juga bisa diam; ataukah mereka menyerang aqidah di depan mata dan pendengaran kita, lalu kita diminta diam? Ya Allah, ini tak mungkin !!”

Kami memohon perlindungan kepada Allah bagi setiap muslim dari serangan hujjah orang-orang Yahudi. Mereka (orang-orang Yahudi) berselisih (berpecah-belah) tentang Al-Kitab, dan menyelisihi Al-Kitab. Sekalipun demikian mereka berusaha menampakkan persatuan dan kebersamaan. Namun Allah -Ta’ala- telah mendustakan mereka seraya berfirman,

“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu Karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. (QS. Al-Hasyr:14).

Diantara sebab mereka dilaknat, apa yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya,

“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat”. (QS. Al-Maa’idah:79)” . Selesai ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah-.(28)

Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah- berkata lagi,“Oleh karena ini, Jika Anda melihat ada orang yang membantah orang menyelisihi (kebenaran, -pent) dalam hal keganjilan fiqih, atau ucapan bid’ah, maka bersyukurlah kepadanya atas pembelaannya, sesuai kemampuannya. Janganlah engkau menggembosinya dengan ucapan yang hina ini, (”Kenapa orang-orang sekuler tak dibantah?!“). Manusia masing-masing memiliki kemampuan dan bakat (29) , sedang membantah kebatilan adalah wajib (bagi setiap orang,-pent), walaupun bagaimana tingkatannya. Setiap muslim berada dalam batas pertahanan agamanya”. [Lihat Ar-Rodd ala Al-Mukholif (hal.57), dan Sittu Duror (hal.111)]

Memberikan peringatan sesatnya suatu kelompok , baik dalam bentuk ceramah, maupun tulisan, itu bukanlah ghibah yang diharamkan. Boleh menyebutkan kesesatan seseorang, dan penyimpangannya di depan orang banyak, jika kemaslahatan menuntut hal itu.

Ibrahim An-Nakho’iy-rahimahullah- berkata, “Tak ada ghibah bagi pelaku bid’ah (ajaran baru)”. [Lihat Sunan Ad-Darimiy (394)]

Muhammad bin Bundar As-Sabbak Al-Jurjaniy-rahimahullah- berkata, “Aku berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Sungguh amat berat aku bilang, “si Fulan orangnya lemah, si fulan pendusta”.Imam Ahmad berkata, “Jika kau diam, dan aku juga diam, maka siapakah yang akan memberitahukan seorang yang jahil bahwa ini yang benar, dan ini yang sakit (salah)”. [Lihat Thobaqot Al-Hanabilah (1/287)]

Sekali lagi kami nyatakan bahwa mengingkari penyimpangan, dan kekeliruan sebuah kelompok atau person bukanlah celaan atau ghibah. Tapi ia merupakan nasihat yang akan menjaga kemurnian Islam dari tangan-tangan jahil. Andaikan pengingkaran seperti ini tak ada, maka hancurlah agama yang suci ini, dan dunia ikut menjadi binasa.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam”. (QS. Al-Baqoroh: 251 )..

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Hajj: 40).

=====================

Footnote :

(1) Adapun kitab ini, maka ia telah dibantah tuntas oleh Ustadz Dzul Qornain dalam kitabnya “Meraih Kemulian Melalui Jihad, bukan Kenistaan”, dan Ustadz Luqman Ba’abduh dalam “Mereka itu adalah Teroris”. Jazahumallah khoiron.

(2) Dua kitab ini telah dibantah oleh Ustadz Luqman Ba’abduh -hafizhahullah- dalam kitabnya “Menebar Dusta, Membela Teroris-Khawarij”.

(3) Selain itu, seorang yang tak mau menyebutkan identitasnya telah mengirim SMS kepada sebagian salafiyyun dengan membanggakan kitab itu. Di lain tempat lagi, seorang anggota Wahdah Islamiyah (WI) juga “perang” dengan seorang ikhwah salafiy lewat SMS dengan bersenjatakan buku ini. Dengan bangganya, mereka menebar syubuhat di kalangan salafiyyun. Sedang Cordova Agency (milik anggaota WI) menyebarkan buku ini dalam rangka menyebar syubhat. Mereka telah ta’awun di atas dosa dan permusuhan. Nas’alullahal afiyah was salamah.

(4) Selanjutnya kami sebut dengan “BSDS“

(5) Selanjutnya kami sebut dengan Penulis.

(6) Dari sini kita tahu bahwa yang dimaksudkan oleh Penulis dengan pengaku salafi adalah ulama salafiyyah, seperti Syaikh Al-Albaniy, Muqbil Al-Wadi’iy, Robi’, serta murid-murid mereka atau ulama’ salafiyyun secara global dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebenaran. Mereka inilah yang gigih menjelaskan aqidah, dan mengingatkan ummat tentang penyimpangan hizbiyyah dan ahli bid’ah sampai Penulis berang dan emosi melihat usaha baik mereka ini. Akhirnya, ia ingin menutupi kebaikan para ulama itu dengan menulis buku BSDS-nya yang penuh dengan tuduhan keji seperti yang Anda akan lihat, Insya’ Allah !! Kenapa ia menulisnya? Yah, untuk membela Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, Salman, Safar Al-Hawaliy, A’idh Al-Qorniy, dan hizbiyyun secara umum.

(7) Kami tak mau mengatakan bahwa Penulis menipu, sebab nanti dianggap lagi suka mencela. Sekalipun tak ada salahnya jika kita mau katakan demikian sebagaimana yang dilakukan oleh Penulis dalam beberapa tempat dalam kitabnya itu.

(8) Tapi di lain sisi, usai melarang orang “mencela”, eh malah ia balik “mencela” sebagaimana Anda akan melihat hal itu dalam tulisan ini..

(9) Insya’ Allah -Ta’ala- kami akan membantah pernyataan Penulis yang melarang manusia men-tashnif dalam pembahasan-pembahasan berikut.

(10) Tashnif semacam ini juga dilakukan oleh sebagian da’I hizbiyyah yang membagi salafiyyun menjadi dua: salafi haraki, dan salafi Yamani. Yah, sekalipun pembagian ini batil menurut kaedah as-sabr wat taqsim!! Namun demikianlah realita mereka; melarang orang lain melakukan tasbnif, tapi malah mereka adalah gem dan dedengkotnya pelaku tashnif.

Allah -Ta’ala- berfirman,

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (QS. Al-Baqoroh:44 ).

(11) Benar sekali apa yang dinyatakan oleh beliau !! Tak mungkin Ahlus Sunnah (baca: Salafiyyun) akan bergabung dengan Khawarij, yaitu orang-orang senang memberontak kepada pemerintahnya, baik berupa demo, celaan terhadap pemerintah, perlawanan bersenjata di hadapan penguasa. Tak mungkin Salafiyyun akan bersatu dengan Tabligh yang gandrung sufiyyah, atau HTI, At-Turots, IM dan lainnya yang senang mencela pemerintah, dan mendemo mereka.

(12) Menuduh Salafiyyun mengemban tugas Iblis, ini adalah salah satu tanda bahwa Penulis Memiliki Lisan yang Tajam dalam Mencela Orang. Masak para salafiyyun dianggap membawa tugas Iblis. Nanti kita lihat –insya’ Allah- siapakah yang mengemban misi Iblis ??

(13) Adapun seorang da’i Wahdah Islamiyyah (Muhammad Ihsan Zainuddin) yang getol menyudutkan salafiyyun secara zholim, maka ia berkata dalam mendefinisikan kata tashnif dalam sebuah artikel yang berjudul Fenomena Tashnif di Tengah Para Pejuang Da’wah (1), “Fenomena pemberian label dan cap kepada orang lain”.[Lihat Majalah Islamy (2/1/1426 H) (hal.48)]

(14) Saya khawatir jika ini adalah pekerjaan si Penulis BSDS dalam segala majelis dan keadaannya sehingga ia bisa mengeluarkan kitab BSDS !! Lempar batu sembunyi tangan. Penulis BSDS dalam kitabnya ini telah men-tashnif salafiyyun ke dalam 6 kelompok sebagaimana Anda bisa lihat dalam BSDS (hal. 71-72) ketika ia membagi salafiyyun menjadi: Al-Hasadah, Al-’Uqdah, Al-Murtaziqoh, Al-Muqollidun, Al-Makhdu’un, dan An-Naqimun. Ini adalah bukti autentik bahwa Penulis BSDS sendiri ikut men-tashnif manusia. Ingat, jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tidak satu pun tuduhan itu terbukti.

Fa’tabiruu ya ulil abshor !!

(15) Lihat Mu’jam Maqooyiis Al-Lughoh, hal.554 karya Abul Husain Ibn Faris cet. Dar Ihya’ At-Turoots Al-Aroby, dan Lisan Al-Arab (7/423) cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Araby dan Mu’assasah At-Tarikh Al-Araby. Adapun seorang da’i Wahdah Islamiyyah (Muhammad Ihsan Zainuddin) yang getol menyudutkan salafiyyun secara zholim, maka ia berkata dalam mendefinisikan kata tashnif dalam sebuah artikel yang berjudul Fenomena Tashnif di Tengah Para Pejuang Da’wah (1), “Fenomena pemberian label dan cap kepada orang lain”.[Lihat Majalah Islamy (2/1/1426 H) (hal.48)]

(16) Misalnya lihat Shohih Al-Bukhoriy (Kitab Istitab Al-Murtaddin: bab Qotlil Khawarij wal Mulhidin ba’da Iqomah Al-Hujjah alaihim),Shohih Muslim (Kitab Az-Zakah: bab Dzikr Al-Khawarij wa Shifatuhum), Sunan Abi Dawud (Kitab As-Sunnah; bab Al-Khawarij), Sunan At-Tirmidziy (Kitab Al-Fitan: bab Fi Shifah Al-Khawarij), Sunan An-Nasa’iy (Kitab Tahrim Ad-Dam; bab Man Syahhar Saifah Tsumma Wadho’ah fin Naas), Sunan Ibni Majah (Fadhl Ibni Abbas: bab Dzikr Al-Khawarij)

(17) Para sahabat, Tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

(18) Lihat Mauqif Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah (1/64)

(19) HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4691). Di-hasan-kan oleh Muhaddits Negeri Syam Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy-rahimahullah- dalam Zhilal Al-Jannah (338)

(20) Singkatan dari Markaz An-Nasyath Al-Islamiy. Orang yang menyingkatnya bukan Salafiyyun. Yang sering menyingkat demikian adalah orang-orang WI,!! Markaz An-Nasyath Al-Islamiy dahulu adalah yayasan yang didirikan oleh Salafiyyun di Makassar sebagai wadah dalam mempermudah urusan dakwah. Salafiyyun tak pernah menisbahkan diri kepada MANIS. Ketika salafiyyun ditanya, antum ikut kajian apa atau dari mana? Jawabnya tidak menyatakan kami dari MANIS. Yang menisbahkan Salafiyyun kepada MANIS (Markaz An-Nasyath Al-Islamiy) adalah orang-orang YWI dalam menyudutkan Salafiyyun di Makassar. Kebanyakan Salafiyyun tak kenal apa itu MANIS, kecuali setelah dimasyhurkan oleh YWI. Para da’I salafiyyun tidak mengenal selain istilah Salafiy atau Atsariy. Mereka hanya menisbahkan diri kepadanya. Ketika ditanya, apa madzhab dan manhaj antum. Mereka jawab, kami adalah salafiy atau atsariy.

(21) Sampai ada diantara mereka, masjidnya pun disebut dengan “ Wihdatul Ummah” (Persatuan Ummat). Sekalipun demikian, merekalah yang pertama kali mengayunkan palu godam atas ummat ini. Buktinya, mereka mengajak ummat untuk berdemo sebagai tanda pembangkangan mereka kepada pemerintah muslim. Mereka melarang anak-anak untuk kajian ke tempat lain sekalipun kajian pada salafiyyin. Bukankah ini merupakan pemecahbelahan ummat? Jelas ini pemecahbelahan ummat, bahkan juga tashnif. Yang satunya bilang: “kami Wahdah Islamiyyah”, yang lain bilang, “Kami Hizbut Tahrir”; yang lain lagi bilang, “Kami Tabligh”, dan satu lagi bilang, “Ikhwanul Muslimin”. Satu sama lainnya saling melarang anak kajiannya untuk bergabung dengan yang lainnya karena takut -alasannya- kalau anak kajiannya “direbut” (baca: dirampas) orang. Bukankah semua ini tashnif !!?fa’tabiruu ya ulil abshor

(22) Lihat Majalah Al-Islamy (2/I/1426 H, hal.54)

(23) HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2641), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (444), Ibnu Wadhdhoh dalam Al-Bida’ wa An-Nahyu anha (hal.15-16), Al-Ajurriy (16), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’ (2/262/no.815), Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam As-Sunnah (hal.18), Al-Lalika’iy dalam Syarh Al-I’tiqod (147), dan Al-Ashbahaniy dalam Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah (1/107). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy Al-Atsariy dalam Basho’ir Dzawisy Syarof (hal.75), cet. Maktabah Al-Furqon, UEA.

(24) Perhatikan Penulis telah mencap salafiyyun dengan kesesatan !! Bukankah ini adalah celaan ?! Fa’tabiru ya ulil abshor.

(25) Tapi tentunya dengan cara hikmah (bijak), sebab salafiyyun tahu berbuat bijak, bukan seperti yang dituduhkan oleh kaum hizbiyyun bahwa mereka (Salafiyyun) adalah kaum yang jahil, tidak memiliki fikih dalam mengingkari. Malah kaum hizbiyyun sebenarnya yang jahil, tak berhikmah. Lihat saja ketika mereka menasihati penguasa, mereka menyelisihi manhaj salaf !!

(26) Istilah kita, “Jangan mengguting dalam lipatan”

(27) Istilah kita, “Jangan mengacaukan suasana”, “Jangan memancing di air keruh”

(28) Lihat Ar-Rodd ala Al-Mukholif min Ushul Al-Islam (hal.75-76) karya Syaikh Abu Zaid, dan Sittu Duror min Ushul Ahlil Atsar (hal. 109-110) karya Syaikh Abdul Malik Romadhoniy Al-Jaza’iriy.

(29) Maksud beliau bahwa jika ada orang yang membantah pelaku kebatilan, yah itulah kemampuan dan kesempatannya. Lalu kenapa tidak membantah orang-orang sekuler, yah serahkan kepada yang lain lagi, yang memiliki kemampuan membantah orang-orang sekuler !! Wallahu A’lam .

Sumber: http://almakassari.com/?p=238#more-238

Labels:


Baca Artikel Selengkapnya…!
posted by ibn sarijan @ 9:30:00 PM  
   Benarkah Salafiyun Hanya Menyibukkan Diri Dalam Pembicaraan Masalah Hizbiyyah?

BENARKAH SALAFIYUN HANYA MENYIBUKKAN DIRI

DALAM PEMBICARAAN MASALAH HIZBIYYAH?*)

(Bantahan Terhadap Saudara Al-Banna -Hizbi Khobits-)**)


Tanya (Ustadz Wildan) :

Apa pendapat Anda tentang perkataan sebagian da’i yang menyatakan tidak seyogyanya bagi para penuntut ilmu menyibukkan diri mereka dengan membicarakan al-hizbiyyah, aljam’iyyah al-hizbiyyah dan al-hizbiyyun melainkan seyogyanya bagi mereka memfokuskan diri mereka terhadap masalah-masalah aqidah dan ilmu-ilmu yang lainnya?

Jawab (Syaikh Kholid) :

Siapa yang mengatakan as-Salafiyyun itu disibukkan dengan perkara ini saja. Alhamdulillah dakwaah salafiyyah telah melahirkan para Ulama… (ada perkataan yang tidak jelas) ….Mereka, as- Salafiyyun adalah orang-orang yang antusias terhadap ilmu dan orang-orang yang paling disibukkan dengan ilmu, akan tetapi ini (masalah tahdzir) merupakan pintu yang tidak dijauhi kecuali oleh seorang mubtadi’ atau seorang hizby yang busuk. Dan ini merupakan pintu yang dijadikan oleh as-salafiyyun sebagai pagar yang memagari manhaj mereka. Dan ini telah mereka warisi dari para salaf ash- Shalih dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pagar ini tidak seyogyanya diremehkan (yaitu at-Tahdzir terhadap al-hizbiyyah dan al-hizbiyyun). As-Salafiyyun merupakan orang yg paling antusias memperhatikan waktu-waktu mereka dalam menuntut ilmu. Ketika mereka menyebutkan hal-hal ini (yaitu al-hizbiyyun) mereka menyebutkan mereka untuk mentahdzir mereka dan menjelaskan kebatilan yg ada pada diri mereka. Silakan lihat perkataan yg indah dan mutiara salafiyyah yg sangat indah yang disebutkan oleh al-Imaam Ibnu Qayyim di dalam kitabnya Al-Fawaaid. Engkau baca perkataan ini, beliau sebutkan ketika beliau menjelaskan Firman Allah Ta’ala: “Akan jelas jalan orang-orang yg jahat “...(ada perkataan yg tidak jelas) …. Jalan orang-orang yang jahat itu bermacam-macam, begitupula metode-metode mereka bermacam-macam dan Ibnu Qayyim menjelaskan, yang wajib bagi seorang Muslim terhadap orang-orang yang jahat tersebut yang merusak aqidah manusia manhaj mereka dan dakwah mereka. Maka as-Salafiyyun, dengan rahmat Allah, adalah orang-orang yang disibukkan dengan ilmu sedangkan mereka (alhizbiyyun) adalah orang-orang yang menanamkan kegemaran pada para syabaab ttg anasyid-anasyid, main bola dan sandiwara-sandiwara dan perkara-perkara yang lainnya. Tidak menelorkan tholibul ilmu dan tidak pula mereka antusias untuk menuntut ilmu dari sumbernya. Subhaanallah, jadi mereka adalah orang-orang yang paling banyak menghabiskan waktu mereka dalam perkara-perkara yang telah kami sebutkan tadi yaitu dalam perkara-perkara yang batil yang menghabiskan waktu mereka. As- Salafiyyun ketika mereka mentahdzir mereka tidak berbicara tentang tahdzir ini sekedar berbicara, melainkan tahdzir tersebut merupakan pagar dan juga merupakan upaya membentengi dan melindungi al-manhaj as-salafiy dan tadi telah saya sebutkan kepada kalian bahwa ini merupakan kebiasaaan para as-salaf. Sebagaimana dikatakan oleh Ruwaifi’, “Kami mendatangi Abul ‘Aliyah pada waktu itu kami adalah pemuda yang masih muda belia dimana kami ditahdzir oleh Abul ‘Aliyah untuk mendatangi para al-Qushash (tukang cerita). Ini adalah kebiasaan para as-Salaf. Aspek tahdzir merupaka aspek yg penting ia merupaka pagar. Adapun tindakan membiarkan para syabaab begitu saja tidak dijelaskan kepada mereka hakikat/tentang apa yang harus dilakukan sehingga seorang Syabaab pergi dan mengambil ilmu dari sembarang orang dan kita dikejutkan dengan bid’ah-bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan manhajiyah yang terjadi bahkan ada diantara mereka yang memerangi ad-da’wah as-salafiyyah dengan peperangan yang membinasakan dan bentuk peperangan yang dahsyat. Dan syubhat ini adalah syubhat yang ditiupkan oleh orang-orang yang lemah mental dan jiwanya yaitu orang yang mengatakan “tidak perlu kita berbicara ttg orang-orang kafir tsb, tidak perlu kita berbicara ttg individu-individu ini, tidak ada alasan bagi kita untuk mentahdzir mereka dan seterusnya. Al-Jarh wa at-Ta’dil merupakan pintu yang sangat penting sebagaimana yang kami katakana. Al-Jarh wa at-Ta’dil (salah satu cabang ilmu hadits tentang kritik/celaan dan pujian) untuk memelihara dan melindungi manhaj salafi dari orang-orang yg menyusupkan hal-hal yang tidak benar dari kalangan al-hizbiyyun yang merusak aqidah manusia dan merusak manhaj para syabaab dan menjadikan mereka menyimpang dengan penyimpangan yang berbahaya atau besar.

Catatan Kaki:

*) Judul dari Admin.

**)Al-Banna adalah nama seseorang yang memberikan komentar pada website kami. Komentar-komentarnya selalu menunjukkan pembelaan pada tokoh-tokoh Ikhwanul Muflisin.

Sumber: Tanya Jawab Al-Ustadz Wildan hafizahullah dengan Syaikh Kholid Ar-Radadi hafizahullah (Dosen Universitas Islam Madinah Al-Munawaroh, KSA) pada tanggal 17 Dzulhijjah 1423/ 19 February 2003.

www.abdurrahman.wordpress.com

Labels: ,


Baca Artikel Selengkapnya…!
posted by ibn sarijan @ 2:16:00 PM  

Dalam beberapa tahun ini telah tersebar terjemahan selebaran yang mengatasnamakan Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullah.Tak lain selebaran ini diterjemahkan dan disebarkan oleh Hizbiyun,Quthbiyun, Ikhwanul Muflisin baik melalui media elektronik maupun media lainnya. Inti dari selebaran ini adalah rasa ketidakpuasan Syaikh Bakr Abu Zaid terhadap Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholiy hafizahullah karena kritikan beliau (Syaikh Robi’) terhadap Sayyid Quthb. Dan ketika Syaikh Robi’ hafizahullah mempertanyakan kepada Syaikh Bakr Abu Zaid perihal selebaran ini, maka Syaikh Bakr menjawab sebagai berikut:”Mereka (Hizbiyun) menghendaki perpecahan diantara dua orang yang saling mencintai”. Maka lihatlah wahai hizbi, dimana kalian letakkan wajah-wajah kalian dengan jawaban syaikh rahimahullah ini!! Inilah jawaban Syaikh rahimahullah terhadap selebaran yang engkau sebarkan dengan mengatasnamakan nama beliau rahimahullah. Ketahuilah, bahwasanya Syaikh rahimahullah tidak ridlo dengan tersebar dan digandakannya selebaran ini, hal ini sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholiy.

فقد صدرت أربع ورقات قبل سنوات نسبت إلى الشيخ بكر أبو زيد فلما سألته عنها تبرم بها وبمن نشرها، وقال لي: هؤلاء يريدون أن يفرقوا بين الأحبة. وسأله عنها الشيخ زيد بن محمد بن هادي المدخلي فسب من ينشرها، واعتذر لدى آخرين أنها سرقت منه ونشرت من غير رضاه. وإلى الآن لم يعترف بها رسميا ولم يرض عن طبعها ونشرها، فهي إذن بمثابة لقيط ليس لها أب شرعي

IKLAN
Tajwid
RADIO ONLINE
SYAIKH FALAH MANDAKAR
s.flahmondekar-alt...
ARCHIVE
ADMIN

SEARCHING
LARANGAN TAQLID

Berkata Imam Malik rahimahullah: "Tidak seorangpun - setelah Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam- kecuali dapat diterima dan ditinggalkan pendapatnya kecuali Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam" (Dikeluarkan oleh: Abdul Bar dalam Al-Jami' 2/91; Ibn Hazm dalam Ushul Al-Ahkam 6/135 dan 179).

ARTIKEL TERBARU
  Membongkar Kedok Jama'ah Tabligh
  Hukum Bergabung Dgn Firqoh-firqoh Untuk Memperbaik...
  Memang Harus Beda Antara SALAFIYYAH Dengan HIZBIYY...
  Benarkah Salafiyun Hanya Menyibukkan Diri Dalam Pe...
  Bahaya Pemikiran Sayyid Quthb
  Kesesatan-kesesatan Dr. Yusuf Qordlowi
  Menyingkap Bai'at Ala Ikhwanul Muslimin
  Mengenal Pendiri Ikhwanul Muslimin
  Bantahan Tafsir Mimpi Muhammad Ilyas
  Mengenal Pendiri Jama'ah Tabligh
KATEGORI
 Bantahan
 Ikhwanul Muslimin
 Jama’ah Tabligh
 Tokoh Jama’ah Tabligh
 Tokoh Ikhwanul Muslimin
KALENDER
BAHTERA ILMU
Al-‘Utsaimin; Fatawa Syaikh Al-Albani; Imam Al-Ajuri; Abdul Aziz Al-Bur’i; MUFTI KSA; Abdul Aziz Ar-Rojhi; Abdul Aziz Ar-Rois; Al-‘Ubaikan; Abdullah Salfiq; Robi’ Al-Madkholi; Abdul Rozaq Afifi; Abdus Salam Barjas; Al-Albani; Aman Al-Jami; Ibn Baaz; Muqbil bin Hadi; Sholih As-Suhaimin; Shulthon Al-Ied; Al-‘Utaibiy; Yahya Al-Hajuri; Sholih Fauzan; Zaid Al-Madkholi
RUANG SINGGAH

PENJELAJAH INTERNET
free hit counter
Pengunjung Online
RSS Web-Web Ilmiah

AHLUL AHWA’ © Rabi’ul Tsani 1429H – April 2008M Powered by Blogger | Template by Free Templates