<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063</id><updated>2011-04-21T20:58:44.663+03:00</updated><category term='Bantahan'/><category term='Tokoh Jama&apos;ah Tabligh'/><category term='Ikhwanul Muslimin'/><category term='Jama&apos;ah Tabligh'/><category term='Tokoh Ikhwanul Muslimin'/><title type='text'>للرد على جماعة الإخوان المسلمين و جماعة التبليغ بالأدلة والبراهين</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>11</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-5042852391953438742</id><published>2008-08-08T16:50:00.001+03:00</published><updated>2008-08-08T17:08:44.410+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bantahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Jama&apos;ah Tabligh'/><title type='text'>Membongkar Kedok Jama'ah Tabligh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MEMBONGKAR KEDOK JAMA'AH TABLIGH&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Al Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jamaah Tabligh tentu bukan nama yang asing lagi bagi masyarakat kita,terlebih bagi mereka yang menggeluti dunia dakwah. Dengan menghindari ilmu-ilmu fiqh dan aqidah yang sering dituding sebagai 'biang pemecah belah umat', membuat dakwah mereka sangat populer dan mudah diterima masyarakat berbagai lapisan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saking populernya, bila ada seseorang yang berpenampilan mirip mereka atau kebetulan mempunyai ciri-ciri yang sama dengan mereka, biasanya akan ditanya; ”Mas, Jamaah Tabligh, ya?” atau “Mas, karkun, ya?” Yang lebih tragis jika ada yang berpenampilan serupa meski bukan dari kalangan mereka, kemudian langsung dihukumi sebagai Jamaah Tabligh. Pro dan kontra tentang mereka pun meruak. Lalu bagaimanakah hakikat jamaah yang berkiblat ke India ini? Kajian kali ini adalah jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;~~~ Pendiri Jamaah Tabligh ~~~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah Tabligh didirikan oleh seorang sufi dari tarekat Jisytiyyah yang berakidah Maturidiyyah dan bermadzhab fiqih Hanafi. Ia bernama Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti Al-Kandahlawi kemudian Ad-Dihlawi. Al-Kandahlawi merupakan nisbat dari Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur. Sementara Ad-Dihlawi dinisbatkan kepada Dihli (New Delhi), ibukota India. Di tempat dan negara inilah, markas gerakan Jamaah Tabligh berada. Adapun Ad-Diyubandi adalah nisbat dari Diyuband, yaitu madrasah terbesar bagi penganut madzhab Hanafi di semenanjung India. Sedangkan Al-Jisyti&lt;br /&gt;dinisbatkan kepada tarekat Al-Jisytiyah, yang didirikan oleh Mu’inuddin Al-Jisyti. Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H. (Bis BriMusliman, hal.583, Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 144-146, dinukil dariJama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;~~~ Latar Belakang Berdirinya Jamaah Tabligh ~~~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan, ”Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan bernama dengan nama-nama mereka, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan&lt;br /&gt;tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut.” (Nazhrah 'Abirah I’tibariyyah Haulal Jama'ah At-Tablighiyyah, hal. 7-8, dinukil dari kitab Jama'atut Tabligh Aqa’iduha Wa Ta’rifuha, karya Sayyid Thaliburrahman, hal. 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan suatu hal yang ma’ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh, red) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;~~~ Markas Jamaah Tabligh ~~~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Markas besar mereka berada di Delhi, tepatnya di daerah Nizhamuddin. Markas kedua berada di Raywind, sebuah desa di kota Lahore (Pakistan). Markas ketiga berada di kota Dakka (Bangladesh). Yang menarik, pada markas-markas mereka yang berada di daratan India itu, terdapat hizb (rajah) yang berisikan Surat Al-Falaq dan An-Naas, nama Allah yang agung, dan nomor 2-4-6-8 berulang 16 kali dalam bentuk segi empat, yang dikelilingi beberapa kode yang tidak dimengerti. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lebih mengenaskan, mereka mempunyai sebuah masjid di kota Delhi yang dijadikan markas oleh mereka, di mana di belakangnya terdapat empat buah kuburan. Dan ini menyerupai orang-orang Yahudi dan Nashrani, di mana mereka menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang shalih dari kalangan mereka sebagai masjid. Padahal Rasulullah melaknat orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid, bahkan mengkhabarkan bahwasanya mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi.(Lihat Al-Qaulul Baligh Fit Tahdziri Min Jama’atit Tabligh, Allah karya Asy-Syaikh Hamud At-Tuwaijiri, hal. 12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;~~~ Asas dan Landasan Jamaah Tabligh ~~~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat teguh mereka pegang, bahkan cenderung berlebihan. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash- shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sifat Pertama:&lt;/span&gt; Merealisasikan Kalimat Thayyibah Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menafsirkan makna Laa Ilaha Illallah dengan: “mengeluarkan keyakinan yang rusak tentang sesuatu dari hati kita dan memasukkan keyakinan yang benar tentang dzat Allah, bahwasanya Dialah Sang Pencipta, Maha Pemberi Rizki, Maha Mendatangkan Mudharat dan Manfaat, Maha Memuliakan dan Menghinakan, Maha Menghidupkan dan Mematikan”. Kebanyakan pembicaraan mereka tentang tauhid, hanya berkisar pada tauhid rububiyyah semata (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal makna Laa Ilaha Illallah sebagaimana diterangkan para ulama adalah: “Tiada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah.” (Lihat Fathul Majid, karya Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh, hal. 52-55). Adapun makna merealisasikannya adalah merealisasikan tiga jenis tauhid; al-uluhiyyah, ar-rububiyyah, dan al- asma wash shifat (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, karya Abu Ibrahim Ibnu Sulthan Al-'Adnani, hal. 10). Dan juga sebagaimana dikatakan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan: “Merealisasikan tauhid artinya membersihkan dan memurnikan tauhid (dengan tiga jenisnya, pen) dari kesyirikan, bid’ah, dan kemaksiatan.” (Fathul Majid, hal. 75)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, Asy-Syaikh Saifurrahman bin Ahmad Ad-Dihlawi mengatakan bahwa di antara 'keistimewaan' Jamaah Tabligh dan para pemukanya adalah apa yang sering dikenal dari mereka bahwasanya mereka adalah orang-orang yang berikrar dengan tauhid. Namun tauhid mereka tidak lebih dari tauhidnya kaum musyrikin Quraisy Makkah, di mana perkataan mereka dalam hal tauhid hanya berkisar pada tauhid rububiyyah saja, serta kental dengan warna-warna tashawwuf dan filsafatnya. Adapun tauhid uluhiyyah dan ibadah, mereka sangat kosong dari itu. Bahkan dalam hal ini, mereka termasuk golongan orang-orang musyrik. Sedangkan tauhid asma wash shifat, mereka berada dalam lingkaran Asya’irah serta Maturidiyyah, dan kepada Maturidiyyah mereka lebih dekat”. (Nazhrah ‘Abirah I’tibariyyah Haulal Jamaah At- Tablighiyyah, hal. 46).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sifat Kedua:&lt;/span&gt; Shalat dengan Penuh Kekhusyukan dan Rendah Diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Hasan Janahi berkata: “Demikianlah perhatian mereka kepadashalat dan kekhusyukannya. Akan tetapi, di sisi lain mereka sangat buta tentang rukun-rukun shalat, kewajiban-kewajibannya, sunnah- sunnahnya, hukum sujud sahwi, dan perkara fiqih lainnya yang berhubungan dengan shalat dan thaharah. Seorang tablighi (pengikut Jamaah Tabligh, red) tidaklah mengetahui hal-hal tersebut kecuali hanya segelintir dari mereka.” (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 5- 6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sifat ketiga:&lt;/span&gt; Keilmuan yang Ditopang dengan Dzikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka membagi ilmu menjadi dua bagian. Yakni ilmu masail dan ilmu fadhail. Ilmu masail, menurut mereka, adalah ilmu yang dipelajari di negeri masing-masing. Sedangkan ilmu fadhail adalah ilmu yang dipelajari pada ritus khuruj (lihat penjelasan di bawah, red) dan pada majlis-majlis tabligh. Jadi, yang mereka maksudkan dengan ilmu adalah sebagian dari fadhail amal (amalan-amalan utama, pen) serta dasar-dasar pedoman Jamaah (secara umum), seperti sifat yang enam dan yang sejenisnya, dan hampir-hampir tidak ada lagi selain itu. Orang-orang yang bergaul dengan mereka tidak bisa memungkiri tentang keengganan mereka untuk menimba ilmu agama dari para ulama, serta tentang minimnya mereka dari buku-buku pengetahuan agama Islam. Bahkan mereka berusaha untuk menghalangi orang-orang yang cinta akan ilmu, dan berusaha menjauhkan mereka dari buku-buku agama dan para ulamanya.(Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 6 dengan ringkas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sifat Keempat:&lt;/span&gt; Menghormati Setiap Muslim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Jamaah Tabligh tidak mempunyai batasan-batasan tertentu dalam merealisasikan sifat keempat ini, khususnya dalam masalah al- wala (kecintaan) dan al-bara (kebencian). Demikian pula perilaku mereka yang bertentangan dengan kandungan sifat keempat ini di mana mereka memusuhi orang-orang yang menasehati mereka atau yang berpisah dari mereka dikarenakan beda pemahaman, walaupun orang tersebut 'alim rabbani. Memang, hal ini tidak terjadi pada semua tablighiyyin, tapi inilah yang disorot oleh kebanyakan orang tentang mereka. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sifat Kelima: &lt;/span&gt;Memperbaiki Niat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwasanya memperbaiki niat termasuk pokok agama dan keikhlasan adalah porosnya. Akan tetapi semuanya membutuhkan ilmu. Dikarenakan Jamaah Tabligh adalah orang-orang yang minim ilmu agama, maka banyak pula kesalahan mereka dalam merealisasikan sifat kelima ini. Oleh karenanya engkau dapati mereka biasa shalat di masjid-masjid yang dibangun di atas kuburan. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sifat Keenam:&lt;/span&gt; Dakwah dan Khuruj di Jalan Allah subhanahu wata'ala&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara merealisasikannya adalah dengan menempuh khuruj (keluar untuk berdakwah, pen) bersama Jamaah Tabligh, empat bulan untuk seumur hidup, 40 hari pada tiap tahun, tiga hari setiap bulan, atau dua kali berkeliling pada tiap minggu. Yang pertama dengan menetap pada suatu daerah dan yang kedua dengan cara berpindah-pindah dari suatu daerah ke daerah yang lain. Hadir pada dua majelis ta’lim setiap hari, majelis ta’lim pertama diadakan di masjid sedangkan yang kedua diadakan di rumah. Meluangkan waktu 2,5 jam setiap hari untuk menjenguk orang sakit, mengunjungi para sesepuh dan bersilaturahmi, membaca satu juz Al Qur’an setiap hari, memelihara dzikir-dzikir pagi dan sore, membantu para jamaah yang khuruj, serta i’tikaf pada setiap malam Jum’at di markas. Dan sebelum melakukan khuruj, mereka selalu diberi hadiah-hadiah berupa konsep berdakwah (ala mereka, pen) yang disampaikan oleh salah seorang anggota jamaah yang berpengalaman dalam hal khuruj. (Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan berkata: “Khuruj di jalan Allah adalah khuruj untuk berperang. Adapun apa yang sekarang ini mereka (Jamaah Tabligh, pen) sebut dengan khuruj maka ini bid’ah. Belum pernah ada (contoh) dari salaf tentang keluarnya seseorang untuk&lt;br /&gt;berdakwah di jalan Allah yang harus dibatasi dengan hari-hari tertentu. Bahkan hendaknya berdakwah sesuai dengan kemampuannya tanpa dibatasi dengan jamaah tertentu, atau dibatasi 40 hari, atau lebih sedikit atau lebih banyak.” (Aqwal Ulama As-Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syaikh Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Khuruj mereka ini bukanlah di jalan Allah, tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi berdakwah kepada (pemahaman) Muhammad Ilyas, syaikh mereka yang ada di Banglades (maksudnya India, pen). (Aqwal Ulama As Sunnah fi Jama’atit Tabligh, hal. 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;~~~ AQIDAH Jamaah Tabligh dan Para Tokohnya ~~~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah Tabligh dan para tokohnya, merupakan orang-orang yang sangat rancu dalam hal aqidah1. Demikian pula kitab referensi utama mereka Tablighi Nishab atau Fadhail A’mal karya Muhammad Zakariya Al- Kandahlawi, merupakan kitab yang penuh dengan kesyirikan, bid’ah, dan khurafat. Di antara sekian banyak kesesatan mereka dalam masalah aqidah adalah2:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Keyakinan tentang wihdatul wujud (bahwa Allah menyatu dengan alam ini). (Lihat kitab Tablighi Nishab, 2/407, bab Fadhail Shadaqat, cet. Idarah Nasyriyat Islam Urdu Bazar, Lahore).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sikap berlebihan terhadap orang-orang shalih dan keyakinan bahwa mereka mengetahui ilmu ghaib. (Lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Dzikir, hal. 468-469, dan hal. 540-541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tawassul kepada Nabi (setelah wafatnya) dan juga kepada selainnya, serta berlebihannya mereka dalam hal ini. (Lihat Fadhail A’mal, bab Shalat, hal. 345, dan juga bab Fadhail Dzikir, hal. 481-482, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Keyakinan bahwa para syaikh sufi dapat menganugerahkan berkah dan ilmu laduni (lihat Fadhail A’mal, bab Fadhail Qur’an, hal. 202- 203, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Keyakinan bahwa seseorang bisa mempunyai ilmu kasyaf, yakni bisa menyingkap segala sesuatu dari perkara ghaib atau batin. (Lihat Fadhail A’mal, bab Dzikir, hal. 540- 541, cet. Kutub Khanat Faidhi, Lahore).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Hidayah dan keselamatan hanya bisa diraih dengan mengikuti tarekat&lt;br /&gt;Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi (lihat Shaqalatil Qulub, hal. 190). Oleh karena itu, Muhammad Ilyas sang pendiri Jamaah Tabligh telah membai’atnya di atas tarekat Jisytiyyah pada tahun 1314 H, bahkan terkadang ia bangun malam semata-mata untuk melihat wajah syaikhnya tersebut. (Kitab Sawanih Muhammad Yusuf, hal. 143, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Saling berbai’at terhadap pimpinan mereka di atas empat tarekat sufi: Jisytiyyah, Naqsyabandiyyah, Qadiriyyah, dan Sahruwardiyyah. (Ad-Da'wah fi Jaziratil 'Arab, karya Asy-Syaikh Sa’ad Al-Hushain, hal. 9-10, dinukil dari Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Keyakinan tentang keluarnya tangan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dari kubur beliau untuk berjabat tangan dengan Asy-Syaikh Ahmad Ar-Rifa’i. (Fadhail A’mal, bab Fadhail Ash-Shalati ‘alan Nabi, hal. 19, cet. Idarah Isya’at Diyanat Anarkli, Lahore).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Kebenaran suatu kaidah, bahwasanya segala sesuatu yang menyebabkan permusuhan, perpecahan, atau perselisihan -walaupun ia benar- maka harus dibuang sejauh-jauhnya dari manhaj Jamaah. (Al-Quthbiyyah Hiyal Fitnah Fa’rifuha, hal. 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Keharusan untuk bertaqlid (lihat Dzikir Wa I’tikaf Key Ahmiyat, karya Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi, hal. 94, dinukil dari Jama'atut Tabligh ‘Aqaiduha wa Ta’rifuha, hal. 70).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Banyaknya cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits lemah/ palsu di dalam kitab Fadhail A’mal mereka, di antaranya apa yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Hasan Janahi dalam kitabnya Jama’atut Tabligh Mafahim Yajibu An Tushahhah, hal. 46-47 dan hal. 50-52. Bahkan cerita-cerita khurafat dan hadits-hadits palsu inilah yang mereka jadikan sebagai bahan utama untuk berdakwah. Wallahul Musta’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;~~ FATWA Para Ulama Tentang Jamaah Tabligh ~~~&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Siapa saja yang berdakwah di jalan Allah bisa disebut “muballigh” artinya: (Sampaikan apa yang datang dariku (Rasulullah), walaupun hanya satu ayat), akan tetapi Jamaah Tabligh India yang ma’ruf dewasa ini mempunyai sekian banyak khurafat, bid’ah dan kesyirikan. Maka dari itu, tidak boleh khuruj bersama mereka kecuali bagi seorang yang berilmu, yang keluar (khuruj) bersama mereka dalam rangka mengingkari (kebatilan mereka) dan mengajarkan ilmu kepada mereka. Adapun khuruj, semata ikut dengan mereka maka tidak boleh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Asy Syaikh Dr. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata: “Semoga Allah merahmati Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz (atas pengecualian beliau tentang bolehnya khuruj bersama Jamaah Tabligh untuk mengingkari kebatilan mereka dan mengajarkan ilmu kepada mereka, pen), karena jika&lt;br /&gt;mereka mau menerima nasehat dan bimbingan dari ahlul ilmi maka tidak akan ada rasa keberatan untuk khuruj bersama mereka. Namun kenyataannya, mereka tidak mau menerima nasehat dan tidak mau rujuk dari kebatilan mereka, dikarenakan kuatnya fanatisme mereka dan&lt;br /&gt;kuatnya mereka dalam mengikuti hawa nafsu. Jika mereka benar-benar menerima nasehat dari ulama, niscaya mereka telah tinggalkan manhaj mereka yang batil itu dan akan menempuh jalan ahlut tauhid dan ahlus sunnah. Nah, jika demikian permasalahannya, maka tidak boleh keluar&lt;br /&gt;(khuruj) bersama mereka sebagaimana manhaj as-salafush shalih yang berdiri di atas Al Qur’an dan As Sunnah dalam hal tahdzir (peringatan) terhadap ahlul bid’ah dan peringatan untuk tidak bergaul serta duduk bersama mereka. Yang demikian itu (tidak bolehnya khuruj bersama mereka secara mutlak, pen), dikarenakan termasuk memperbanyak jumlah mereka dan membantu mereka dalam menyebarkan kesesatan. Ini termasuk perbuatan penipuan terhadap Islam dan kaum muslimin, serta sebagai bentuk partisipasi bersama mereka dalam hal dosa dan kekejian. Terlebih lagi mereka saling berbai’at di atas empat tarekat sufi yang padanya terdapat keyakinan hulul, wihdatul wujud, kesyirikan dan kebid’ahan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Asy-Syaikh Al-Allamah Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah berkata: “Bahwasanya organisasi ini (Jamaah Tabligh, pen) tidak ada kebaikan padanya. Dan sungguh ia sebagai organisasi bid’ah dan sesat. Dengan membaca buku-buku mereka, maka benar-benar kami dapati kesesatan, bid’ah, ajakan kepada peribadatan terhadap kubur- kubur dan kesyirikan, sesuatu yang tidak bisa dibiarkan. Oleh karena itu -insya Allah- kami akan membantah dan membongkar kesesatan dan kebatilannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Asy-Syaikh Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah berkata: “Jamaah Tabligh tidaklah berdiri di atas manhaj Al Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam serta pemahaman as- salafus shalih.” Beliau juga berkata: “Dakwah Jamaah Tabligh adalah dakwah sufi modern yang semata-mata berorientasi kepada akhlak. Adapun pembenahan terhadap aqidah masyarakat, maka sedikit pun tidak mereka lakukan, karena -menurut mereka- bisa menyebabkan perpecahan”. Beliau juga berkata: “Maka Jamaah Tabligh tidaklah mempunyai prinsip keilmuan, yang mana mereka adalah orang-orang yang selalu berubah-ubah dengan perubahan yang luar biasa, sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Asy-Syaikh Al-Allamah Abdurrazzaq 'Afifi berkata: “Kenyataannya mereka adalah ahlul bid’ah yang menyimpang dan orang-orang tarekat Qadiriyyah dan yang lainnya. Khuruj mereka bukanlah di jalan Allah, akan tetapi di jalan Muhammad Ilyas. Mereka tidaklah berdakwah kepada Al Qur’an dan As Sunnah, akan tetapi kepada Muhammad Ilyas, syaikh mereka di Bangladesh (maksudnya India, pen)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah selayang pandang tentang hakikat Jamaah Tabligh, semoga sebagai nasehat dan peringatan bagi pencari kebenaran. Wallahul Muwaffiq wal Hadi Ila Aqwamith Thariq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-5042852391953438742?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/5042852391953438742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/5042852391953438742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/08/membongkar-kedok-jamaah-tabligh.html' title='Membongkar Kedok Jama&apos;ah Tabligh'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-2612031551175451984</id><published>2008-04-18T21:40:00.001+03:00</published><updated>2008-04-18T21:43:11.084+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bantahan'/><title type='text'>Hukum Bergabung Dgn Firqoh-firqoh Untuk Memperbaiki Dari Dalam</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;HUKUM BERGABUNG DENGAN FIRQOH-FIRQOH &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;UNTUK MEMPERBAIKI DARI DALAM&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT';"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;Oleh: Asy-Syaikh Abu Yasir Kholid Ar-Radadiy Hafizahullah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Pengantar:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala puji hanya bagi Allah Rabb alam semesta, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi akhir zaman, keluarganya, para sahabatnya, serta ummatnya hingga akhir zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amma Ba’du:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah nukilan Tanya jawab Al-Ustadz Wildan dengan Asy-Syaikh Abu Yasir Kholid Ar-Radadiy tentang beberapa permasalahan. Kami nukilkan disini bagian dari fatwa Syaikh Kholid Ar-Radadiy tentang HUKUM BERGABUNG DENGAN FIRQOH-FIRQOH DENGAN ALASAN UNTUK MEMPERBAIKI DARI DALAM.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Telah berkata kepada kami dan kepada Abu Zaid Anang*) Abu Muhammad Amin Abdul Ma’bud Al-Indonisiy**) sbb:”Jika kalian hendak memperbaiki Jama’ah ini –yakni Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tabligh-, maka kalian masuklah kedalam jama’ah ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan beliau ini (Abu Muhammad Amin) ulangi sebanyak dua kali baik kepada kami maupun kepada Abu Zaid Anang. Dalam pandangan kami, jelas perkataan ini tidaklah benar tetapi dalam pandangan Abu Zaid Anang beliau menganggapnya sebagai angin lalu saja. Maka, untuk menimbang kebenaran perkataan da’I Ihya’ut Turots Al-Hizbiyyah ini berikut kami nukilkan Fatwa As-Syaikh Kholid Ar-Radadiy. Semoga dengan adanya fatwa ini akan menjadi jelaslah permasalahannya,اللهم آمين.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;0 0 0 0 0&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tanya (Ustadz Wildan) :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa bantahan Anda terhadap perkataan sebagian da’i tentang bolehnya bergaul dengan firqah-firqah atau jama’ah-jama’ah yang ada dengan alasan untuk memperbaiki dari dalam ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Jawab (Syaikh Kholid) :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, perbaikan dari dalam bukan berarti bahwa engkau tetap bersamanya. Bentuk pengingkaran paling kecil adalah tindakanmu memisahkan diri darinya. Pengingkaran terkecil itu adalah tindakanmu memisahkan diri darinya, tidak bergaul dengannya. Adapun apabila engkau tetap bersama mereka, bergaul dengan mereka, mendiamkan kemungkaran-kemungkaran mereka, maka tidak akan terjadi perbaikan pada diri mereka dan tidak pula pada dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, perkataan seperti itu adalah perkataan yang tidak benar. Khususnya jika disana ada saudara-saudara salafiyyun, hendaknya saudara-saudara kita yang salafiyun tersebut menyeru, menda’wahi mereka dan menasehati mereka dari/dalam keadaan jauh dari mereka. Apabila mereka menerima nasehat tersebut, dan juga apabila diantara mereka ada yang menerima kebenaran, Alhamdulillah …(ada perkataan yg tidak jelas)… bahwa bentuk pengingkaran yang paling kecil adalah memisahkan diri dari mereka. Tidak bersama mereka dan tidak bermajlis dengan mereka sebab tidak akan tercapai bentuk pengingkaran apabila seseorang itu tetap bersama mereka, mereka/kaum muslimin tidak memahami ketika seseorang tetap bersama suatu kelompok yang mempunyai penyimpangan, bahwa orang tersebut mengingkari manhajnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika meninggal Abu Rawwaad, manusia pada waktu itu melihat Sufyan ats-Tsaury, mereka mengatakan “Sufyan (Sufyan ats-Tsaury) akan menyolatkan orang tersebut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketika Sufyan tidak menyolatkan orang tersebut ditanyakan kepada beliau: “mengapa kamu tidak menyolatkannya”. beliau menjawab, “agar manusia tahu bahwa ia seorang mubtadi’”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, agar manusia tahu bahwa ia seorang mubtadi’, terutama apabila orang yang tidak menyolatkan tersebut adalah seorang yang mempunyai kedudukan dan derajad yang tinggi di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Catatan Kaki:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Salah seorang perawat Indonesia yang bekerja di Kuwait yang mana pada awalnya beliau aktif di Jama’ah Tabligh kemudian beliau mengikuti ta’lim dengan da’I dari Jum’iyyah Ihya’ut Turots Al-Hizbiyyah sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**) Seorang pegawai Jum’iyyah Ihya’ut Turots Al-Hizbiyyah Lajnah Junub Syarq Asia, lulusan Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir. Beliau juga bekerja di Kementrian Auqof (DEPAG) Kuwait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Tanya Jawab Ustadz Wildan dengan Asy-Syaikh Kholid Ar-Radadiy pada tanggal 17 Dzulhijjah 1423 H/19 Februari 2003 M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-2612031551175451984?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/2612031551175451984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/2612031551175451984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/hukum-bergabung-dgn-firqoh-firqoh-untuk.html' title='Hukum Bergabung Dgn Firqoh-firqoh Untuk Memperbaiki Dari Dalam'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-652304362140276642</id><published>2008-04-18T21:30:00.002+03:00</published><updated>2008-04-18T21:38:42.888+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bantahan'/><title type='text'>Memang Harus Beda Antara SALAFIYYAH Dengan HIZBIYYAH</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span class="news-title"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Memang Harus Beda antara SALAFIYYAH dengan HIZBIYYAH &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span class="news-title"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;(Sebuah Bantahan Buku Beda Salaf dengan “Salafi”)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span class="dateartikel"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;Penulis: Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah Al-Atsariy)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Pergolakan antara tentara kebenaran dan tentara kebatilan akan senantiasa berjalan sampai akhir zaman. Para pejuang kebenaran harus memiliki kesabaran yang tinggi dan ilmu yang kuat, sebab ia akan diserang oleh musuh-musuh kebatilan dengan berbagai macam senjata syubuhatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara syubuhat yang mereka arahkan kepada dakwah salafiyyah, dan pengikutnya (salafiyyun), adanya sebagian kitab-kitab yang menyudutkan dakwah salaf, dan salafiyyun, seperti: “Aku Melawan Teroris”,(1) “Dakwah Salaf Dakwah Bijak” , “Siapa Teroris Siapa Khawarij” (2) .&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Masih segar dalam ingatan terbitnya tiga kitab itu, tiba-tiba muncul lagi kitab baru yang diterjemahkan dari kitab yang berbahasa Arab. Kitab ini juga menyudutkan para salafiyyun, dan memberikan angin segar, dan nafas lega bagi para hizbiyyun di Indonesia, dan Makassar -khususnya-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, ada sebagian ikhwah Al-Jami’ah Alauddin datang membawa kitab terjemahan itu kepada kami saat ada kajian di Masjid Kampus UIN Alauddin, Makassar. Dia mengisahkan bahwa kitab terjemahan itu ia dapatkan dari kiriman seorang akhwat OrmasWahdah Islamiyyah (WI) kepada ikhwah tersebut. Dia juga mengisahkan bahwa ada seorang ikhwah yang tak mau ikut kajian salaf lagi –wal’iyadzu billah- seusai membaca kitab itu.(3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah ini datang meminta nasihat kepada kami secara pribadi tentang isi kitab itu, walaupun berupa catatan ringkas tentang isi kitab tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;· Kitab Apa itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kitab itu aslinya berjudul “Kasyful Haqo’iq Al-Khofiyyah ‘Inda Mudda’i As-Salafiyyah”. Lalu diberi judul secara serampangan oleh penerjemah dengan “Beda Salaf dengan “Salafi”" (Harusnya Sama Kenapa Beda?)(4). Kitab ini diterjemahkan oleh Wahyuddin, Abu Ja’far Al-Indunisiy; diterbitkan oleh Media Islamika, Solo pada bulan November 2007 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis kitab ini bernama Mut’ab bin Suryan Al-’Ashimiy.(5) Konon kabarnya, ia adalah penduduk Makkah sebagaimana yang dijelaskan oleh Peneberbit dalam kata pengantarnya (hal.9). Tidak lebih dari itu !! Siapakah dia? Wallahu a’lam tentang jati dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kitab BSDS ini terdiri dari dua bagian. Bagian Pertama berupa tulisan asli Muth’ab bin Suryan dari hal. 10-88. Jadi isi kitab aslinya Cuma berisi 78 hal. Bagian Kedua , lalu digembungkan oleh Penerbit dengan tambahan 146 hal yang terdiri dari : cover dalam dari hal. 1-4, pengantar Penerbit dari hal. 5-9, dan tambahan fatwa-fatwa (?) dari hal.89-223. Satu halaman yang tersisa berisi ucapan syukur: tamma bihamdillah. Jadi, tambahannnya hampir 3 kali lipat !! Sebagai amanah ilmiah, semoga saja Penerbit mendapat izin dan ridho dari Penulis sehingga ia boleh menambahkan halaman yang begitu banyak jumlahnya di belakang tulisan Muth’ab, sedang tambahan itu melebihi aslinya!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;· Judul Kitab dalam Terjemahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerjemah memberi judul bagi kitab itu dengan Beda Salaf dengan “Salafi”. Sedang “Salafi” maksudnya disini adalah orang yang mengaku salafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menelaah isi kitab, maka kita akan mendapatkan bahwa yang dimaksud dengan orang yang mengaku salafi adalah orang yang suka mencela ulama, dan orang suka men-tashnif (menggolongkan) manusia.(6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Penulis dalam hal ini salah kaprah(7) tentang mencela, sampai orang yang mengingkari penyimpangan aqidah sebagian orang juga dianggap mencela. Demikian pula, Penulis dan Penerbit salah kaprah dalam mendudukkan semacam Salman, Safar Al-Hawaliy, A’idh Al-Qorniy, Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna sebagai ulama’, padahal bukan ulama’. Kalau pun ia ulama’, apa salahnya mengingkari mereka dengan cara yang hikmah. Para ulama’ dari dulu mengingkari ulama’ yang lainnya, baik dalam perkara fiqih, maupun perkara aqidah. Tak ada yang menganggap hal itu sebagai celaan. Namun herannya di zaman ini ada sebagian pemuda yang dangkal pemahamannya –termasuk Penulis- menganggap hal itu sebagai celaan dan ghibah. (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang dikatakan oleh Penulis dengan pengaku salafi. Selain itu ia menganggap pengaku salafi itu adalah orang yang suka men-tashnif (menggolong-golongkan)manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya jika kita mau memperhatikan judul Arab maupun judul terjemahan, maka sebenarnya Penulis dan Penerjemah sendiri telah melakukan tashnif.(9) Coba perhatikan judul aslinya yang berbunyi “Kasyful Haqo’iq Al-Khofiyyah ‘Inda Mudda’i As-Salafiyyah” (Menyingkap Hakekat yang Samar di Sisi Pengaku Salafi). Lalu perhatikan juga judul yang disematkan oleh Penerjemah yang berbunyi Beda Salaf dengan “Salafi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan bagaimana Penulis menggunakan istilah mudda’is salafiyyah, dan Penerjemah menggunakan istilah Salafi –dengan tanda petik- yang artinya sama dengan mudda’is salafiyyah (Pengaku Salafi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Penulis dan Penerjemah sama-sama men-tashnif (menggolong-golongkan) manusia, sebab jika disana ada orang yang mengaku salafi, berarti disana ada yang Salafi Sejati. Ini adalah tashnif yang dicela oleh Penulis, dan Penerjemah, namun keduanya melakukan hal itu sendiri(10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Penulis dan Penerjemah, dengarkan Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;{أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ} (44) سورة البقرة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (QS. Al-Baqoroh:44 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dari segi judul. Belum lagi isinya !! Insya’ Allah -Ta’ala- Pembaca yang budiman akan melihat lebih dari ini berupa penyimpangan Penulis, dan kecohannya kepada para pembaca dengan memakai “sistem standar ganda” yang tumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;· Inti Pembahasan Kitab BSDS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita membaca buku terjemahan yang berjudul Beda Salaf dengan “Salafi” (BSDS) dari awal sampai akhir, maka kita akan dapatkan kesimpulan bahwa Penulis BSDS hanya berkisar dalam beberapa perkara (baca:syubhat), diantaranya: Masalah Menggunakan Nama Salafiy atau Atsariy, Larangan Men-tashnif, Tuduhan bahwa Salafiyyun Suka Mencela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membantah syubhat-syubhat ini, maka kami akan membawakan beberapa tanya jawab yang akan menghilangkan segala kerancuan tentang manhaj dan dakwah salaf. Berikut tanya jawab tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;v Terlarangkah Memakai Nisbah As - Salafiy atau Al - Atsariy ???&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis BSDS dalam soal 03 (hal. 40), ia menyebutkan ciri khas dan simbol para pengaku salafi, yaitu menggunakan simbol As-Salafiy atau Al-Atsariy diakhir nama mereka atau mengaku dengan lisannya, “Aku adalah salafi”, “Kami adalah salafiyyun”. Jika seorang melakukan hal seperti itu, maka ia dianggap jauh dari intisari yang terkandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengarkan Penulis berkata dengan ceroboh di bawah judul Slogan Para Pengaku Salafi, “Apa simbol mereka, yaitu orang-orang yang selalu mengaku-aku salafi?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia jawab sendiri, “Simbol mereka yang dapat dikenali adalah pengakuan “as-salafiyah” atau perkataan mereka, “Kami adalah salafiyyun”, atau “Saya adalah salafi”. Atau mereka sertakan diakhir nama-nama mereka dengan sebutan salafi. Seperti, fulan bin fulan as-salafi atau al-atsari dan demikian seterusnya. Ini merupakan pengakuan yang mengindikasikan jauh dari intisari yang terkandung”.[Lihat BSDS (hal.40)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Penulis membawakan fatwa Syaikh Al-Fauzan yang menyatakan bahwa tidak perlu memakai nama As-Salafiy atau Al-Atsariy, karena beliau khawatir pengakuan itu tidak sesuai dengan perbuatan dan aqidah seorang muslim. Tapi apakah Syaikh melarang secara mutlak? Tentunya tidak !! Bagi orang yang memiliki aqidah dan manhaj sesuai dengan salaf, maka tak apa baginya untuk menamakan diri dengan As-Salafiy atau Al-Atsariy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, Syaikh Al-Fauzan sendiri pernah berfatwa saat ditanya, “Apakah menggunakan nama As-Salafiy dianggap membuat kelompok (hizbiyyah)?”. Syaikh Al-Fauzan -hafizhahullah- menjawab, “ Menggunakan nama As-Salafiy –jika sesuai hakekatnya-, tak mengapa. Adapun jika hanya sekedar pengakuan, maka tidak boleh baginya menggunakan nama As-Salafiy, sedang ia bukan di atas manhaj Salaf. Maka orang-orang Al-Asy’ariyyah -contohnya- berkata, “Kami adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah”. Ini tak benar, karena pemahaman yang mereka pijaki bukanlah manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Demikian pula orang-orang Mu’tazilah menamai diri mereka dengan Al-Muwahhidin (orang-orang bertauhid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;كل يدعي وصلا لليلى&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;وليلى لا تقر لهم بذاكا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Setiap orang mengaku punya hubungan dengan Laila&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Sedang Laila tidak mengakui hal itu bagi mereka&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jadi, orang yang mengaku bahwa ia berada di atas madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah akan mengikuti jalan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dan meninggalkan orang-orang yang menyelisihi (madzhab Ahlus Sunnah.-pent). Adapun jika ia mau mengumpulkan antara “biawak dan ikan pau” –menurut istilah orang-, yakni: mau mengumpulkan hewan daratan dengan hewan laut, maka ini tak mungkin; atau ia mau mengumpulkan antara api dengan air dalam suatu daun timbangan. Maka tak akan bersatu ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan madzhabnya orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti Khawarij, Mu’tazilah, dan Hizbiyyun(11) yang disebut orang dengan “Muslim Masa Kini”, yaitu orang yang mau mengumpulkan kesesatan-kesesatan orang-orang di zaman ini bersama manhaj salaf. Maka “Tak akan baik akhir ummat ini kecuali dengan sesuatu yang memperbaiki awalnya”. Walhasil, harus ada pembedaan dan penyaringan”. [Lihat Al-Ajwibah Al-Mufidah ‘an As’ilah Al-Manahij Al-Jadidah (hal.36-40) karya Jamal bin Furoihan Al-Haritsiy -hafizhahullah-, cet. Darul Minhaj, 1426 H]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, menamakan diri dengan As-Salafiy, ini tak apa, jika seorang berada di atas manhaj dan aqidah salaf. Karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- berkata, “tak ada aibnya orang yang menampakkan madzhab Salaf dan menisbahkan diri kepadanya, dan mengasalkan diri kepadanya. Bahkan wajib menerima hal itu darinya menurut kesepakatan (ulama’), karena madzhab salaf, tidak ada, kecuali benar”. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa (4/149)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;v Salahkah Ahlus Sunnah (Salafiyyun) ketika Mereka Men-tashnif (mengelompokkan) Manusia ?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis Beda Salaf dengan “Salafi” (BSDS) telah menuduh Salafiyyun secara keji ketika ia menjelaskan tugas Iblis(12) yang diemban oleh para salafiyyun –menurut sangkaan buruk dan kejinya-. Apa tugas Iblis tersebut? Tugas Iblis adalah men-tashnif: mengklasifikasi manusia.(13) Jadi, menurutnya tak boleh seorang menyatakan fulan Tabligh, Ikhwanul Muslimin (IM), Salafiyyun, Shufiy, Syi’ah, Wahdah Islamiyyah (WI), dan lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silakan dengarkan Penulis BSDS menjelaskannnya tugas Iblis yang dimaksud dalam BSDS (hal.45) di bawah sub judul “Tugas Iblis“ , “Apa pekerjaan pokok yang menyatukan mereka dan dengannya mereka dikenali?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian si Penulis sendiri yang menjawab, “Jawab: Tugas utama mereka adalah (mengklasifikasikan manusia)berdasarkan hawa nafsu dan was-was. Itulah yang menjadi kesibukan di setiap majelis dan tempat-tempat berkumpul mereka(14) serta menjadi pekerjaan rutin mereka dengan segala kesungguhan dan potensi diri yang dimiliki tanpa memandang orang selainnya itu baik”. [Lihat BSDS (45)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dahulu sampai sekarang para ulama kita masih terus memberikan label bagi kelompok-kelompok sesat, bahkan kelompok-kelompok sesat itu sendiri yang melabeli dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu kami jelaskan bahwa kata tashnif ditinjau secara bahasa, maka ia bermakna :”Membedakan sesuatu, sebagiannya dari sebagian yang lain”.(15)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tashnif (membedakan dan mengelompokkan manusia), ini bisa kita dapatkan dalam Kitabullah, As-Sunnah, atsar para salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita kita dapati dalam Kitabullah bahwa Allah -Ta’ala- membagi manusia: mukmin dan kafir, taat &amp;amp; suka maksiat, muslim &amp;amp; munafiq. Bahkan orang mukmin dan kafir dibagi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Sunnah kita dapati Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- membagi manusia : mukmin dan kafir, taat &amp;amp; suka maksiat, muslim &amp;amp; munafiq. Bahkan orang mukmin dan kafir dibagi lagi. Yang mukmin ada yang ahlus sunnah &amp;amp; ahli bid’ah. Ahli bid’ah terbagi lagi. Karenanya kita akan dapati Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- menyebutkan golongan Al-Qodariyyah,&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;القدرية مجوس هذه الأم&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Al-Qodariyyah majusinya ummat ini”. [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4691). Di-hasan-kan oleh Muhaddits Negeri Syam Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy-rahimahullah- dalam Zhilal Al-Jannah (338)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam sunnah disebutkan ciri dan anjuran memerangi orang-orang Khawarij(16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dulu para ulama kita telah membedakan ini Mu’tazilah, ini Shufiyyah, ini Murji’ah, ini Khawarij, dan ini Syi’ah sehingga istilah-istilah ini terkenal sebagaimana yang disebutkan oleh Ibn Hazm –misalnya- dalam Al-Fishol fil Milal wal-Ahwaa’ wa An-Nihal, Abdul Qohir Ibn Muhammad Al-Baghdady dalam Al-Farq bainal Firoq, Asy-Syahrostany dalam Al-Milal Wa An-Nihal. Demikian pula ulama’-ulama’ mutakhirin pun menggunakan istilah-istilah untuk jama’ah dakwah agar bisa dibedakan dari dakwah Ahlus Sunnah. Misalnya, Syaikh Ibn Baz, Syaikh Al-Albany dalam berbagai kitab dan kasetnya, Syaikh At-Tuwaijiry dalam At-Tahdzir Al-Baligh min Jama’ah At-Tabligh, Syaikh Al-Fauzan dalam Al-Ajwibah Al-Mufidah, Syaikh Ahmad An-Najmy-hafizhohumullah- dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Apakah menggunakan istilah-istilah (seperti Ikhwanul Muslimin, Jama’ah Tabligh, Hizbut Tahrir dan lainnya) terlarang sementara para ulama kita memakainya dalam rangka membedakan mereka dari pengikut dakwah salaf??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily –hafizhohullah- berkata setelah menerangkan asal kata Salafiyyun, “Dengan ini, nyatalah bahwa penggunaa nama ini (yaitu, nama Salafiyyun,pent)bagi Ahlus Sunnah adalah sesuatu yang syar’i dan kembali -pada asal maknanya- kepada nama-nama mereka (Ahlussunnah) yang Syar’i. Seperti: Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Ath-Tho’ifah Al-Manshuroh, Al-Firqoh An-Najiyah untuk membedakan antara mereka (Ahlus Sunnah-Salafiyyun, pen) dengan orang-orang yang menisbahkan diri kepada Islam dari kalangan orang-orang yang menyimpang dari aqidah yang benar yang Rasul –Shollallahu alaihi wasallam- meninggalkan ummatnya da atasnya.Karenan ini, para ulama’ muhaqqiqin telah menyebutkan bahwa istilah Salafhanyalah muncul ketika terjadi perselisihan seputar prinsip-prinsip agama diantara kelompok-kelompok ahli kalam, dan semuanya berusaha menisbahkan diri kepada As-salaf Ash-sholih(17). Maka hal ini mengharuskan munculnya kaedah-kaedah yang jelas bagi manhaj salaf yang akan membedakannya dari orang yang mengaku menisbahkan diri kepada Salafiyyah (manhaj salaf)” (18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Apakah membedakan kelompok-kelompok yang ada dengan memberi label kepada mereka dengan menggunakan kata Ikhwani, Tablighi, Tahriri, WI, NII bagi kelompok-kelompok yang menyimpang dari rel Salaf merupakan perkara yang salah??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya, tentu tidak berdasarkan amaliyyah ulama’. Bahkan Nabi–Shollallahu alaihi wasallam- juga membedakan ini muslim, itu kafir dan beliau juga pernah bersabda dalam memberi label kepada orang-orang yang mengingkari takdir:“Al-Qodariyyah: majusinya ummat ini…”.(19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita tidak memberi label kepada kelompok da’wah sufiyyah modern (baca: Jama’ah Tabligh), kepada kelompok da’wah Neo Mu’tazilah(baca: HT) dan lainnya, maka kapankah umat tahu kawan dan lawan mereka. Apakah setelah mereka terjerat dalam kesesatan kelompok-kelompok itu, baru kita berteriak-teriak kepanikan !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika kami masih di Wahdah Islamiyyah, kami sering kali mendengar kata “ MANIS ”(20), Jama’ah Tabligh, IM, HT, dan lainnya dari mulut para pengikut WI dan para ustadznya. Bahkan label “MANIS” mereka jadikan bahan untuk menyudutkan Salafiyyun. Bukankah ini juga tashnif?? Mengapa justru fenomena tashnif ini malah diarahkan dan dituduhkan kepada orang lain tanpa hujjah. Ingat, jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tidak satu pun tuduhan itu terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan”. [QS.Ash-Shoff: 2-3]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian nyuruh orang agar tidak melakukan tashnif, tapi kalian sendiri men-tashnif manusia. Wallahi, hadza lasyai’un ujaab!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang men-tashnif jama’ah-jama’ah yang menyimpang, apakah ini keliru, dan dimana letak kekeliruannya. Maka kami akan katakan kepada anda sebagaimana yang dikatakan Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah-, ”Jika engkau beradu argumen dengan salah seorang dari mereka, maka engkau tidak akan menemukan apapun darinya kecuali sepotong semangat yang menggerakkannya tanpa landasan ilmu yang jelas. Maka ia pun masuk ke dalam akal orang-orang bodoh dengan semboyan “ghirah terhadap dien”, “menolong sunnah”, dan “persatuan ummat”.(21) Padahal merekalah yang pertama kali yang mengayunkan palu godam untuk menghancurkan dan mengoyak-ngoyak keutuhannya…” (22)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun nukilan Penulis berupa larangan men-tashnif manusia dari Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya Tashnif An-Naas baina Azh-Zhonni wal Yaqin, maka ada baiknya kita dengarkan komentar dua orang ulama’ kita tentang kitab Syaikh Bakr ini sehingga kita bisa mengetahui bobot pandangan Syaikh Bakr:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Allamah Muhaddits Ad-Diyar Al-Yamaniyyah, Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy As-Salafiy -rahimahullah- berkata, “Risalah Saudara kami Bakr bin Abdillah Abu Zaid “Tashnif An-Naas baina Azh-Zhonni wal Yaqin ” teranggap sebagai sesuatu yang paling jelek beliau tulis. Kebanyakan diantara tulisannya –Alhamdulillah- teranggap sebagai tulisan yang paling baik. Semoga Allah membalasinya dengan kebaikan”.[Lihat Nasho’ih wa Fadho’ih (hal.112) karya Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy Al-Atsariy, cet. Maktabah Shon’a’ Al-Atsariyyah, 1425 H]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kitab tersebut dinilai demikian oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy Al-Atsariy ??! Jawabnya: kita dengarkan Syaikh Robi’ bin Hadi Al-Madkholiy -hafizhahullah- memberikan perincian yang lebih panjang saat beliau berkata mengingkari Syaikh Bakr dalam bentuk dialog, “Sesungguhnya aku melihat asap kebakaran yang mengepul bagaikan awan hitam yang tebal dari kitabmu Tashnif An-Naas, dan surat selebaranmu yang melanggar ini. Maka kitabmu Tashnif An-Naas, di dalamnya terdapat penyelisihan terhadap sabda Rasul yang Mulia -Shollallahu ‘alaihi wasallam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;افترقت اليهود على إحدى أو ثنتين وسبعين فرقة و&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;افترقت النصارى على ثنتين وسبعين فرقة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; , &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;كلها في النار إلا واحدة قالوا: من هي يا رسول الله؟ قال من كان على ما&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: rgb(51, 51, 51);"&gt;أنا عليه وأصحابي&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Orang-orang Yahudi telah berpecah menjadi 72 golongan. Orang-orang Nashroni berpecah menjadi 72 golongan. Ummatku akan berpecah menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka, kecuali satu”. Mereka (para sahabat) berkata, “Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Orang yang berada di atas sesuatu yang aku dan para sahabatku berada di atasnya” “.(23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para salaf telah menggolong-golongkan manusia ke dalam (beberapa golongan, seperti):Khawarij, Rofidhoh, Mu’tazilah, Murji’ah, Jahmiyyah. Mereka membagi setiap firqoh (golongan) menjadi beberapa golongan. Telah ditulis beberapa kitab dalam hal itu berdasarkan realita golongan-golongan itu”. [Lihat Al-Hadd Al-Fashil (hal.140-141), karya Syaikh Robi’ Al-Madkholiy, cet. Maktabah Al-Furqon, 1421 H]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kitab Tashnif An-Naas sebenarnya bisa dipukulbalikkan kepada para hizbiyyun yang suka mencela ulama’ Ahlus Sunnah –semisal Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Albaniy Syaikh Robi’, Syaikh Muqbil – dan suka mencela pemerintahnya, bahkan ingin memberontak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;v Memangkah Salafiyyun Mencela?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis BSDS dalam beberapa tempat telah menuduh Salafiyyun mencela, benarkah demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis BSDS berkata, “Bendera tersebut dibawa oleh sekelompok orang yang menipu dari orang-orang yang mengaku salafi. Mereka menampakkan diri di hadapan manusia dengan penampilan seolah-olah mencuplik ilmu para ulama dan mutiara hikmah orang-orang bijak. Tampak dengan pakaian kebesaran dalam peribadatan yang menipu, mereka beralasan ini adalah sebuah nasihat dan kritik yang membangun serta untuk meluruskan kesalahan. Akan tetapi, sebenarnya adalah celaan dan hinaan sehingga mereka pun tersesat“.[Lihat BSDS (hal.23)](24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang dimaksudkan mencela adalah meng-ghibah, dan mencaci-maki, maka ini tak benar. Namun jika yang dimaksud mencela adalah mengingkari kemungkaran para hizbiyyun, dan ahli bid’ah secara umum, maka ini memang benar, karena ini termasuk amar ma’ruf nahi mungkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian orang-orang yang lemah hatinya dan sedikit ilmunya akan sempit dadanya ketika menelaah kitab-kitab yang berisi bantahan. Ini didasari bahwa menjauhi bantah-membantah merupakan jalan yang paling dekat kepada waro’, dan lebih menjaga kehormatan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika seseorang mau sedikit meneliti sejarah perjalanan para ulama’ kita, maka hal itu akan mengabarkan anda bahwa tak ada suatu zaman pun yang kosong dari bantahan atas mukholif (orang menyelisihi kebenaran), walaupun ia (orang yang dibantah) adalah orang pilihan.(25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala hampir semua kelompok-kelompok hizbiyyah berusaha menguburkan perkara an-naqd adz-dzati (bantahan atas person tertentu), menggugurkan amar ma’ruf nahi munkar, dan mengosongkan pertahanan kaum muslimin. Terkadang dengan dalih “menutupi aib kaum muslimin”, mengumpulkan makar bagi orang-orang kafir, dan lainnya diantar hujjah-hujjah yang didasari oleh perasaan yang menjadikan akal-akal mereka tercekoki di saat lemahnya ilmu. Semua ini mengharuskan kita untuk mengembalikan kebenaran pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“agar dia melakukan suatu urusan yang mesti dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata (pula)”. (QS. Al-Anfaal: 42).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bakr Ibn Abdillah Abu Zaid -hafizhahullah- berkata, “Orang-orang yang bersilat lidah demi mengingkari naqd (bantahan) terhadap kebatilan –walaupun sebagian diantara mereka nampak kesholehan-, tapi semua ini adalah bentuk lemahnya semangat, kurang memahami kebenaran. Bahkan pada hakikatnya, itu adalah bentuk larinya seseorang dari medan laga di hari peperangan; lari dari daerah pertahanan agama Allah. Ketika itu orang yang terdiam dari ucapan kebenaran laksana orang yang berbicara dengan kebatilan dalam dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ali Ad-Daqqoq berkata, “Orang yang terdiam dari kebenaran adalah setan bisu; orang yang berbicara dengan kebatilan adalah setan yang berbicara”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- telah mengabarkan tentang berpecahnya ummat ini menjadi 73 golongan. Keselamatan darinya bagi satu golongan yang berada di atas manhaj kenabian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah orang-orang yang mengingkari boleh memberikan pengingkaran dan bantahan kepada orang-orang yang menyimpang; apakah mereka ini menjadikan ummat ini menjadi satu golongan saja. Padahal terjadi perbedaan aqidah yang saling kontradiksi; ataukah itu adalah propaganda untuk mencerai-beraikan kalimat tauhid. Waspadailah !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak punya hujjah, selain lontaran ucapan-ucapan batil, “Jangan kalian memecah barisan dari dalam”(26) , “Jangan kalian menghamburkan debu di luar”(27) , “Jangan kalian mengobarkan khilaf di natara kaum muslimin!”, “Kita bersatu dalam perkara yang kita sepakati, dan saling memaafkan dalam perkara yang kita perselisihkan”. Demikianlah halnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman yang paling rendah, kita katakan kepada mereka, “Apakah para pelaku kebatilan itu mau diam afar kita juga bisa diam; ataukah mereka menyerang aqidah di depan mata dan pendengaran kita, lalu kita diminta diam? Ya Allah, ini tak mungkin !!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memohon perlindungan kepada Allah bagi setiap muslim dari serangan hujjah orang-orang Yahudi. Mereka (orang-orang Yahudi) berselisih (berpecah-belah) tentang Al-Kitab, dan menyelisihi Al-Kitab. Sekalipun demikian mereka berusaha menampakkan persatuan dan kebersamaan. Namun Allah -Ta’ala- telah mendustakan mereka seraya berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. yang demikian itu Karena Sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. (QS. Al-Hasyr:14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara sebab mereka dilaknat, apa yang disebutkan oleh Allah dalam firman-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat”. (QS. Al-Maa’idah:79)” . Selesai ucapan Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah-.(28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Bakr Abu Zaid -hafizhahullah- berkata lagi,“Oleh karena ini, Jika Anda melihat ada orang yang membantah orang menyelisihi (kebenaran, -pent) dalam hal keganjilan fiqih, atau ucapan bid’ah, maka bersyukurlah kepadanya atas pembelaannya, sesuai kemampuannya. Janganlah engkau menggembosinya dengan ucapan yang hina ini, (”Kenapa orang-orang sekuler tak dibantah?!“). Manusia masing-masing memiliki kemampuan dan bakat (29) , sedang membantah kebatilan adalah wajib (bagi setiap orang,-pent), walaupun bagaimana tingkatannya. Setiap muslim berada dalam batas pertahanan agamanya”. [Lihat Ar-Rodd ala Al-Mukholif (hal.57), dan Sittu Duror (hal.111)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memberikan peringatan sesatnya suatu kelompok , baik dalam bentuk ceramah, maupun tulisan, itu bukanlah ghibah yang diharamkan. Boleh menyebutkan kesesatan seseorang, dan penyimpangannya di depan orang banyak, jika kemaslahatan menuntut hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim An-Nakho’iy-rahimahullah- berkata, “Tak ada ghibah bagi pelaku bid’ah (ajaran baru)”. [Lihat Sunan Ad-Darimiy (394)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad bin Bundar As-Sabbak Al-Jurjaniy-rahimahullah- berkata, “Aku berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Sungguh amat berat aku bilang, “si Fulan orangnya lemah, si fulan pendusta”.Imam Ahmad berkata, “Jika kau diam, dan aku juga diam, maka siapakah yang akan memberitahukan seorang yang jahil bahwa ini yang benar, dan ini yang sakit (salah)”. [Lihat Thobaqot Al-Hanabilah (1/287)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kami nyatakan bahwa mengingkari penyimpangan, dan kekeliruan sebuah kelompok atau person bukanlah celaan atau ghibah. Tapi ia merupakan nasihat yang akan menjaga kemurnian Islam dari tangan-tangan jahil. Andaikan pengingkaran seperti ini tak ada, maka hancurlah agama yang suci ini, dan dunia ikut menjadi binasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam”. (QS. Al-Baqoroh: 251 )..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid- masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Hajj: 40).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;=====================&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Footnote :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1) Adapun kitab ini, maka ia telah dibantah tuntas oleh Ustadz Dzul Qornain dalam kitabnya “Meraih Kemulian Melalui Jihad, bukan Kenistaan”, dan Ustadz Luqman Ba’abduh dalam “Mereka itu adalah Teroris”. Jazahumallah khoiron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) Dua kitab ini telah dibantah oleh Ustadz Luqman Ba’abduh -hafizhahullah- dalam kitabnya “Menebar Dusta, Membela Teroris-Khawarij”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3) Selain itu, seorang yang tak mau menyebutkan identitasnya telah mengirim SMS kepada sebagian salafiyyun dengan membanggakan kitab itu. Di lain tempat lagi, seorang anggota Wahdah Islamiyah (WI) juga “perang” dengan seorang ikhwah salafiy lewat SMS dengan bersenjatakan buku ini. Dengan bangganya, mereka menebar syubuhat di kalangan salafiyyun. Sedang Cordova Agency (milik anggaota WI) menyebarkan buku ini dalam rangka menyebar syubhat. Mereka telah ta’awun di atas dosa dan permusuhan. Nas’alullahal afiyah was salamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4) Selanjutnya kami sebut dengan “BSDS“&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(5) Selanjutnya kami sebut dengan Penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(6) Dari sini kita tahu bahwa yang dimaksudkan oleh Penulis dengan pengaku salafi adalah ulama salafiyyah, seperti Syaikh Al-Albaniy, Muqbil Al-Wadi’iy, Robi’, serta murid-murid mereka atau ulama’ salafiyyun secara global dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam kebenaran. Mereka inilah yang gigih menjelaskan aqidah, dan mengingatkan ummat tentang penyimpangan hizbiyyah dan ahli bid’ah sampai Penulis berang dan emosi melihat usaha baik mereka ini. Akhirnya, ia ingin menutupi kebaikan para ulama itu dengan menulis buku BSDS-nya yang penuh dengan tuduhan keji seperti yang Anda akan lihat, Insya’ Allah !! Kenapa ia menulisnya? Yah, untuk membela Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, Salman, Safar Al-Hawaliy, A’idh Al-Qorniy, dan hizbiyyun secara umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(7) Kami tak mau mengatakan bahwa Penulis menipu, sebab nanti dianggap lagi suka mencela. Sekalipun tak ada salahnya jika kita mau katakan demikian sebagaimana yang dilakukan oleh Penulis dalam beberapa tempat dalam kitabnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(8) Tapi di lain sisi, usai melarang orang “mencela”, eh malah ia balik “mencela” sebagaimana Anda akan melihat hal itu dalam tulisan ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(9) Insya’ Allah -Ta’ala- kami akan membantah pernyataan Penulis yang melarang manusia men-tashnif dalam pembahasan-pembahasan berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(10) Tashnif semacam ini juga dilakukan oleh sebagian da’I hizbiyyah yang membagi salafiyyun menjadi dua: salafi haraki, dan salafi Yamani. Yah, sekalipun pembagian ini batil menurut kaedah as-sabr wat taqsim!! Namun demikianlah realita mereka; melarang orang lain melakukan tasbnif, tapi malah mereka adalah gem     dan dedengkotnya pelaku tashnif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah -Ta’ala- berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab? Maka tidaklah kamu berpikir?”. (QS. Al-Baqoroh:44 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(11) Benar sekali apa yang dinyatakan oleh beliau !! Tak mungkin Ahlus Sunnah (baca: Salafiyyun) akan bergabung dengan Khawarij, yaitu orang-orang senang memberontak kepada pemerintahnya, baik berupa demo, celaan terhadap pemerintah, perlawanan bersenjata di hadapan penguasa. Tak mungkin Salafiyyun akan bersatu dengan Tabligh yang gandrung sufiyyah, atau HTI, At-Turots, IM dan lainnya yang senang mencela pemerintah, dan mendemo mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(12) Menuduh Salafiyyun mengemban tugas Iblis, ini adalah salah satu tanda bahwa Penulis Memiliki Lisan yang Tajam dalam Mencela Orang. Masak para salafiyyun dianggap membawa tugas Iblis. Nanti kita lihat –insya’ Allah- siapakah yang mengemban misi Iblis ??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(13) Adapun seorang da’i Wahdah Islamiyyah (Muhammad Ihsan Zainuddin) yang getol menyudutkan salafiyyun secara zholim, maka ia berkata dalam mendefinisikan kata tashnif dalam sebuah artikel yang berjudul Fenomena Tashnif di Tengah Para Pejuang Da’wah (1), “Fenomena pemberian label dan cap kepada orang lain”.[Lihat Majalah Islamy (2/1/1426 H) (hal.48)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(14) Saya khawatir jika ini adalah pekerjaan si Penulis BSDS dalam segala majelis dan keadaannya sehingga ia bisa mengeluarkan kitab BSDS !! Lempar batu sembunyi tangan. Penulis BSDS dalam kitabnya ini telah men-tashnif salafiyyun ke dalam 6 kelompok sebagaimana Anda bisa lihat dalam BSDS (hal. 71-72) ketika ia membagi salafiyyun menjadi: Al-Hasadah, Al-’Uqdah, Al-Murtaziqoh, Al-Muqollidun, Al-Makhdu’un, dan An-Naqimun. Ini adalah bukti autentik bahwa Penulis BSDS sendiri ikut men-tashnif manusia. Ingat, jangan sampai tuduhan yang kita lontarkan telah beranak pianak dan berpindah dari mulut ke mulut, tapi ternyata tidak satu pun tuduhan itu terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fa’tabiruu ya ulil abshor !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(15) Lihat Mu’jam Maqooyiis Al-Lughoh, hal.554 karya Abul Husain Ibn Faris cet. Dar Ihya’ At-Turoots Al-Aroby, dan Lisan Al-Arab (7/423) cet. Dar Ihya’ At-Turots Al-Araby dan Mu’assasah At-Tarikh Al-Araby. Adapun seorang da’i Wahdah Islamiyyah (Muhammad Ihsan Zainuddin) yang getol menyudutkan salafiyyun secara zholim, maka ia berkata dalam mendefinisikan kata tashnif dalam sebuah artikel yang berjudul Fenomena Tashnif di Tengah Para Pejuang Da’wah (1), “Fenomena pemberian label dan cap kepada orang lain”.[Lihat Majalah Islamy (2/1/1426 H) (hal.48)]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(16) Misalnya lihat Shohih Al-Bukhoriy (Kitab Istitab Al-Murtaddin: bab Qotlil Khawarij wal Mulhidin ba’da Iqomah Al-Hujjah alaihim),Shohih Muslim (Kitab Az-Zakah: bab Dzikr Al-Khawarij wa Shifatuhum), Sunan Abi Dawud (Kitab As-Sunnah; bab Al-Khawarij), Sunan At-Tirmidziy (Kitab Al-Fitan: bab Fi Shifah Al-Khawarij), Sunan An-Nasa’iy (Kitab Tahrim Ad-Dam; bab Man Syahhar Saifah Tsumma Wadho’ah fin Naas), Sunan Ibni Majah (Fadhl Ibni Abbas: bab Dzikr Al-Khawarij)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(17) Para sahabat, Tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(18) Lihat Mauqif Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah (1/64)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(19) HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (4691). Di-hasan-kan oleh Muhaddits Negeri Syam Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy Al-Atsariy-rahimahullah- dalam Zhilal Al-Jannah (338)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(20) Singkatan dari Markaz An-Nasyath Al-Islamiy. Orang yang menyingkatnya bukan Salafiyyun. Yang sering menyingkat demikian adalah orang-orang WI,!! Markaz An-Nasyath Al-Islamiy dahulu adalah yayasan yang didirikan oleh Salafiyyun di Makassar sebagai wadah dalam mempermudah urusan dakwah. Salafiyyun tak pernah menisbahkan diri kepada MANIS. Ketika salafiyyun ditanya, antum ikut kajian apa atau dari mana? Jawabnya tidak menyatakan kami dari MANIS. Yang menisbahkan Salafiyyun kepada MANIS (Markaz An-Nasyath Al-Islamiy) adalah orang-orang YWI dalam menyudutkan Salafiyyun di Makassar. Kebanyakan Salafiyyun tak kenal apa itu MANIS, kecuali setelah dimasyhurkan oleh YWI. Para da’I salafiyyun tidak mengenal selain istilah Salafiy atau Atsariy. Mereka hanya menisbahkan diri kepadanya. Ketika ditanya, apa madzhab dan manhaj antum. Mereka jawab, kami adalah salafiy atau atsariy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(21) Sampai ada diantara mereka, masjidnya pun disebut dengan “ Wihdatul Ummah” (Persatuan Ummat). Sekalipun demikian, merekalah yang pertama kali mengayunkan palu godam atas ummat ini. Buktinya, mereka mengajak ummat untuk berdemo sebagai tanda pembangkangan mereka kepada pemerintah muslim. Mereka melarang anak-anak untuk kajian ke tempat lain sekalipun kajian pada salafiyyin. Bukankah ini merupakan pemecahbelahan ummat? Jelas ini pemecahbelahan ummat, bahkan juga tashnif. Yang satunya bilang: “kami Wahdah Islamiyyah”, yang lain bilang, “Kami Hizbut Tahrir”; yang lain lagi bilang, “Kami Tabligh”, dan satu lagi bilang, “Ikhwanul Muslimin”. Satu sama lainnya saling melarang anak kajiannya untuk bergabung dengan yang lainnya karena takut -alasannya- kalau anak kajiannya “direbut” (baca: dirampas) orang. Bukankah semua ini tashnif !!?fa’tabiruu ya ulil abshor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(22) Lihat Majalah Al-Islamy (2/I/1426 H, hal.54)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(23) HR. At-Tirmidziy dalam As-Sunan (2641), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (444), Ibnu Wadhdhoh dalam Al-Bida’ wa An-Nahyu anha (hal.15-16), Al-Ajurriy (16), Al-Uqoiliy dalam Adh-Dhu’afaa’ (2/262/no.815), Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam As-Sunnah (hal.18), Al-Lalika’iy dalam Syarh Al-I’tiqod (147), dan Al-Ashbahaniy dalam Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah (1/107). Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaliy Al-Atsariy dalam Basho’ir Dzawisy Syarof (hal.75), cet. Maktabah Al-Furqon, UEA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(24) Perhatikan Penulis telah mencap salafiyyun dengan kesesatan !! Bukankah ini adalah celaan ?! Fa’tabiru ya ulil abshor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(25) Tapi tentunya dengan cara hikmah (bijak), sebab salafiyyun tahu berbuat bijak, bukan seperti yang dituduhkan oleh kaum hizbiyyun bahwa mereka (Salafiyyun) adalah kaum yang jahil, tidak memiliki fikih dalam mengingkari. Malah kaum hizbiyyun sebenarnya yang jahil, tak berhikmah. Lihat saja ketika mereka menasihati penguasa, mereka menyelisihi manhaj salaf !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(26) Istilah kita, “Jangan mengguting dalam lipatan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(27) Istilah kita, “Jangan mengacaukan suasana”, “Jangan memancing di air keruh”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(28) Lihat Ar-Rodd ala Al-Mukholif min Ushul Al-Islam (hal.75-76) karya Syaikh Abu Zaid, dan Sittu Duror min Ushul Ahlil Atsar (hal. 109-110) karya Syaikh Abdul Malik Romadhoniy Al-Jaza’iriy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(29) Maksud beliau bahwa jika ada orang yang membantah pelaku kebatilan, yah itulah kemampuan dan kesempatannya. Lalu kenapa tidak membantah orang-orang sekuler, yah serahkan kepada yang lain lagi, yang memiliki kemampuan membantah orang-orang sekuler !! Wallahu A’lam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://almakassari.com/?p=238#more-238&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-652304362140276642?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/652304362140276642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/652304362140276642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/memang-harus-beda-antara-salafiyyah.html' title='Memang Harus Beda Antara SALAFIYYAH Dengan HIZBIYYAH'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-2943626188180547694</id><published>2008-04-18T14:16:00.002+03:00</published><updated>2008-04-18T14:20:44.397+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bantahan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ikhwanul Muslimin'/><title type='text'>Benarkah Salafiyun Hanya Menyibukkan Diri Dalam Pembicaraan Masalah Hizbiyyah?</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: rgb(0, 51, 255);"&gt;BENARKAH SALAFIYUN HANYA MENYIBUKKAN DIRI &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: 'Times New Roman'; color: windowtext;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: rgb(0, 51, 255);"&gt;DALAM PEMBICARAAN MASALAH HIZBIYYAH?*)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 13pt; font-family: 'Times New Roman'; color: windowtext;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;span style="color:#0033ff;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;(Bantahan Terhadap Saudara Al-Banna -Hizbi Khobits-)**)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Tanya (Ustadz Wildan) :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pendapat Anda tentang perkataan sebagian da’i yang menyatakan tidak seyogyanya bagi para penuntut ilmu menyibukkan diri mereka dengan membicarakan al-hizbiyyah, aljam’iyyah al-hizbiyyah dan al-hizbiyyun melainkan seyogyanya bagi mereka memfokuskan diri mereka terhadap masalah-masalah aqidah dan ilmu-ilmu yang lainnya?&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Jawab (Syaikh Kholid) :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang mengatakan as-Salafiyyun itu disibukkan dengan perkara ini saja. Alhamdulillah dakwaah salafiyyah telah melahirkan para Ulama… (ada perkataan yang tidak jelas) ….Mereka, as- Salafiyyun adalah orang-orang yang antusias terhadap ilmu dan orang-orang yang paling disibukkan dengan ilmu, akan tetapi ini (masalah tahdzir) merupakan pintu yang tidak dijauhi kecuali oleh seorang mubtadi’ atau seorang hizby yang busuk. Dan ini merupakan pintu yang dijadikan oleh as-salafiyyun sebagai pagar yang memagari manhaj mereka. Dan ini telah mereka warisi dari para salaf ash- Shalih dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pagar ini tidak seyogyanya diremehkan (yaitu at-Tahdzir terhadap al-hizbiyyah dan al-hizbiyyun). As-Salafiyyun merupakan orang yg paling antusias memperhatikan waktu-waktu mereka dalam menuntut ilmu. Ketika mereka menyebutkan hal-hal ini (yaitu al-hizbiyyun) mereka menyebutkan mereka untuk mentahdzir mereka dan menjelaskan kebatilan yg ada pada diri mereka. Silakan lihat perkataan yg indah dan mutiara salafiyyah yg sangat indah yang disebutkan oleh al-Imaam Ibnu Qayyim di dalam kitabnya Al-Fawaaid. Engkau baca perkataan ini, beliau sebutkan ketika beliau menjelaskan Firman Allah Ta’ala: “Akan jelas jalan orang-orang yg jahat “...(ada perkataan yg tidak jelas) …. Jalan orang-orang yang jahat itu bermacam-macam, begitupula metode-metode mereka bermacam-macam dan Ibnu Qayyim menjelaskan, yang wajib bagi seorang Muslim terhadap orang-orang yang jahat tersebut yang merusak aqidah manusia manhaj mereka dan dakwah mereka. Maka as-Salafiyyun, dengan rahmat Allah, adalah orang-orang yang disibukkan dengan ilmu sedangkan mereka (alhizbiyyun) adalah orang-orang yang menanamkan kegemaran pada para syabaab ttg anasyid-anasyid, main bola dan sandiwara-sandiwara dan perkara-perkara yang lainnya. Tidak menelorkan tholibul ilmu dan tidak pula mereka antusias untuk menuntut ilmu dari sumbernya. Subhaanallah, jadi mereka adalah orang-orang yang paling banyak menghabiskan waktu mereka dalam perkara-perkara yang telah kami sebutkan tadi yaitu dalam perkara-perkara yang batil yang menghabiskan waktu mereka. As- Salafiyyun ketika mereka mentahdzir mereka tidak berbicara tentang tahdzir ini sekedar berbicara, melainkan tahdzir tersebut merupakan pagar dan juga merupakan upaya membentengi dan melindungi al-manhaj as-salafiy dan tadi telah saya sebutkan kepada kalian bahwa ini merupakan kebiasaaan para as-salaf. Sebagaimana dikatakan oleh Ruwaifi’, “Kami mendatangi Abul ‘Aliyah pada waktu itu kami adalah pemuda yang masih muda belia dimana kami ditahdzir oleh Abul ‘Aliyah untuk mendatangi para al-Qushash (tukang cerita). Ini adalah kebiasaan para as-Salaf. Aspek tahdzir merupaka aspek yg penting ia merupaka pagar. Adapun tindakan membiarkan para syabaab begitu saja tidak dijelaskan kepada mereka hakikat/tentang apa yang harus dilakukan sehingga seorang Syabaab pergi dan mengambil ilmu dari sembarang orang dan kita dikejutkan dengan bid’ah-bid’ah dan penyimpangan-penyimpangan manhajiyah yang terjadi bahkan ada diantara mereka yang memerangi ad-da’wah as-salafiyyah dengan peperangan yang membinasakan dan bentuk peperangan yang dahsyat. Dan syubhat ini adalah syubhat yang ditiupkan oleh orang-orang yang lemah mental dan jiwanya yaitu orang yang mengatakan “tidak perlu kita berbicara ttg orang-orang kafir tsb, tidak perlu kita berbicara ttg individu-individu ini, tidak ada alasan bagi kita untuk mentahdzir mereka dan seterusnya. Al-Jarh wa at-Ta’dil merupakan pintu yang sangat penting sebagaimana yang kami katakana. Al-Jarh wa at-Ta’dil (salah satu cabang ilmu hadits tentang kritik/celaan dan pujian) untuk memelihara dan melindungi manhaj salafi dari orang-orang yg menyusupkan hal-hal yang tidak benar dari kalangan al-hizbiyyun yang merusak aqidah manusia dan merusak manhaj para syabaab dan menjadikan mereka menyimpang dengan penyimpangan yang berbahaya atau besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Catatan Kaki:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Judul dari Admin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**)Al-Banna adalah nama seseorang yang memberikan komentar pada website kami. Komentar-komentarnya selalu menunjukkan pembelaan pada tokoh-tokoh Ikhwanul Muflisin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Sumber:&lt;/span&gt; Tanya Jawab Al-Ustadz Wildan hafizahullah dengan Syaikh Kholid Ar-Radadi hafizahullah (Dosen Universitas Islam Madinah Al-Munawaroh, KSA) pada tanggal 17 Dzulhijjah 1423/ 19 February 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;www.abdurrahman.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-2943626188180547694?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/2943626188180547694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/2943626188180547694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/benarkah-salafiyun-hanya-menyibukkan.html' title='Benarkah Salafiyun Hanya Menyibukkan Diri Dalam Pembicaraan Masalah Hizbiyyah?'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-6709464170646243658</id><published>2008-04-18T13:56:00.003+03:00</published><updated>2008-04-18T14:05:27.116+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Ikhwanul Muslimin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ikhwanul Muslimin'/><title type='text'>Bahaya Pemikiran Sayyid Quthb</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;BAHAYA PEMIKIRAN SAYYID QUTHB&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;Oleh:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;Al-Ustadz Muhammad ‘Umar As-Sewed Hafizahullah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;span dir="rtl" style="font-size: 12pt; font-family: 'Times New Roman'; color: windowtext;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukan riwayat hidup beliau yang akan saya tulis dalam kertas ini. Sudah terlalu banyak orang yang menuliskannya dengan indah, bahkan kadang berlebihan. Bukan pula perhitungan amal dan perbandingan antara kebaikan dan kejelekan yang akan saya terangkan karena perhitungan amal dan hisab akan Allah tegakkan di hari perhitungan kelak dengan teliti dan akan Allah balas dengan seadil-adilnya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya menukilkan nasihat untuk seluruh kaum muslimin agar berhati-hati dari pemikiran Sayid Quthb yang berbahaya dan telah dituangkan kepada kaum muslimin dengan berbagai macam bahasa. Pemikiran beliau ini laku keras di pasaran karena kekaguman kaum muslimin kepada gerakan, keberanian dan digantungnya beliau oleh tirani Mesir. Sehingga ketika mereka mendengar peringatan Ahlus Sunnah dari bahaya pemikiran Sayid Quthb, mereka tersentak kaget. Jantung mereka seakan berhenti sesaat. “Seorang pejuang Islam yang mati syahid di tiang gantungan tirani Mesir dikatakan sesat?” Seakan-akan orang yang mati di tiang gantungan tidak mungkin memiliki penyelewengan dan bahaya pemikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untuk Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian untuk kebaikan dan keselamatan manhaj kaum muslimin serta untuk kebaikan Sayid Quthb sendiri yaitu agar penyelewengan dan kerancuan pemikirannya tidak diikuti oleh orang yang lebih banyak yang berarti menambah dosanya, kami akan jelaskan beberapa pemikiran beliau yang sangat berbahaya khususnya dalam masalah pengkafiran kaum muslimin. Semoga dapat bermanfaat bagi kita dan dapat berhati-hati darinya. Untuk mem    kar kesesatan pemikiran Sayid Quthb, maka saya memakai kitab Adlwa’ Islamiyah ‘ala Aqidah Sayid Quthb oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali hafidhahullah sebagai rujukan utamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;KERANCUAN PEMAHAMAN SAYID TERHADAP “LA ILAAHA ILLALLAH”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran takfir Sayid Quthb merupakan akibat dari akidah dan keyakinan yang salah terhadap makna kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Dia menafsirkan kata ilah dengan al-hakim (yang menghukumi). Penafsiran ini persis seperti pemikiran Abul A’la Al-Maududi yang ternyata mengambil pemahaman ini dari seorang ahli filsafat barat, yaitu Haigle dalam bukunya Al-Hukumah Al-Kulliyah (Pemerintahan yang Menyeluruh). Syaikh Nadzir Al-Kasymiri (seorang ulama salaf di India) berkata: “Syaikh Maududi menampilkan pemikiran filsafat barat dari buku Al-Hukumah Al-Kulliyah dengan dibungkus pemikiran Islam.” (Adlwa’ Islamiyah hal. 59)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kita nukilkan di sini terjemahan ucapan Sayid dalam bukunya Al-Adalah Al-Ijtima’iyah (Keadilan Sosial) hal. 182 cet. 12: “Sesungguhnya perkara yang menyakinkan dalam Dien ini adalah bahwasanya tidak akan tegak di hati ini akidah dan tidak pula dalam kehidupan dunia, kecuali dengan mempersaksikan bahwasanya laa ilaha illallah, yaitu laa hakimiyata illa lillah (tidak ada kehakiman kecuali untuk Allah), hakimiyah yang berujud qadla dan qadar-Nya sebagaimana terwujud dalam syariat dan perintahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula ucapannya dalam menafsirkan surat Al-Qashash: Huwallahulladzi la ilaha illahuwa. Dia berkata: “Yaitu tidak ada sekutu bagi-Nya dalam penciptaan dan ikhtiar.” (Fi Dhilalil Qur`an 5/2707)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lebih jelas lagi dia berkata dalam tafsir surat An-Nas bahwa Al-ilah adalah al-musta’li, al-mustauli, al-mutasallith. (Fi Dhilal 6/4010) yang semuanya itu bermakna kurang lebih sama yaitu “Yang Menguasai”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah Sayid mempersempit makna ilah hanya kepada rububiyah dan melalaikan makna yang hakiki dari kata ilah yang mengandung makna uluhiyah yaitu “yang berhak untuk diibadahi”. Penafsiran Sayid ini jelas bertentangan dengan penafsiran para ulama Ahlus Sunnah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Jarir berkata dalam menafsirkan ayat dalam surat Al-Qashash di atas: “Allah yang Maha Tinggi sebutannya, Rabb kamu –wahai Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam— adalah yang berhak untuk diibadahi yang tidak layak peribadatan itu diberikan kecuali kepadaNya dan tidak ada yang boleh diibadahi kecuali Dia.” (Tafsir At-Thabari 20/102)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula dalam Tafsir Ibnu Katsir dikatakan: “Yaitu yang menyendiri dengan uluhiyah dan tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Dia. Sebagaimana tidak ada penguasa yang menciptakan apa yang dikehendakinya dan memilih sekehendaknya kecuali Dia.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/39 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah para ulama Ahlus Sunnah memahami kalimat tauhid seperti pemahaman para pendahulunya dari kalangan salafus shalih, yaitu tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah (uluhiyah) yang terkandung di dalamnya makna rububiyah dan asma wa sifat. Adapun pemahaman Sayid bahwa al-ilah adalah al-hakim atau al-musta’li, al-mustauli dan al-mutasallith (penguasa), maka perlu dipertanyakan dari mana dia mendapatkan pemahaman seperti ini. Siapa yang memahami demikian dari kalangan shahabat atau para ulama salaf?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman ini jelas menyimpang karena Ahlus Sunnah secara umum telah memahami bahwa tauhid rububiyah –yaitu mengakui bahwa Allah penguasa dan pencipta— telah diakui oleh sebagian besar orang-orang musyrik jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman tentang mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;قُلْ لِمَنِ الأَرْضُ وَمَنْ فِيهَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَذَكَّرُونَ قُلْ مَنْ رَبُّ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَيَقُولُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;لِلَّهِ قُلْ أَفَلاَ تَتَّقُونَ قُلْ مَنْ بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;شَيْءٍ وَهُوَ يُجِيرُ وَلاَ يُجَارُ عَلَيْهِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;سَيَقُولُونَ لِلَّهِ قُلْ فَأَنَّى تُسْحَرُون&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;Katakanlah: ‘Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak ingat?’ Katakanlah: ‘Siapa pemilik langit yang tujuh dan pemilik ‘Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘Maka apakah kamu tidak bertakwa?’ Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?’ Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?’ (Al-Mukminun: 84-89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakah Sayid tentang ayat-ayat Allah yang menjelaskan makna kalimat tauhid dengan tauhidul ibadah, mengesakan Allah dalam beribadah kepada-Nya dan tidak beribadah kepada selain-Nya? Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُون&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’ (Al-Anbiya: 25)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sama-sama mengetahui betapa luasnya makna ibadah yang mencakup keyakinan, kecintaan, ketaatan, pengabdian, pengagungan, ketundukan, kekhusyu’an, ketakutan, harapan dan juga mencakup amalan badan seperti sujud, ruku’, thawaf, doa, istighatsah, isti’anah, serta mencakup puji-pujian lisan seperti tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan lain-lain. Semua itu dilakukan oleh hamba karena rasa butuh hamba kepada Allah dalam rangka (menghambakan diri) dan beribadah kepada Allah. Tidak diberikan jenis-jenis peribadatan ini kecuali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya Sayid Quthb membawa nama Arab dan bahasa Arab dalam “pemahaman”nya itu. Dia berkata: “…bahwasanya mereka (orang-orang Arab) dahulu telah mengetahui dengan bahasa mereka apa makna ilah dan makna laa ilaha illallah.… Mereka mengetahui bahwa uluhiyah adalah hakimiyah yang paling tinggi.” (Fi Dhilal 2/1005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga berkata pada halaman berikutnya: “Laa ilaha illallah sebagaimana yang dipahami oleh orang Arab yang mengerti apa-apa yang ditunjukkan oleh bahasanya yaitu: Tidak ada hakimiyah kecuali untuk Allah dan tidak ada syariat kecuali dari Allah serta tidak ada kekuasaan seseorang atas seseorang karena kekuasaan seluruhnya milik Allah.” (Fi Dhilal 2/1006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Rabi’ dalam membantah ucapan ini berkata: “Sesungguhnya apa yang dinisbahkan oleh Sayid kepada bahasa Arab yaitu tentang makna uluhiyah adalah hakimiyah, tidak dikenal oleh orang Arab dan tidak pula dikenal oleh pakar-pakar bahasa Arab ataupun selain mereka. Bahkan al-ilah menurut orang-orang arab adalah al-ma’bud (yang diibadahi) yang para hamba mendekatkan diri kepadaNya dengan ibadah disertai ketundukan, penghinaan diri, kecintaan dan ketakutan, … Bukan bermakna sesuatu yang mereka berhukum kepadanya.” (hal. 63)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Arab jahiliyah dahulu memiliki tokoh-tokoh dan pemimpin-pemimpin yang mereka berhukum kepadanya, tetapi mereka tidak menamakannya dengan ILAH (sesembahan). Bahkan sebaliknya, mereka memiliki berhala-berhala yang mereka namakan ILAH-ILAH. Seperti LATTA yang berbentuk kuburan. UZZA yang berbentuk tempat keramat, serta patung-patung lainnya yang mereka bertawasul, berkurban dan beribadah kepadanya, tetapi mereka tidak menamakan perbuatan mereka dengan berhukum, bertahkim, atau HAKIMIYAH!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula di masa mereka terdapat raja-raja di timur dan di barat, tetapi mereka tidak menamakannya dengan ILAH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat! Yang kita bantah di sini bukan kewajiban bertahkim kepada Allah, melainkan pemahaman sempit Sayid dengan mengatasnamakan bahasa Arab dan orang-orang Arab. Padahal sama sekali tidak dikenal dalam bahasa Arab bahwa makna ILAH adalah HAKIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;KABURNYA PEMAHAMAN SAYID TERHADAP RUBUBIYAH DAN ULUHIYAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang Sayid menafsirkan makna uluhiyah dengan rububiyah. Terkadang pula sebaliknya. Sayid berkata dalam tafsir Surat Ibrahim ayat 52: “Makna al-ilah adalah Dzat yang berhak untuk menjadi RABB yaitu yang menghakimi, Yang memiliki, Yang berbuat, Yang membuat syariat dan Yang mengarahkan.” (Fi Dhilal 4/2114)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dia berkata bahwa pertikaian antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum musyrikin jahiliyah adalah dalam masalah rububiyah. Berbeda dengan apa yang disampaikan oleh seluruh ulama ahlus sunnah. Dia mengatakan: “…perkara uluhiyah sedikit sekali menjadi bahan pertikaian pada kebanyakan orang-orang jahiliyah, khususnya jahiliyah Arab. Hanya saja yang selalu menjadi bahan pertikaian adalah masalah rububiyah. Yaitu masalah penerapan Dien pada kehidupan dunia ini, berupa amal nyata yang mempengaruhi kehidupan manusia.” (Fi Dhilal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ucapan ini terlihat bahwa Sayid tidak dapat membedakan antara uluhiyah dan rububiyah. Kemudian apakah akibat dari kerancuan pemahaman Sayid terhadap rububiyah dan uluhiyah dan sempitnya pandangan Sayid terhadap laa ilaha illallah ini?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;PENGKAFIRAN SAYID TERHADAP KAUM MUSLIMIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya sungguh mengerikan! Dia mengkafirkan seluruh kaum muslimin dan umat Islam secara tersirat dan tersurat dan meremehkan kesyirikan dalam masalah ibadah. Perhatikanlah ucapannya: “…termasuk dalam lingkup masyarakat jahiliyah adalah masyarakat yang mengaku dirinya muslim. Masyarakat tersebut masuk ke dalam lingkungan ini bukan karena meyakini uluhiyah kepada selain Allah dan tidak pula karena menghadapkan syiar-syiar ibadah kepada selain Allah, tetapi mereka masuk ke dalam masyarakat jahiliyah ini karena tidak beragama dengan ‘peribadatan’ kepada Allah dalam undang-undang kehidupan mereka. Maka yang demikian –walaupun mereka tidak meyakini uluhiyah seorang pun kecuali Allah— tetapi mereka telah memberikan yang paling istimewa dari keistimewaan-keistimewaan ketuhanan kepada selain Allah dan beragama dengan HAKIMIYAH kepada selain Allah….” (Fi Dhilal)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak dari ucapannya bahwa masyarakat Islam hanya pengakuan, padahal sebenarnya mereka adalah masyarakat jahiliyah. Terkesan pula bahwa memberikan syiar-syiar ibadah kepada selain Allah adalah masalah sepele, bahkan sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali bahwa hampir pada semua tulisan Sayid dalam Fi Dhilalil Qur`an dan yang lainnya tidak memperdulikan para penyembah kubur, orang-orang yang melampaui batas terhadap ahlul bait dan para wali, serta orang-orang yang memberikan sifat uluhiyah dan ubudiyah kepada mereka. Dia tidak menghukumi manusia kecuali dengan penyelisihannya terhadap hakimiyah. Dan penafsiran Sayid terhadap la ilaha illallah tidak keluar dari HAKIMIYAH, KEKUASAAN dan KEPEMIMPINAN semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga ucapan Sayid ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 106:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلاَّ وَهُمْ مُشْرِكُو&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan musyrik. (Yusuf: 106)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Sayid menyebutkan syirik yang samar dia mengatakan: “Dan di sana ada syirik yang tampak jelas yaitu tunduk kepada selain Allah dalam salah satu urusan kehidupan dan tunduk kepada aturan syariat yang dijadikan (oleh manusia) sebagai hukum. Hal ini merupakan asas dalam kesyirikan yang tidak bisa dibantah. Demikian pula tunduk kepada adat-adat kebiasaan seperti mengadakan perayaan-perayaan, musim-musim yang diatur oleh manusia padahal tidak disyariatkan oleh Allah, tunduk kepada aturan pakaian yang menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah untuk ditutupi dan membuka aurat-aurat yang syariat Allah telah menetapkan untuk ditutup[1]. Urusan seperti ini lebih dari sekedar pelanggaran dan dosa penyelisihan syariat, karena urusan itu merupakan ketaatan dan ketundukan kepada pemahaman yang umum pada masyarakat berupa ciptaan hamba dan meninggalkan perkara jelas yang muncul dari penguasa para hamba….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya ketika itu bukan lagi dia sebagai dosa melainkan pensyariatan karena yang demikian merupakan ketundukan kepada selain Allah dalam perkara yang menyelisihi perintah Allah….” (Fi Dhilal 4/2023)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ucapan Sayid di atas terdapat dua bahaya besar: Pertama, pengkafiran kaum muslimin karena dosa-dosa seperti mengikuti adat kebiasaan, berpakaian yang menyelisihi syariat dan lain-lain. Kedua, penafsiran Al-Qur`an tidak seperti apa yang dikehendaki Allah, khususnya dalam masalah kesyirikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terjadi karena Sayid bersikap ghuluw pada masalah hakimiyah sampai-sampai dia berkata: “Sesungguhnya kesyirikian mereka (jahiliyah) yang asasi bukan dalam keyakinan tetapi pada masalah hakimiyah.” (Fi Dhilal 3/1492)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh aneh pemahaman Sayid ini. Bagaimana kira-kira dia menghukumi raja Najasyi yang masuk Islam dengan keyakinannya dan belum sempat mempraktekkan hukum-hukum Islam dan belum menerapkan al-hakimiyah di negerinya? Kalau menurut pemahaman Sayid berarti dia tetap kafir karena –menurutnya— kesyirikan yang hakiki adalah pada penerapan hakimiyah dan bukan keyakinan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pemahaman Ahlus Sunnah adalah pemahaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda kepada para shahabat ketika mendengar Raja Najasyi meninggal:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;قَدْ تُوُفِّيَ الْيَوْمَ رَجُلٌ صَالِحٌ مِنَ الْحَبَشَةِ فَهَلُمَّ فَصَلُّوْا عَلَيْهِ. (رواه البخاري)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Telah meninggal hari ini seorang yang shalih dari Habasyah. Marilah kemari! Shalatkanlah dia! (HR. Bukhari dengan Fathul Bari 3/1320)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pendapat anda kalau raja Najasyi menerapkan hakimiyah tetapi tidak meyakini aqidah tauhid dan beribadah kepada kuburan-kuburan? Apakah Rasulullah akan menganggap dia sebagai muslim?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;ANGGAPAN SAYID BAHWA UMAT ISLAM TELAH LENYAP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku kaum muslimin, sesungguhnya Sayid Quthb tidak menganggap keberadaan kita sebagai muslimin. Dia menganggap umat Islam telah lenyap dengan lenyapnya kekhilafahan! Lihatlah dia berkata dalam bukunya Hadlirul Islam wa Mustaqbaluh (Islam kini dan esok): “Kami mengajak untuk mengembalikan kehidupan yang islami dalam masyarakat yang islami dengan hukum aqidah Islam dan pandangan yang islami, sebagaimana dihukumi pula oleh syariat Islam dan aturan yang islami. Kita telah mengetahui bahwa kehidupan Islam seperti ini telah berhenti sejak lama di seluruh permukaan bumi. Dan keberadaan Islam pun telah berhenti….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenanglah sebentar! Jangan tergesa-gesa menafsirkan dengan tafsiran pembelaan, karena Sayid akan berkata lebih jelas lagi, yaitu: “…kami menampakkan kenyataan yang terakhir ini walaupun akan menyebabkan munculnya benturan keras dan keputus asaan dari orang-orang yang masih tetap menginginkan untuk menjadi muslimin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah dia menyebut kaum muslimin dengan ungkapan: “Orang-orang yang ingin menjadi muslimin!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan yang hampir sama ia ucapkan pula dalam bukunya Al-Adalah Al-Ijtima’iyah, setelah dia membawakan ayat-ayat tentang hakimiyah: “Ketika kita memperhatikan seluruh permukaan bumi hari ini, di bawah cahaya ketetapan ilahi terhadap pemahaman Dien ini, kita tidak mendapatkan keberadaan Dien ini…. Sesungguhnya keberadaan Dien telah lenyap sejak kelompok terakhir dari kaum muslimin melepaskan pengesaan Allah dalam hakimiyah dalam kehidupan manusia. Yang demikian adalah ketika mereka meninggalkan berhukum dengan syariat Allah semata dalam segala aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus mengakui kenyataan pahit ini dan harus menampakkannya. Janganlah kita khawatir munculnya “putus harapan” dalam hati-hati kebanyakan orang-orang yang suka untuk menjadi muslimin. Mereka seharusnya meyakini bagaimana mereka dapat menjadi muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya musuh-musuh Dien ini telah menjalankan usaha sejak beberapa abad dan masih tetap melaksanakan usaha-usaha maksimal yang menipu dan jahat untuk merampas kehendak kebanyakan orang yang ingin menjadi muslimin?” (Al-Adalah hal. 183-184)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini terlihat pemikiran-pemikiran Sayid yang berbahaya di antaranya anggapan beliau bahwa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kehidupan Islam telah tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bahkan wujud Islam telah berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Anggapan bahwa kaum muslimin adalah orang-orang kafir jahiliyah yang menginginkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Inti Islam yang hakiki adalah tauhid hakimiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Dia mengharuskan dan menegaskan untuk mengumumkan pengkafiran umat Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah pengkafiran yang lebih jelas daripada pengkafiran Sayid Quthb ini?! Mana yang dinamakan pengkafiran kalau ucapan seperti ini tidak dinamakan pengkafiran? Perhatikanlah wahai orang-orang yang memiliki pandangan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;UMAT ISLAM TELAH MURTAD DAN ADZAB BAGI MEREKA LEBIH KERAS DARIPADA ORANG KAFIR LAINNYA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayid Quthb berkata: “Telah bergeser jaman, kembali seperti keadaan pada hari datangnya Dien ini kepada manusia (yaitu masa jahiliyah, pent). Telah murtad manusia menuju peribadatan kepada hamba-hamba dan menuju kerusakan agama-agama. Mereka telah berpaling dari la ilaha illallah, walaupun sekelompok dari mereka masih tetap mengumandangkan di menara-menara adzan la ilaha illallah tanpa memahami maksudnya, tanpa mengerti apa konsekwensinya, padahal dia mengulang-ulangnya. Juga tanpa menolak pensyariatan hakimiyah yang diaku oleh para hamba untuk diri-diri mereka. Hal ini sama dengan penuhanan (uluhiyah). Sama saja, apakah diaku oleh pribadi-pribadi atau team pensyariatan ataupun oleh masyarakat….” (Fi Dhilal 2/1057)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lebih kejam lagi dia berkata: “…yaitu kemanusiaan seluruhnya, termasuk di dalamnya mereka yang mengulang-ulang di menara-menara adzan di timur atau di barat bumi ini kalimat laa ilaha illallah tanpa maksud dan tanpa kenyataan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka paling berat dosanya dan paling keras adzabnya karena mereka telah murtad kepada peribadatan para hamba setelah jelas baginya petunjuk dan karena mereka sebelumnya berada dalam Dien Allah.” (Fi Dhilal 2/1057)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah betapa beraninya Sayid mengkafirkan kaum muslimin dan menganggap mereka orang-orang murtad yang paling keras adzabnya. Padahal mereka masih mengumandangkan adzan dan masih shalat. Lantas apa anggapan dia tentang peribadatan mereka di masjid-masjid?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;MASJID MENURUT SAYID ADALAH TEMPAT PERIBADATAN JAHILIYAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertolak dari pengkafiran dia terhadap masyarakat Islam, maka Sayid menganggap masjid-masjid mereka sebagai tempat-tempat peribadatan jahiliyah. Dia berkata ketika menafsirkan ucapan Allah dalam surat Yunus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;الصَّلاَةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِي&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: ‘Ambillah olehmu berdua beberapa rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat sembahyang dan dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang beriman. (Yunus: 87)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata: “…inilah pengalaman yang Allah tunjukkan kepada kelompok mukmin agar menjadi teladan. Bukan khusus bagi Bani Israil. Tapi ini adalah pengalaman iman yang murni. Kadang-kadang orang-orang beriman mendapati diri-diri mereka terusir pada suatu hari dari masyarakat jahiliyah, karena fitnah telah merata, thaghut telah bertambah som     dan manusia telah rusak, serta lingkungan telah membusuk. Demikian pula keadaan di jaman Fir’aun pada masa kini. Di sini Allah mengarahkan kita pada beberapa perkara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memisahkan diri dari masyarakat jahiliyah, busuknya, rusaknya dan kejelekannya sebisa mungkin. Dan mengumpulkan “kelompok mukmin” yang baik dan bersih dirinya untuk mensucikan, membersihkan dan melatih serta menyusun mereka hingga datang janji Allah untuk mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menghindari tempat-tempat peribadatan jahiliyah dan menjadikan rumah-rumah “kelompok muslim” sebagai masjid yang di sana mereka dapat merasakan keterpisahan mereka dari masyarakat jahiliyah. Kemudian di sana mereka melangsungkan peribadatan kepada Rabb mereka dengan cara yang benar. Dan melanjutkan dengan ibadah tersebut menuju semacam keteraturan (tandhim) dalam lingkungan suasana ibadah yang suci.” (Fi Dhilal 3/1816)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi kalau dakwah Sayid yang seperti ini dibiarkan?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas penafsiran yang batil ini akan mengakibatkan ditinggalkannya masjid-masjid dan munculnya Khawarij-Khawarij gaya baru yang memisahkan diri dari masyarakat Islam dan mengkafirkan mereka. Kemudian siapa yang dimaksud “kelompok mukmin”, “kelompok muslim” dalam masyarakat jahiliyah ini? Tentu pembaca dapat menebak dengan melihat akidah dan pemikiran Sayid yang telah dijelaskan. Ya tentunya yang dia maksud adalah dirinya dan orang-orang yang mengikuti pemikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;JALAN KELUAR MENURUT SAYID&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam telah lenyap, muslimin telah murtad, masyarakat muslim telah kembali menjadi jahiliyah. Masjid-masjid telah menjadi tempat-tempat peribadatan jahiliyah….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang harus kita perbuat? Dan bagaimana jalan keluar bagi yang ingin menjadi “kelompok muslim”? Dengarlah apa kata Sayid Quthb berkenaan dengan pertanyaan ini: “Sesungguhnya tidak ada keselamatan bagi ‘kelompok muslim’ di seluruh dunia dari adzab yang Allah sebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: windowtext;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;…&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;…atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan sebagian kamu keganasan sebagian yang lain…. (Al-An’am: 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kecuali jika mereka memisahkan keyakinan, perasaan dan juga prinsip hidup mereka dari masyarakat jahiliyah dan memisahkan diri dari kaumnya. Hingga Allah mengijinkan bagi mereka untuk mendirikan negara Islam yang mereka berpegang padanya. Kalau tidak, maka hendaknya mereka merasakan dengan seluruh perasaannya bahwa mereka sendirilah umat Islam dan merasakan bahwa apa dan siapa yang di sekelilingnya yang tidak masuk kepada apa yang mereka masuki adalah jahiliyah dan masyarakat jahiliyah….” (Fi Dhilal 2/1125)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jalan keluar menurut Sayid, yaitu dengan menjadi Khawarij, mengkafirkan dan memisahkan diri dari umat Islam! Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah Sayid melihat dakwah Ahlus Sunnah dan para ulamanya di jazirah Arab, Yaman, India atau yang lainnya? Tidakkah dia melihat perjuangan dakwah mereka dalam memurnikan ajaran Islam? Bahkan apakah Sayid tidak melihat di sampingnya seorang ulama yang berjuang membela tauhid dan sunnah, yaitu Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib rahimahullah?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;PEMIKIRAN TAKFIR SAYID DIAKUI TOKOH-TOKOH IKHWAN SENDIRI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya pemikiran takfir Sayid Quthb tidak mungkin dipungkiri lagi. Bahkan telah diakui pula oleh beberapa tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri. Berikut ini kita dengar beberapa ucapan mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Berkata Yusuf Al-Qardlawi dalam bukunya Awlawiyat Al-Harakah Al-Islamiyah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam fase ini muncul buku-buku As-Syahid Sayid Quthb yang merupakan fase terakhir dari pemikirannya yang mengkafirkan masyarakat dan menunda dakwah sampai kepada keteraturan Islam dengan pembaharuan fikih dan perkembangannya. Menghidupkan ijtihad serta mengajak untuk memisahkan diri secara perasaan dari masyarakat, memutus hubungan dengan orang lain, mengumumkan jihad fisik melawan seluruh manusia….” (Awlawiyat hal. 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berkata Farid Abdul Khaliq, salah seorang tokoh besar Ikhwan dalam kitabnya Ikhwanul Muslimun fi Mizanil Haq hal. 115: “Kita mengetahui dari apa yang telah lewat bahwa munculnya pemikiran takfir (pengkafiran) di kalangan beberapa ikhwan bermula dari penjara Qanathir di akhir tahun lima puluhan dan awal enam puluhan. Mereka terpengaruh oleh Sayid Quthb dan pemikiran-pemikirannya. Mereka mengambil pemahaman darinya bahwa masyarakat ini dalam keadaan jahiliyah dan bahwasanya dia telah mengkafirkan pemerintah yang merasa asing dengan hakimiyah Allah karena tidak berhukum dengan apa yang diturunkan Allah. Juga mengkafirkan rakyatnya karena mereka ridla dengan hal itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Berkata Ali Gharisah –juga salah seorang tokoh besar Ikhwan— sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam kejadian ini, terpecah satu kelompok dari kelompok Islam yang besar ketika keberadaan mereka di penjara-penjara… bersamaan dengan itu kelompok tersebut bertameng dengan pengkafiran kelompok Islam yang besar. Mereka masih tetap dalam pendapatnya tentang pengkafiran pemerintah, penolong-penolongnya serta masyarakat seluruhnya. Kemudian kelompok tersebut berpecah kembali menjadi beberapa kelompok, yang masing-masing mengkafirkan yang lain….” (Lihat kembali kitab beliau Al-Ittijahat Al-Fikriyah Al-Mu’ashirah hal. 279)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan-ucapan mereka ini menunjukkan bahwa pemikiran takfir Sayid Quthb telah dikenal oleh kawan dan lawannya. Hanya saja ketika bantahan itu dari “kawan” satu harakah, selalu diiringi basa-basi atau penyamaran agar tidak terlihat seakan-akan permasalahan ini adalah permasalahan besar. Seperti Qardlawi setelah ucapan di atas dia berkata: “…Dan buku-buku beliau tersebut memiliki keutamaan-keutamaan dan pengaruh-pengaruh positif yang besar di samping pengaruh-pengaruh negatif.” (hal. 110)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seperti ucapan Ali Gharishah yang tidak menyebutkan siapa atau buku apa atau jamaah apa, dia hanya mengatakan “kelompok kecil” dan “kelompok besar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara-saudaraku kaum muslimin, bisa jadi sikap basa-basi dan penyamaran yang menyebabkan terasa kecilnya bahaya-bahaya besar ini adalah karena mereka satu hizb. Mereka menjaga persatuan dan kesatuan Hizibnya dengan prinsip mereka yang terkenal: KITA SALING TOLONG MENOLONG ATAS APA YANG KITA SEPAKATI DAN SALING TOLERANSI ATAS APA YANG KITA BERBEDA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu bagaimana dengan saudara-saudara kita yang mengaku sebagai Ahlus Sunnah, salafiyah tetapi memiliki prinsip yang sama dengan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;SIKAP SAYID TERHADAP UTSMAN BIN AFFAN &lt;span style="font-style: italic;"&gt;radliallahu ‘anhu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwani fiddien a’azzakumullah, sesungguhnya pemikiran takfir Sayid Quthb bukan permasalahan sepele. Sikap mengkafirkan seluruh manusia hanya karena dosa-dosa sungguh sangat berbahaya. Tidakkah kita mendengar bagaimana Ali bin Abi Thalib menyikapi Khawarij, kemudian memerangi mereka? Tidakkah kita mendengar ucapan beberapa shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka sejelek-jelek makhluk?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran Sayid yang berbahaya ini juga mengakibatkan celaan dan tuduhan kepada para shahabat Nabi seperti para pendahulunya dari kalangan Khawarij dan Syiah, khususnya terhadap Utsman bin Affan dan Muawiyah radliallahu ‘anhuma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayid Quthb tidak mengakui keberadaan khilafah Utsman radliallahu ‘anhu, padahal masa kekhilafahannya paling panjang. Dia berkata: “Kami condong kepada anggapan bahwa khilafah Ali radliallahu ‘anhu adalah kelanjutan dari khilafah dua syaikh sebelumnya (Abu Bakar dan Umar, pent). Adapun masa Utsman merupakan celah antara keduanya.” (Al-Adalah, hal. 206). Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini setelah Sayid mengatakan pada halaman sebelumnya tentang Utsman sebagai berikut: “Sesungguhnya di antara kejelekan yang muncul adalah bahwa Utsman mencapai khilafah dalam keadaan tua, telah lemah semangat Islamnya dan lemah keinginannya untuk tetap tegar menghadapi tipu daya Marwan dan tipu daya Bani Umayah di dalamnya.” (Al-Adalah dalam terjemahan terbitan pustaka hal. 270)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dengan terang-terangan dia meragukan ruh Islam yang ada pada Utsman, yaitu setelah Sayid menyebutkan cerita-cerita tentang Utsman yang membagi-bagikan harta pada keluarga dan kerabatnya (korupsi). Juga setelah menceritakan bahwa Utsman mengangkat gubernur-gubernurnya dari keluarganya sendiri, seperti Muawiyah dan Al-Hakam radliallahu ‘anhum…dst. Kemudian dia berkata: “…Dan bahwasanya para shahabat mengetahui penyelewengan dari ruh Islam ini. Maka mereka saling memanggil untuk menyelamatkan Islam dan menyelamatkan khalifah dari bencana ini. Khalifah –dengan ketuaan dan kepikunannya— tidak dapat memegang urusannya dari Marwan. Sesungguhnya sangat susah meragukan ruh Islam di dalam hati Utsman. Tetapi juga sangat sulit memaafkan kesalahan-kesalahannya yang merupakan kesalahan       mengenai wilayah dan khilafahnya. Sedangkan dia seorang tua renta yang dikelilingi oleh jajaran orang-orang jelek dari Bani Umayah….” (Al-Adalah hal. 187, cet kelima dan secara makna pada cet. ke 12 hal 159, dan dalam terjemahan PUSTAKA hal. 272)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya Sayid Quthb justru memuji dan membela para pemberontak yang membunuh Utsman. Dia berkata: “…akhirnya, terjadilah pemberontakan atas Utsman. Tercampur padanya kebenaran dan kebatilan, kebaikan dan kejelekan. Tetapi bagi yang memandang perkara ini dengan “kaca mata Islam” dan merasakan urusan ini dengan ruh Islam, pasti dia akan menetapkan bahwa pemberontakan tersebut secara keumuman lebih dekat kepada ruh Islam dan arahannya daripada sikap Utsman atau lebih tepatnya sikap Marwan dan orang-orang yang di belakangnya dari Bani Umayyah.” (Al-Adalah hal. 189 cet. ke 5 dan hal. 161, 162 cet. ke 12 dengan beberapa perubahan tetapi intinya sama, hanya pada cetakan terakhir ini dia menyebut bahwa hal itu karena pengaruh tipu daya Ibnu Saba’ dan dalam terjemahan, hal. 275)[2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya dia mengucapkan: “Barangsiapa memandang dengan kacamata saya dan merasakan dengan ruh saya….” Karena kesimpulan dan pandangan seperti itu sama sekali bukan dari Islam. Dan saya (penulis) sudah menulis pada edisi ke-4 tentang pembelaan terhadap Utsman dan sekaligus pembelaan para shahabat terhadap Utsman. Silahkan simak kembali tulisan tersebut. Adapun pandangan Sayid adalah pandangan Khawarij, Syiah dan Ahli Bid’ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menyelamatkan kaum muslimin dari penyelewengannya dan membuka mata kaum hizbiyah agar melihat bahayanya serta menghilangkan sikap fanatik mereka kepadanya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: SALAFY edisi XVI/Dzulhijjah/1417/1997&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;——————————————————————————–&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[1] Lantas bagaimana dia menghukumi dirinya yang mengikuti kebiasaan orang-orang kafir barat dengan memotong habis jenggotnya dan memakai jas dan berdasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[2] Terjemahan buku ini diterbitkan oleh pustaka (Salman) Bandung dengan judul Keadilan Sosial dalam Islam cet. I th. 1984M/1404 H. Semua apa yang kami nukil di sini ada dalam terjemahan ini. Walaupun kadang-kadang sedikit berbeda terjemahan dengan apa yang saya tulis. Tetapi pada intinya sama. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-6709464170646243658?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/6709464170646243658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/6709464170646243658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/bahaya-pemikiran-sayyid-quthb.html' title='Bahaya Pemikiran Sayyid Quthb'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-8344638239768007023</id><published>2008-04-18T13:12:00.007+03:00</published><updated>2008-12-10T13:52:25.392+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Ikhwanul Muslimin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ikhwanul Muslimin'/><title type='text'>Kesesatan-kesesatan Dr. Yusuf Qordlowi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;KESESATAN-KESESATAN   DR.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt; YUSUF QORDLOWI&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;Oleh: Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Tokoh yang menjadi pentolannya adalah seorang tukang fatwa lewat parabola, Yusuf bin Abdillah Al-Qardlowi, yang berusaha keras menyebarkan gagasan-gagasan pemikiran di atas lewat tayangan-tayangan parabola, jaringan-jaringan internet, konfrensi-konfrensi, studi-studi keislaman, ceramah-ceramah, dan lain-lain.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lembaran-lembaran kertas yang ada di hadapan pembaca ini memuat ringkasan dari beberapa ide pemikiran tokoh ini (Qardlowi) yang dengan berbagai cara berusaha melariskan ide-ide pemikiran tersebut. Sengaja penulis tampilkan gagasan-gagasan Qardhawi ini sebagai upaya memberi nasehat kepada umat Islam, dan sebagai pernyataan berlepas diri, serta memberi peringatan kepada umat Islam agar selalu waspada terhadap tokoh ini (Qardlowi) dan tokoh-tokoh lain yang seide dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang ingin mengetahui secara rinci uraian tentang gagasan-gagasan pemikiran Qardhawi berikut sanggahan-sanggahannya, semuanya telah tercantum di dalam kitab “Al-I’laam binaqdi Al-Kitab Al-Halal wa Al-Haram” (“Kritik terhadap kitab ‘Halal dan Haram’ “Qardlowi) karya Syaikh Doktor Shalih bin Fauzan Al-Fauzan1), juga “Ar-Raddu ‘Ala Al-Qardhawi” karya Syeikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’iy rahimahullah2) serta kitab-kitab lainnya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, kami mendapati dalam artikel-artikel M.Shodiq Mustika banyak menukil pernyataan Yusuf Qordlowi ini. Sejauh pengamatan kami, kami mendapati 2 (dua) artikel yang mana beliau (baca: M.Shodiq) menukil secara keseluruhan dari buku terjemahan karya Yusuf Qordlowi –Allah Ta’ala A’lam-.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kami kemukakan di atas, maka pada kesempatan ini kami hanya akan membahas tentang penyelewengan-penyelewengan Yusuf Qordlowi dengan berbagai bukti yang kami miliki. Adapun kesesatan-kesesatan Yusuf bin Abdillah Qordlowi Al-Mishriy diantaranya adalah sbb;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. BERUSAHA MENYATUKAN ANTAR MADZHAB ISLAMIYYAH (SUNNIY DAN SYI’AH, PENT).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada acara “Hiwar Maftuh” yang diadakan pada tanggal 18/1/1425 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 9/3/200 Masehi Yusuf bin Abdillah Al-Qordlowi berkata:”Yakni, saya mengetahui hal ini (penyatuan antar madzhab islamiy) sejak berpuluh-puluh tahun lamanya.Saya mulai mengetahuinya semenjak di kota Kairo, diantara orang-orang yang menyerukan hal ini adalah Syaikh Abdul Majid Saliim, Mahmud Saltut, Abdul ‘Aziz ‘Isa, Syaikh Muhammad Al-Madaniy serta Hasan Al-Banna bersama mereka. Dan Syaikh Taqiyuddin Al-Qummiy3) pergi ke markaz Ikhwanul Muslimin dan Syaikh Hasan Al-Banna menerima beliau. Beliau (baca:Syaikh Hasan Al-Banna) adalah mursyid pertama (Ikhwanul Muslimin, pent)…”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut bukti file audionya:&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.salafmisr.com/vb/attachment.php?attachmentid=292"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k8brnrKcND8/SAh1J8hfKvI/AAAAAAAAAIM/KdTUrgOMySs/s320/Download.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190527384270351090" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fatwa Ulama Tentang Penyatuan Madzhab Antara Ahlus Sunnah Dan Syia’h&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Abdul Aziz bin Baaz rahimahullah ditanya: Dari apa yang Anda ketahui tentang sejarah Rafidlo (Syi’ah), bagaimana sikap Anda terhadap orang-orang yang menyeru terhadap penyatuan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidlo (Syi’ah)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah menjawab sbb:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;التقريب بين الرافضة وبين أهل السنة غير ممكن؛ لأن العقيدة مختلفة ،&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;فعقيدة أهل السنة والجماعة توحيد الله وإخلاص العبادة لله سبحانه وتعالى ،&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;وأنه لا يدعى معه أحد لا ملك مقرب ولا نبي مرسل وأن الله سبحانه وتعالى هو&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;الذي يعلم الغيب ، ومن عقيدة أهل السنة محبة الصحابة رضي الله عنهم جميعا&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;والترضي عنهم والإيمان بأنهم أفضل خلق الله بعد الأنبياء وأن أفضلهم أبو&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;بكر الصديق ، ثم عمر ، ثم عثمان ، ثم علي ، رضي الله عن الجميع ، والرافضة&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;خلاف ذلك فلا يمكن الجمع بينهما ، كما أنه لا يمكن الجمع بين اليهود&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;والنصارى والوثنيين وأهل السنة ، فكذلك لا يمكن التقريب بين الرافضة وبين&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;أهل السنة لاختلاف العقيدة التي أوضحناها&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=";font-family:'Traditional Arabic';font-size:16;color:blue;"   &gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;Penyatuan antara Ahlus Sunnah dengan Rafidlo adalah suatu hal yang tidak mungkin, dikarenakan aqidah yang berbeda. Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah dan mengikhlaskan ibadah hanya kepadanya semata, serta mereka tidak menyembah seorangpun dalam beribadah kepada-Nya, tidak dengan (wasilah) para malaikat maupun dengan para rasul yang diutus-Nya, dan sesungguhnya Allah Azza wa Jallah adalah yang mengetahui perkara-perkara yang ghaib. Dan termasuk aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mencintai para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, meridloi mereka, dan mengimani bahwa mereka adalah sebaik-baiknya makhluk (manusia, pent) setelah para nabi. Orang yang paling mulia di antara mereka (para sahabat, pent) adalah: Abu Bakr Ash-Shidiq, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhilallahu anhum. Sedangkan aqidah Rafidlo (Syi’ah) menyelisihi hal ini, maka tidak mungkin menyatukan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nashoro, para penyembah kubur dan Ahlus Sunnah. Demikian juga tidak mungkin menyatukan antara Ahlus Sunnah dengan Syi’ah dikarenakan perbedaan dalam masalah aqidah sebagaimana yang nampak jelas bagi kita.4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah pembaca apa yang menyebabkan beliau dan orang-orang mengikuti beliau berusaha keras untuk mewujudkan hal ini?, insyaAllah Anda akan mendapatkan jawabannya pada poin berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. KAIDAH “EMAS” IKHWANUL MUSLIMIN DAN YUSUF QORDLOWI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Yusuf Qordlowi pada acara yang sama sbb:&lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-indent: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;وموقف الإخوان واضح من زمن طويل أنهم يحاولون تجميع الأمة الإسلامية&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: red;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;كلها، وكانت قاعدتهم هي القاعدة الذهبية التي أقامها الشيخ رشيد رضا رحمه&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: red;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;الله&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: red;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;وتبناها الشيخ حسن البنا نتعاون فيما اتفقنا عليه ويعذر بعضنا بعضا في ما اختلفنا فيه …”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;“Dan sikap ikhwan (Al-Muslimin, pent) sangatlah jelas dari dahulu kala bahwasannya mereka berusaha untuk menyatukan seluruh umat islam. Dan sesungguhnya kaidah mereka ini adalah “kaidah emas” yang mana kaidah ini pertama kali diusung oleh Syaikh Rasyid Ridlo rahimahullah kemudian diikuti oleh Syaikh Hasan Al-Banna (kaidah itu adalah, pent):Kita saling bekerjasama dengan apa-apa yang telah kita sepakati dan kita saling memaafkan dengan apa-apa yang kita saling berbeda pendapat padanya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut bukti file ucapannya:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.salafmisr.com/vb/attachment.php?attachmentid=293"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_k8brnrKcND8/SAh2u8hfKyI/AAAAAAAAAIk/m0Z5sa80eWA/s320/Download.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5190529119437138722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Maka janganlah Anda heran apabila dalam tubuh Ikhwanul Muslimin akan terdapat banyak golongan, ada Nashoro, Kuburiyin, Syi’ah, Asy’ariyyah, Jama’ah Tabligh dll hal ini dikarenakan “kaidah emas” mereka di atas. Dan sebab kaidah inilah Yusuf Qordlowi mengucapkan kalimat seperti di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. YUSUF QORDLOWI MENOLAK HADITS PERPECAHAN UMAT.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Halaqoh program “Syari’a Wal Hayaah” tertanggal 28/09/2003 Masehi dengan judul Halaqoh “At-Taqrib Bainal Madzahib Islamiyyah” berkata Yusuf Qordlowi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;“أولاً: أنا يعني لست ممن يُصَحِّح هذا الحديث، يعني الحديث دا&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: red;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;هناك من العلماء من رده ومنهم الإمام ابن الوزير الذي يعني رد هذا الحديث&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: red;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;وخصوصاً الزيادة التي تقول يعني “كلها في النار إلا واحدة”، قال احذر هذه الزيادة فإنها من دسيس الملاحدة”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Pertama: Saya adalah termasuk orang yang tidak menshahihkan hadits ini (perpecahan umat, pent). Di sana ada beberapa ulama yang menentangnya (tentang kshahihan hadits, pent) dan di antara orang yang menentang keshahihan hadits ini adalah Al-Imam Ibn Al-Wazir terutama ia menolak penambahan pada kalimat “semuanya masuk Neraka kecuali satu”. Ia berkata:’Hati-hatilah dari penambahan ini, karena penambahan ini berasal dari tipuan orang-orang atheis’.&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: center; text-indent: 0pt;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;فتوى للشيخ الفقيه بن عثيمين حول هذا الحديث&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: red;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-indent: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;السؤال:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt; له سؤال أخير يقول وجدت في تفسير ابن كثير حديثاً&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;يقول فيه الرسول صلى الله عليه وسلم ما معناه ستفترق هذه الأمة على ثلاث&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة فهل هذا&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;الحديث صحيح وما هي الفرق&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;الضالة من هذه الفرقة الناجية؟&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-indent: 0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;الجواب:&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt; هذا الحديث صحيح بكثرة طرقه وتلقي الأمة له بالقبول فإن العلماء قبلوه وأثبتوه&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;حتى في بعض كتب العقائد وقد بين النبي عليه الصلاة والسلام أن الفرقة&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;الناجية هي الجماعة الذين اجتمعوا على ما كان عليه النبي صلى الله عليه&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;وسلم&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;وأصحابه من عقيدة وقول وعمل فمن التزم ما كان عليه رسول الله&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;صلى الله عليه وسلم من العقائد الصحيحة السليمة والأقوال والأفعال&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;المشروعة فإن ذلك هو الفرقة الناجية&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;ولا يختص ذلك بزمن ولا بمكان بل كل من التزم هدي الرسول عليه الصلاة والسلام&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: blue;"&gt;ظاهراً وباطناً فهو من هذه الجماعة الناجية وهي ناجية في الدنيا من البدع والمخالفات وناجية في الآخرة من النار&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; color: blue;"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fatwa Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin Tentang Hadits Perpecahan Umat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal:&lt;/span&gt; Saya mendapati dalam kitab Tafsir Ibn Katsir beberapa hadits, ia menyebutkan bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya “akan terpecah belah umat ini (Islam) menjadi 73 golongan semuanya akan masuk Neraka kecuali satu” apakah hadits ini shahih, dan siapakah golongan yang sesat dari golongan yang selamat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab: &lt;/span&gt;Hadits ini shahih dengan berbagai jalan (sanad) dan umat menerima hadits ini. Sesungguhnya para ulama menerima dan menetapkan (keshahihan hadits ini, pent) sampai-sampai dalam beberapa kitab aqidah membahas hal ini. Sungguh, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan kepada kita tentang golongan yang selamat adalah “al-jama’ah” yang mana mereka itu adalah orang-orang yang menetapi apa-apa yang mana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berada padanya dalam masalah aqidah, perkataan, serta perbuatan. Barangsiapa yang beriltizam dengan apa-apa yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berada padanya dalam masalah aqidah yang shahih dan selamat, perkataan-perkataan, dan perbuatan-perbuatan yang ditentukan oleh syari’at, maka mereka itu adalah golongan yang selamat. Golongan ini (baca:Al-Firqatun Najiyyah, pent) tidaklah dikhususkan oleh zaman dan tempat, bahkan barangsiapa yang beriltizam dengan petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam baik secara zhahir maupun bathin maka dia termasuk golongan yang selamat ini. Golongan ini di dunia selamat dari perkara-perkara bid’ah serta perselisihan dan di akhirat selamat dari siksa api Neraka. (Fatawa Nuur ‘alal Darb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berkata: Sesungguhnya kabar tentang perpecahan umat ini telah diterangkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;{وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ …} (103) سورة آل عمران&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah5), dan janganlah kamu bercerai berai…” (QS. Ali Imron: 103).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;{وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُوْلَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ} (105) سورة آل عمران&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat” (QS. Ali Imron: 105).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;{شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ …} (13) سورة الشورى&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya…” (QS. Asy-Syura: 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} (153) سورة الأنعا&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa” (QS. Al-An’am: 153).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;{وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيرًا} (115) سورة النساء&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”. (QS. An-Nisa’: 115).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan untuk pembahasan keshahihan hadits perpecahan umat, silakan Anda milihat langsung di kitab Zhilalul Jannah Takhrij Kitabus Sunnah oleh Al-Muhadits Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah atau Anda dapat melihat di http://abdurrahman.wordpress.com/2007/03/22/keshohihan-hadits-perpecahan-umat/#more-177&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Yusuf Qordlowi tidak hanya menolak hadits perpecahan umat ini saja, beliau pun menolak hadits-hadits lainnya yang tidak sesuai dengan akal beliau. Di antaranya hadits-hadits tersbut adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Di dalam “Shahih Muslim” terdapat hadits marfu’ (hadits yang rangkaian perawinya sampai kepada Nabi) yang shahih :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;إِنَّ أَبِي وَأَبَاكَ فِي النَّارِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT';"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Sesungguhnya ayahku dan ayahmu masuk nereka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan para ulama telah sepakat tentang kepastian hal itu (yaitu bahwa ayah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) masuk Neraka, pent.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Qardlowi mengomentari tentang hadits di atas :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dosa apakah yang diperbuat Abdullah bin Abdul Muthalib sehingga ia berada di neraka sedangkan dia adalah ahli fatrah (orang yang hidup di masa kekosongan wahyu antara kurun Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan masa kerasulan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, peny.) dan yang shahih ialah bahwa mereka selamat dari azab”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia menyebut kemungkinan yang terbersit olehnya yaitu ia mengartikan kalimat Abi (ayahku) dalam hadits di atas sebagai Abu Thalib karena ia adalah paman nabi dan paman adalah ayah. Kemudian ia membuangnya jauh-jauh seraya berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akan tetapi itu adalah kemungkinan yang terlemah menurutku karena ia bertentangan dengan yang tersurat dari satu sisi. Dari sisi lain, apa dosa ayah laki-laki yang bertanya (sehingga ia masuk neraka). Yang tampak ialah karena ayahnya itu mati sebelum Islam. Oleh karena itu aku ber-tawaqquf terhadap hadits ini hingga jelas bagiku sesuatu yang menyejukkan dada. Adapun syaikh kami, Muhammad Al Ghazali telah menolak hadits tersebut secara terang-terangan … .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai perkataannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Akan tetapi terhadap hadits shahih aku lebih memilih untuk bersikap tawaqquf tanpa menolaknya secara mutlak, khawatir apabila terdapat makna yang belum aku ketahui”. (Kaifa Nata’aamalu Ma’as Sunnah An Nabawiyah, halaman 97-9 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Di dalam “Shahih Bukhari” dan “Shahih Muslim” tercantum hadits marfu’ yang shahih :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;يُوْتَى بِالْمَوْتِ كَهَيْئَةِ كَبْشٍ أَمْلَح&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Maut (kematian) akan didatangkan (pada hari kiamat) dalam bentuk seekor domba jantan berwarna sangat biru”. (H.R. Bukhari - Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qardlowi berkata : “Telah dapat diketahui dengan yakin (pasti) yang kepastiannya telah ditetapkan oleh akal dan wahyu bahwa kematian itu bukan seekor domba jantan atau sapi jantan atau salah satu jenis binatang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Di dalam “Shahih Bukhari” tercantum hadits marfu’ yang shahih :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً. (رواه البخاري)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Tidak akan beruntung suatu kaum (bangsa) yang menguasakan urusan (pemerintah) mereka kepada wanita”. (H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qardlowi berkata : “Ketentuan ini hanya berlaku di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di mana hak untuk menjalankan pemerintahkan ketika itu hanya diberikan kepada kaum laki-laki sebagai sikap kesewenang-wenangan. Adapun di zaman sekarang ini ketentuan ini tidak berlaku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Disebutkan di dalam hadits yang shahih :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;مَا رَأَيْتُ مِن ناَقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِيْنٍ أَسْلَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنّ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Aku tidak pernah melihat makhluk yang kurang sempurna akalnya dan kurang sempurna ketaatan mengamalkan agamanya yang lebih mampu menggoyahkan hati seorang laki-laki yang teguh sekalipun daripada masing-masing orang di antara kalian (kaum wanita)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qardlawi berkata : “Sesungguhnya pernyataan ini terlontar dari ucapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk bergurau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Disebutkan dalam hadits shahih :&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;لاَ يُقْتَلُ مُسْلِمٌ بِكَافِ&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Seorang muslim tidak dijatuhi hukuman bunuh (hukum qishash) disebabkan membunuh orang kafir”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Qardlowi menyatakan bahwa seorang muslim harus dijatuhi hukum bunuh (qishash) disebabkan ia membunuh orang kafir – suatu pernyataan yang bertentangan dengan ketentuan yang terkandung di dalam hadits di atas – Qardlowi berkata :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya pendapat ini (pendapat yang mengatakan bahwa seorang muslim harus dijatuhi hukuman qishash lantaran membunuh orang kafir, pent.) adalah pendapat yang benar, yang tidak layak pendapat yang lainnya diterapkan di zaman kita ini. Dan dengan memperkuat pendapat ini, berarti kita telah membatalkan semua argumen (alasan) pendapat lain. Dengan begitu berarti kita telah mengibarkan bendera syari’at Islam yang putih cemerlang (terang-benderang)”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat Qardlowi yang meyimpang (sesat) dalam mensikapi Sunnah Nabi di samping pendapat-pendapat Qardahwi yang telah diutarakan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. YUSUF QARDLOWI DAN ISRAEL (YAHUDI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Yusuf Al-Qordlowi:&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;” نحن لا نقاتل إسرائيل من أحل الإسلام, ولكن نقاتلها من أجل الإحت"&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Kami tidaklah memerangi Israel di karenakan Islam, akan tetapi kami memerangi Israel di karenakan perebutan masalah tanah”6).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Qordlowi, dimanakah pemahaman Anda terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah yang menerangkan kepada kita bahwa kaum muslimin memerangi ”para penentang-Nya” dikarenakan masalah agama (Baca: agar mereka memeluk Islam, pent).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;{وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} (85) سورة آل عمران&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: windowtext;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi” (QS. Ali Imron: 85).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;{وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ} (33) سورة فصلت&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat: 33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;{وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ} (120) سورة البقرة&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS. Al-Baqoroh: 120).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Na’am, apakah dalam ayat di atas disebutkan “sampai mereka mengembalikan tanah kalian !!!?” .Tidaklah mereka ridlo kepada kita sampai kita mengikuti millah mereka wahai saudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;إنك ستأتي قوم من أهل الكتاب؛ فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله الا الله, و أن محمد رسول الله&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahlil Kitab; maka hendaklah hal yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah ‘persaksian bahwasannya tidak ada ilah yang berhaq di sembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah”.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Hal yang pertama kali di dakwahkan adalah kalimat Tauhid (Kalimat Laa Ilaha Ilallah Muhammad Rasulullah, pent) bukan masalah negera atau tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;{قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّى يَأْتِيَ اللّهُ بِأَمْرِهِ وَاللّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ} (24) سورة التوبة&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik” (QS. At-Taubah: 24).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;أمرت أن أقتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله, و أن محمد رسول الله, ويقموا الصلاة, ويؤتوا الزكاة, فإذا فعلوا ذلك عصموا مني دماءهم و أموالهم إلا بحق الإسلام, وحسابهم على ال&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="gen"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia agar mereka mengucapkan syahadat bahwasannya tidak ada ilah yang berhaq disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, dan mengeluarkan zaka. Apabila mereka melakukan hal yang demikian maka tidak halal bagi kami darah dan harta mereka kecali karena haq Islam, dan perhitungannya hanya pada Allah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahihain dari hadits Ibn ‘Umar dan hadits Buraidah dalam shahih Muslim disebutkan bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic';"&gt;” ادعهم إلى الإسلام, فإن أبوا فالجزية, فإن أبوا فالقتال&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Serulah mereka (untuk memeluk, pent) Islam, apabila mereka enggan/menentang maka baginya Jizyah, dan apabila mereka (masih) menentang maka perangilah mereka”.7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah hakikat permusuhan kita dengan para penentang agama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;E. YUSUF QORDLOWI DAN KEBEBASAN WANITA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qardlowi berusaha mengoyak tabir (hijab) yang menutupi kaum wanita dengan berbagai cara yang dapat ia lakukan. Berulangkali Qardlowi menyatakan bahwa memisahkan tempat kaum wanita dari tempat kaum pria hukumnya adalah bid’ah dan tergolong tradisi yang tidak berasal dari ajaran Islam 8) , dan bahwa sekat (pembatas) yang memisahkan tempat kaum wanita dari tempat kaum pria harus dilenyapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qardlowi berkata dengan redaksi berikut ini : “Dalam usiaku yang telah mencapai 70 tahun aku pernah pergi ke Amerika untuk menghadiri konfrensi-konfrensi Islam. Akan tetapi sangat disayangkan bahwa ceramah-ceramah yang disampaikan dalam konfrensi-konfrensi Islam tersebut diikuti oleh para peserta wanita yang berada di suatu tempat (ruangan), sedang ceramah-ceramah yang diikuti oleh para peserta pria disampaikan di tempat (ruangan) yang lain. Suasana yang serba kaku tampaknya meliputi audiens (hadirin) dan terkesan bahwa mereka meniru-niru tradisi Barat, sehingga mereka berpegang pada pendapat yang kaku dan meninggalkan pendapat yang kuat. Akibatnya para peserta pria ditempatkan di ruang pertemuan yang terpisah dari ruang pertemuan para peserta wanita.9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai acara yang sama, Qardlowi berkata : “Padahal konfrensi-konfrensi semacam ini merupakan kesempatan bagi seorang pemuda untuk menatap seorang pemudi sehingga hatinya menjadi tertarik, lalu si pemuda dapat leluasa menanyakan tentang identitas si pemudi yang dengan sebab itu Allah bukakan pintu hati muda-mudi tersebut, dan di belakang pertemuan itu terbentuklah keluarga yang islamiy”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada acara yang sama pula (Konfrensi Islam), ketika Qardlowi dihampiri oleh seorang laki-laki yang ditugaskan untuk memberikan kata sambutan sebelum Qardhawi menyampaikan ceramah khusus di hadapan para peserta wanita, Qardlowi berkata : “Telah saya katakan kepada orang laki-laki yang ditugaskan untuk memberikan kata sambutan : ‘Apa peran Anda dalam acara ini ? Seharusnya peran Anda ini digantikan oleh salah seorang akhwat, karena pokok pembahasan yang akan diutarakan dalam ceramah adalah khusus untuk mereka (akhwat). Oleh karena itu salah seorang di antara akhwat itulah yang seharusnya memberikan kata sambutan sebagai pengantar ceramahku, mengucapkan sepatah kata, dan mengajukan pertanyaan-pernyataan, yang dengan cara ini berarti kita melatih mereka (akhwat) dalam bidang leadhersheap (kepemimpinan). Tatapi sayangnya sikap sewenang-wenang dari kaum laki-laki masih saja menimpa kaum wanita sampai-sampai sikap sewenang-wenang ini terjadi dalam urasan-urusan khusus kaum wanita’.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Qardlowi mengatakan bahwa wanita-wanita yang berhijab pun harus tampil dalam acara-acara televisi dan tayangan-tayangan parabola,10) dan para wanita harus ikut serta dalam acara-acara pementasan drama dan sandiwara.11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan Qardhawi menuturkan bahwa dia mempunyai dua orang puteri yang telah menamatkan studinya di beberapa universitas di Inggris – di sini sebenarnya Qardhawi ingin mengajak orang untuk mendukung budaya ikhtilath (campur-baur laki-laki dengan para wanita di satu tempat), budaya yang tak tahu malu – sehingga kedua puteri Qardhawi tersebut mandapat gelar doktor, yang satu orang di bidang fisika nuklir dan yang lainnya di bidang biokimia.12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian catatan kecil kami terhadap da’I sesat Yusuf bin Abdillah Al-Qordlowi Al-Mishriy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ditulis Oleh Seorang Hamba yang Selalu Mengharap Ampunan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Muhammad Abdurrahman bin Sarijan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jahra, Kuwait: Sabtu, 01 Dzul Qo’dah 1428 H – 11 November 2007 M&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Kaki:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Anggota Kibar Ulama (Persatuan Ulama-ulama besar) Saudi Arabia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Ahli Hadits abad 20, berasal dari Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Seorang Ulama Syi’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Majmu’ Fatawa wa Maqolat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz, jilid: 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Makna tali Allah dalam ayat ini adalah Al-Kitab (Al-Qur’an) dan As-Sunnah. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid dalam Fadhaailul Qur’an, hal: 75; Ad-Darimi 2/43; Ibn Nashir dalam As-Sunnah no. 22; Ibn Ad-Dhurais dalam Fadhaailul Qur’an, 74; Ibn Jarir dalam Tafsir-nya no. 7566 (Tahqiq: Syaikh Ahmad Syakir Al-Mishriy); At-Thabari dalam Tafsir-nya 9/9031; Imam Al-Ajuri dalam Asy-Syari’ah, hal: 16; Ibn Baththah dalam Al-Ibaanah no. 135. Riwayat ini Shahih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Dinukil dari kitab Raad ‘alal Qordlowi, hal: 17. Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wada’iy rahimahullah. Cet: Daarul Atsar, Shona’a-Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Idem, hal: 17-18 dengan sedikit perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8) Qardhawi mengutarakan pernyataan ini di beberapa kitab karangannya, dan diberbagai acara serta di berbagai seminar yang Qardahwi ditunjuk menjadi pembicaranya. Di antaranya kitab “Awlawiyyaat Al Harakah Al Islaamiyyah” halaman 67, kitab “Malaamih Al Majtama’ Al Muslim” halaman 3, dan kitab “Markaz Al Mar’ah” halaman 41-130.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9) Qardhawi mengemukakan pernyataan ini pada pertemuan yang bertemakan “Tahaddiyaat Al Mar’ah Al Muslimah Fi Al Gharbi” yang merupakan bagian dari acara “Asy Syari’ah wa Al Hayaah” yang diselenggarakan pada tanggal 13 Juni 1999M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10) Qardhawi mengemukakan perkataan ini dalam pertemuan yang bertemakan “Al Fadhaa’iyyaat” (“Tayangan-tayangan Parabola”) yang merupakan bagian dari acara “Asy-Syari’ah wa Al Hayaah” yang diadakan pada tanggal 13 Juni 1999M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11) Majalah “Al Mujtama’” Edisi no. 1319 tanggal 9 Jumada Ats Tsaaniyah 1419H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12) Tabloid “Akhbaar Al Usbuu’” Edisi no. 401, hari Sabtu, 5 Maret, 1994M. Lihat majalah “Sayyidatuhum” Edisi 678, tanggal 5 Maret 1994M&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: www.muslimah-salafiyah.blogspot.com dengan perubahan judul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-8344638239768007023?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/8344638239768007023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/8344638239768007023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/kesesatan-kesesatan-dr-yusuf-qordlowi.html' title='Kesesatan-kesesatan Dr. Yusuf Qordlowi'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_k8brnrKcND8/SAh1J8hfKvI/AAAAAAAAAIM/KdTUrgOMySs/s72-c/Download.gif' height='72' width='72'/></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-3267220710168908471</id><published>2008-04-17T23:07:00.002+03:00</published><updated>2008-04-17T23:19:53.988+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ikhwanul Muslimin'/><title type='text'>Menyingkap Bai'at Ala Ikhwanul Muslimin</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0cm; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Bodoni MT&amp;quot;;"&gt;MENYINGKAP BA’IAT &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;ALA&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt; IKHWANUL MUFLISIN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0cm; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bodoni MT&amp;quot;;"&gt;Disusun Oleh:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bodoni MT&amp;quot;;"&gt;Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bai’at adalah sebuah ibadah. Layaknya ibadah yang lain, tidak bisa dibenarkan kecuali dengan dua syarat: ikhlas dan sesuai dengan ajaran Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sejarah Nabi dan para shahabatnya, bahkan para imam Ahlus Sunnah setelah mereka, mereka tidak pernah memberikan bai’at kepada selain khalifah, imam, atau penguasa muslim. Maka, sebagaimana dikatakan Sa’id bin Jubair –seorang tabi’in–: “Sesuatu yang tidak diketahui oleh para Ahli Badr (shahabat yang ikut Perang Badr), maka hal itu bukan bagian dari agama.” (Al-Fatawa, 4/5 dinukil dari Hukmul Intima`, hal. 165). Al-Imam Malik mengatakan: “Sesuatu yang di masa shahabat bukan sebagai agama, maka hari ini juga bukan sebagai agama.” (Al-Fatawa, 4/5 dinukil dari Hukmul Intima`, hal. 165)&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Berkata Hasan Al-Banna dalam Majmu’ Ar-Rasail, hal: 268:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” أيها الإخوة الصادقون أركان بيعتنا عشرة, فاحفظوها:&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;1. الفهم.2. الإخلاص.3. العمل.4. الجهاد.5. التضحية.6. الطاعة.7. الثبات.8. التجرد.9. الأخوة.10. الثقة.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Wahai saudara-saudara yang jujur, rukun bai’at kita ada sepuluh, hafalkanlah:&lt;br /&gt;1. Paham, 2. Ikhlas, 3. Amal, 4. Jihad, 5. Pengorbanan, 6. Taat, 7. Kokoh, 8. Konsentrasi, 9. Persaudaraan, 10. Percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rukun ba’iat ini ada beberapa catatan:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pertama:&lt;/span&gt; Sesungguhnya bai’at adalah haq Imam Al-A’la (Imam Tertinggi/penguasa kaum muslimin). Barangsiapa mengambil bai’at kepada selain penguasa kaum muslimin, maka sesungguhnya dia telah membuat perkara bid’ah dalam agama. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إذا بويع خليفتان فاقتلوا الآخر منهما&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  Jika dibai’at dua khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya (HR Muslim dari Abu Said)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya): “Siapa saja yang ingin memecah belah persatuan kalian setelah kalian sepakat mengangkat seorang pemimpin maka tebaslah lehernya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedua:&lt;/span&gt; Kita tidak mengetahui bahwa para penyeru da’wah mengambil bai’at dalam da’wahnya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah telah menda’wahkan tauhid di Najd pada abad ke 12 H akan tetapi beliau rahimahullah tidak mengambil bai’at untuk ta’at kepadanya dari seorangpun dan Allah telah memberkahi da’wahnya. Demikian juga Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Qor’awiy ketika ia menda’wahkan tauhid di wilayah timur Saudi Arabiah, beliau tidak mengambil bai’at untuk ta’at kepadanya dan Allah memberkahi da’wahnya. Dan sebelum mereka, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah juga tidak mengambil bai’at dari seorangpun dan Allah memberkahi da’wahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketiga: &lt;/span&gt;Rukun bai’at yang diterapkan oleh Hasan Al-Banna ada sepuluh, sedangkan bai’at Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya kurang dari itu. Diriwayatkan dalam Shahih Bukhori dari ‘Ibadah bin Ash-Shomad radhiallahu ‘anhu, ia berkata:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بايعنا رسول الله صلى الله عليه و سلم على السمع والطاعة في المنشط والمكره …( رواه البخاري باب: 43/7199).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  ”Kami berbai’at kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk patuh dan ta’at baik dalam keadaan susah maupun senang….” (HR. Bukhori 43/7199). Dan dalam hadits Ibn ‘Umar radhiallahu ‘anhum:&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;كنا نبايع رسول الله صلى الله عليه وسلم على السمع و الطاعة يقول لنا فيما استطعت&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Bodoni MT&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;(رواه مسلم 4813؛ البخاري 7202).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  Dulu kita berbai’at kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk patuh dan taat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Pada apa yang aku mampu” (Shahih, HR Muslim no: 4813 cet, Darul Ma’rifah; Bukhori no. 7202) Yakni katakan: “Pada apa yang aku mampu” – demikian penjelasan Nawawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hadits dari Jarir bin Abdillah Al-Bajiliy:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أنه بايع النبي صلى الله عليه و سلم على السمع والطاعة والنصح لكل مسلم (رواه البخاري 7204).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  ”Bahwasannya mereka berbai’at kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam untuk patuh dan ta’at serta memberikan nasehat kepada setiap muslim” (HR. Bukhori no. 7204).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalamnya mungkin ada beberapa bagian dari rukun bai’at yang sepuluh itu, akan tetapi dimanakah dalil rukun-rukun bai’at yang lainnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bai’at itu tidaklah boleh diambil dalam da’wah dikarenakan Allah Azza wa Jalla telah mengambil dari setiap hamba-Nya untuk menta’ati-Nya dan menta’ati Rasul-Nya, melaksanakan apa-apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa-apa yang dilarangnya. Maka kewajiban bagi para da’I adalah menerangkan kepada manusia tentang apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Azza wa Jalla berfirman kepada Nabi-Nya:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;{ إِنْ عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ } (4 ) سورة الشورى&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah)” (QS. Asy-Syuura: 48).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Allah Azza wa Jalla berfirman:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;{فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنتَ مُذَكِّرٌ. لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ} (21-22) سورة الغاشية&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (QS. Al-Ghoosyiyah: 21-22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keempat: &lt;/span&gt;Bahwasannya Hasan Al-Banna telah menjadikan rukun bai’at &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“ta’at”&lt;/span&gt; merupakan bagian dari marhalah kedua dari marhalah da’wahnya yang tiga itu. Makna keta’atan dalam bai’at ini sebagaimana keta’atan kemiliteran, sehingga ia wajib ta’at baik dalam perkara yang benar maupun salah, dalam perkara yang bathil maupun yang haq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan Al-Banna berkata ketika menerangkan makna &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“ta’at”&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” …في لمرحلة الثانية التي هي مرحلة التكوين ونظام الدعوة في هذه المرحلة صوفي بحت من الناحية الروحية وعسكري بحت من الناحية العلمية, وشعار هاتين الناحيتين دائما (أمر و طاعة) من غير تردد ولا مراجعة ولا شك ولا حرج” (انظر رسالة التعاليم, ص: 274).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“…Dan pada periode kedua yaitu periode takwin (menyusun kekuatan), aturan dakwah dalam periode ini adalah keshufian yang murni dari sisi rohani dan militer murni dari sisi amal. Dan selalu, motto dua sisi ini adalah ‘komando’ dan ‘taat’ tanpa ragu, bimbang, bertanya, segan.”&lt;/span&gt; (Risalah At-Ta’aalim, hal: 274).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pernyataan Hasan Al-Banna di atas terdapat beberapa sisi yang aneh menurut pandangan syar’i. Keta’atan dalam agama Islam hukumnya adalah wajib jika memenuhi hal-hal sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;a. Kata’atan harus dalam hal yang ma’ruf bukan dalam hal maksiat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam Shahih Bukhori dari Ibn Umar radhiallahu ‘anhum dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ia bersabda:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” السمع والطاعة حق ما لم يؤمر بمعصية, فإذا أمر بمعصية فلا سمع ولا طاعة ” (رواه البخاري 2955).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Patuh dan ta’atilah dalam perkara yang haq selama tidak memerintahkan kepada maksiat. Apabila diperintahkan dengan perbuatan maksiat, maka janganlah patuh dan ta’at” (HR. Bukhori no. 2955).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” إنما الطاعة في المعروف ” (رواه مسلم)&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Sesungguhnya keta’atan itu dalam hal yang ma’ruf” (HR. Muslim no. 1840 dari ‘Ali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;b. Melaksanakan keta’atan sebatas kemampuan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam apabila ada seseorang yang berbai’at kepadanya untuk mendengar dan ta’at, maka ia bersabda: “Pada Yang Aku Mampu” demikian secara makna yang diriwayatkan oleh Bukhori dalam Shahihnya Kitab Al-Ahkam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari sini kita mengetahui bahwa perkataan Hasan Al-Banna: ”aturan dakwah dalam periode ini adalah keshufian yang murni dari sisi rohani dan militer murni dari sisi amal” maknanya adalah kewajiban ta’a tanpa adanya rasa ragu, bimbang dan bertanya. Hal ini sama dengan slogan orang-orang Shufi “Kami dihadapan syaikh mesti bagaikan seorang mayit”.&lt;br /&gt;Kemudian, tahukah Anda apa yang dimaksud dengan “paham” pada point pertama? Mari kita simak penuturan sang imam ini: “Hanyalah yang saya maukan dengan ‘paham’ ini, adalah engkau harus yakin bahwa pemikiran kami adalah Islami dan benar, dan agar engkau memahami Islam sebagaimana kami memahaminya dalam batas 20 prinsip yang kami ringkas seringkas-ringkasnya.” (Majmu’ Rasa`il, karya Al-Banna, hal. 356)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan inilah pemahaman aqidah Hasan Al-Banna dalam “20 prinsipnya” itu.&lt;br /&gt;Berkata Hasan Al-Banna dalam prinsip ke-15 dari 20 prinsipnya:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;والدعاء إذا بالتوسل إلى الله تعالى بأحد من خلقه خلاف فرعي في كيفية الدعاء وليس من أمور العقيدة ” (من كتاب نظرات في رسالة التعاليم, ص: 177).&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Do’a apabila disertai dengan tawasul kepada Allah Ta’ala dengan salah satu makhluk-Nya merupakan perbedaan furu’iyyah dalam tata cara berdo’a dan bukan dalam masalah aqidah” (Dari kitab Nazorot Fii Risalah At-Ta’aaliim, hal: 177).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah:”Barangsiapa yang mengangkat perantara antara dirinya dengan Allah, dengan menyeru dan meminta pertolongan melalui perantara tersebut serta berserah diri padanya, maka dia telah kafir” (Kasyfu Syubhat, hal: 69).&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;= = = 0 0 0 = = =&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fatwa Syaikh Sholih bin Fauzan Al-Fauzan Hafizahullah Tentang Bai’at&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal: &lt;/span&gt;Fadhilatusy Syaikh ! Termasuk perkara yang dianggap remeh manusia sekarang ini adalah masalah ba’iat. Ada beberapa orang yang berpendapat boleh memberikan bai’at kepada salah satu kelompok Islam yang ada sekarang ini, kendati di sana ada bai’at-bai’at lain bagi kelompok lain pula. Kadangkala pemimpin yang dibai’at ini tidak dikenal dengan alasan masih ‘dirahasiakan’. Bagaimanakah hukumnya bai’at seperti itu? Apakah hukumnya berbeda di dalam negeri-negeri kafir atau negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah ?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab: &lt;/span&gt;Bai’at hanya boleh diberikan kepada penguasa kaum muslimin. Bai’at-bai’at yang berbilang-bilang dan bid’ah itu merupakan akibat perpecahan. Setiap kaum muslimin yang berada dalam satu pemerintahan dan satu kekuasaan wajib memberikan satu bai’at kepada satu orang pemimpin. Tidaklah dibenarkan memunculkan bai’at-bai’at yang lain. Bai’at-bai’at tersebut merupakan hasil perpecahan kaum muslimin pada zaman ini dan akibat kejahilan tentang agama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang itu, beliau bersabda.&lt;br /&gt;“Artinya : Siapa saja yang ingin memecah belah persatuan kalian setelah kalian sepakat mengangkat seorang pemimpin maka tebaslah lehernya”&lt;br /&gt;Atau sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika didapati orang yang ingin membangkang pemerintah yang berdaulat dan berusaha memecah belah persatuan kaum muslimin maka Rasulullah telah memerintahkan waliyul amri berserta segenap kaum muslimin untuk memerangi pembangkang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.&lt;br /&gt;“Artinya : Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali, kepada perintah Allah, jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah) maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan dan berlaku adillaj. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” [Al-Hujurat : 9]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu serta beberapa sahabat yang senoir memerangi kelompok Khawarij dan kaum pembangkang hingga berhasil ditumpas dan memadamkan kekuatan mereka sehingga kaum musilimin aman dari kejahatan mereka. Ini merupakan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau telah memerintahkan kaum muslimin agar memerangi kaum pemberontak dan kelompok Khawarij yang berusaha memecah belah persatuan kaum muslimin dan membangkang pemerintah. Semua itu demi menjaga persatuan dan kesatuan jama’ah kaum muslimin dari rongrongan perpecahan dan perselisihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Soal:&lt;/span&gt; Syaikh Salih bin Fauzan Al-Fauzan ditanya : Apa hukumnya orang yang menisbatkan dirinya kepada salah satu jama’ah tersebut ? Khususnya kepada jama’ah yang menerapkan sistem sirriyah dan ba’iah terhadap pengikutnya ?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jawab:&lt;/span&gt; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa perpecahan bakal terjadi. Pada kondisi demikian beliau memerintahkan kita untuk berpegang teguh persatuan dan isitiqamah di atas petunjuk Rasulllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat-sahabat beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda.&lt;br /&gt;“Artinya : Umat Yahudi telah berpecah belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Umat Nashrani telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan dan umat ini akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan seluruhnya masuk Neraka kecuali satu. Para sahabat bertanya : “Siapakah golongan yang satu itu, wahai Rasulullah !” Beliau menjawab : “Siapa saja yang berada diatas pertunjukku dan di atas petunjuk sahabat-sahabatku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika para sahabat meminta wasiat kepada beliau, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.&lt;br /&gt;“Artinya : Aku wasiatkan kamu agar selalu bertakwa, patuh dan taat (kepada pemimpin) walaupun yang memimpin kamu adalah seorang budak. Sebab siapa saja yang hidup sepeninggalku ia pasti melihat perselisihan yang sangat banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah Khulafa Rasyidin setelahku. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi gerahammu (sungguh-sungguhlhah)”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pedoman yang harus ditempuh oleh kaum muslimin sekarang ini sampai hari Kiamat. Yaitu dalam menghadapi perselisihan hendaklah merujuk kepada pedoman Salafush Shalih dalam masalah apapun, terutama masalah dien, manhaj, bai’at dan lain-lain. (Fiqh As-Siyasah As-Syar’iyyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Ditulis Oleh Hamba Yang Selalu Mengharapkan Ampunan-Nya&lt;br /&gt;Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan&lt;br /&gt;Kuwait; Kamis, 27 Dzulqo’dah 1428 H- 6 Desember 2007 M&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-3267220710168908471?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/3267220710168908471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/3267220710168908471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/menyingkap-baiat-ala-ikhwanul-muslimin.html' title='Menyingkap Bai&apos;at Ala Ikhwanul Muslimin'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-6805567540001479960</id><published>2008-04-17T22:44:00.003+03:00</published><updated>2008-04-17T22:47:42.622+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Ikhwanul Muslimin'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ikhwanul Muslimin'/><title type='text'>Mengenal Pendiri Ikhwanul Muslimin</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 14pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;MENGENAL PENDIRI HAROKAH IKHWANUL MUFLISIN&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;Diringkas Oleh:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendahuluan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendiri gerakan (harokah) Ikhwanul Muflisin adalah Hasan Al-Banna. Ia pernah mengalami pendidikan di bawah asuhan orang-orang shufi. Untuk lebih mengenal siapa dan bagaimana aqidah pendiri harokah ini, berikut kami ketengahkan biografi singkatnya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelahirannya:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Hasan Al-Banna dilahirkan pada tahun 1906 M, di sebuah desa bernama Al-Mahmudiyyah, yang masuk wilayah Al-Buhairah. Ayahnya seorang yang cukup terkenal dan memiliki sejumlah peninggalan ilmiah seperti Al-Fathurrabbani Fi Tartib Musnad Al-Imam Ahmad Asy-Syaibani, beliau adalah Ahmad bin Abdurrahman Al-Banna yang lebih dikenal dengan As-Sa’ati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikannya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ia mulai pendidikannya di Madrasah Ar-Rasyad Ad-Diniyyah dengan menghafal Al-Qur`an dan sebagian hadits-hadits Nabi serta dasar-dasar ilmu bahasa Arab, di bawah bimbingan Asy-Syaikh Zahran seo-rang pengikut tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Al-Banna benar-benar terkesan dengan sifat-sifat gurunya yang mendidik, sehingga ketika Asy-Syaikh Zahran menyerahkan kepemim-pinan Madrasah itu kepada orang lain, Hasan Al-Banna pun ikut meninggalkan madrasah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya ia masuk ke Madrasah I’dadiyyah di Mahmudiyyah, setelah berjanji kepada ayahnya untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur`an-nya di rumah. Tahun ketiga di madrasah ini adalah awal perkenalannya dengan gerakan-gerakan dakwah melalui sebuah organisasi, Jum’iyyatul Akhlaq Al-Adabiyyah, yang dibentuk oleh guru matematika di madrasah tersebut. Bahkan Al-Banna sendiri terpilih sebagai ketuanya. Aktivitasnya terus berlanjut hingga ia bergabung dengan organisasi Man’ul Muharramat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Madrasah Al-Mu’allimin Al-Ula di kota Damanhur. Di sinilah ia berkenalan dengan tarekat shufi Al-Hashafiyyah. Ia terkagum-kagum dengan majelis-majelis dzikir dan lantunan nasyid yang didendangkan secara bersamaan oleh pengikut tarekat tersebut. Lebih tercengang lagi ketika ia dapati bahwa di antara pengikut tarekat tersebut ada guru lamanya yang ia kagumi, Asy-Syaikh Zahran. Akhirnya Al-Banna bergabung dengan tarekat tersebut. Sehingga ia pun aktif dan rutin mengamalkan dzikir-dzikir Ar-Ruzuqiyyah pagi dan petang hari. Tak ketinggalan, acara maulud Nabipun rutin ia ikuti: “…Dan kami pergi bersama-sama di setiap malam ke masjid Sayyidah Zainab, lalu melakukan shalat ‘Isya di sana. Kemudian kami keluar dari masjid dan membuat barisan-barisan. Pimpinan umum Al-Ustadz Hasan Al-Banna maju dan melantunkan sebuah nasyid dari nasyid-nasyid maulud Nabi, dan kamipun mengikutinya secara bersamaan dengan suara yang nyaring, membuat orang melihat kami,” ujar Mahmud Abdul Halim dalam bukunya. (Al-Ikhwanul Muslimun Ahdats Shana’at Tarikh, 1/109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara aktivitas selama bergabung dengan tarekat ini ialah pergi bersama teman-teman setarekat ke kuburan, untuk meng-ingatkan mereka tentang kematian dan hisab (perhitungan amal). Mereka duduk di depan kuburan yang masih terbuka, bahkan salah seorang mereka terkadang masuk ke liang kubur tersebut dan berbaring di dalamnya agar lebih menghayati hakekat kematian nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Banna terus bergabung dengan tarekat tersebut sampai pada akhirnya ia berbai’at kepada syaikh tarekat saat itu yaitu Asy-Syaikh Basyuni Al-’Abd. Jabir Rizq mengatakan: “…(Hasan Al-Banna) sangat berkeinginan mengambil ajaran tarekat itu, sampai-sampai ia meningkat dari sekedar simpatisan ke pengikut yang berbai’at.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeninggal Basyuni, Al-Banna berbai’at kepada Asy-Syaikh Abdul Wahhab Al-Hashafi, pengganti pendiri tarekat tersebut. Ia diberi ijazah wirid-wirid tarekat tersebut. Dengan bangga Al-Banna mengungkapkan: “Dan saya berteman dengan saudara-saudara dari tarekat Al-Hashafiyyah di Damanhur. Saya rutin mengikuti acara al-hadhrah di Masjid Taubah setiap malam… Sayyid Abdul Wahhab-pun datang, dialah yang memberikan ijazah di kelompok tarekat Hashafiyyah Syadziliyyah, dan saya menda-pat ajaran tarekat ini darinya. Ia juga mem-beri saya wirid dan amalan tarekat itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena faktor tertentu, akhirnya kelompok tarekat ini mendirikan sebuah organisasi, bernama Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-Khairiyyah yang diketuai oleh teman lamanya, Ahmad As-Sukkari. Sementara Hasan Al-Banna menjadi sekretarisnya. Al-Banna mengatakan: “Di saat-saat ini, nampak pada kami untuk mendirikan organisasi perbaikan yaitu Al-Jum’iyyah Al-Hashafiyyah Al-Khairiyyah, dan aku terpilih sebagai sekretarisnya… Lalu dalam perjuangan ini, aku menggantikannya dengan organisasi Ikhwanul Muslimin setelah itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Banna menghabiskan waktunya di madrasah Al-Mu’allimin dari tahun 1920-1923 M. Di sela-sela masa itu, ia juga banyak membaca majalah Al-Manar yang diterbitkan oleh Muhammad Rasyid Ridha, salah seorang tokoh gerakan Ishlahiyyah yang banyak dipengaruhi pemikiran Mu’tazilah. Di sisi lain, iapun suka mendatangi Asy-Syaikh Muhibbuddin Al-Khathib di perpustakaan salafinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Banna, ketika ingin melanjutkan pendidikannya ke Darul Ulum, sempat bimbang antara melanjutkan atau menekuni dakwah dan amal. Ini dikarenakan interaksinya dengan buku Ihya‘ Ulumuddin. Namun bermodalkan nasehat dari salah seorang gurunya, ia mantap untuk melanjutkan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum. Di sini, ia sangat giat membentuk jamaah-jamaah dakwah, sehingga di tengah-tengah aktivitasnya tercetus dalam benaknya ide untuk menjalin hubungan dengan orang-orang yang duduk di warung-warung kopi dan di desa-desa terpencil untuk mendakwahi mereka. Pada akhirnya Al-Banna lulus dari Darul Ulum pada tahun 1927 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pendidikannya di Darul Ulum, ia diangkat menjadi guru di daerah Al-Isma’iliyyah. Iapun mengajar di sekolah dasar selama 19 tahun. Sebelumnya, ia datang ke daerah itu pada tanggal 19 September 1927 dan tinggal di sana selama 40 hari untuk mempelajari seluk-beluk lingkungan tersebut. Ternyata, ia dapati banyak terjadi perselisihan di antara masyarakat, sementara ia berkehendak agar dapat berkomunikasi, bergaul dengan semua pihak, dan mempersatukannya. Usai berpikir panjang, akhirnya ia memutuskan untuk menjauh dari semua kelompok yang ada dan berkonsentrasi mendakwahi mereka yang berada di warung-warung kopi. Lambat laun dakwahnya-pun tersebar dan semakin bertambah jumlah pengikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pembentukan Gerakan Ikhwanul Muslimin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan Dzulqa’dah 1347 H yang bertepatan dengan Maret 1928, enam orang dari pengikutnya mendatangi rumahnya, membai’atnya demi beramal untuk Islam dan sama-sama bersumpah untuk menjadikan hidup mereka untuk dakwah dan jihad. Dengan itu muncullah tunas pertama gerakan Ikhwanul Muslimin. Selang empat tahun, dakwahnya meluas, sehingga ia pindah ke ibukota Kairo, bersama markas besar Ikhwanul Muslimin. Dengan bergulirnya waktu, jangkauan dakwah semakin lebar. Kini saatnya bagi Al-Banna untuk mengajak anggotanya melakukan jihad amali. Dengan situasi yang ada saat itu, ia membentuk pasukan khusus untuk melindungi jamaahnya. Pada tahun 1942 M, Hasan Al-Banna menetapkan untuk mencalonkan dirinya dalam pemilihan umum, tapi ia mencabutnya setelah maju, karena ada ancaman dari Musthafa Al-Basya, yang waktu itu menjabat sebagai pimpinan Al-Wizarah (Perdana Menteri, ed.). Dua tahun kemudian, ia mencalonkan diri kembali, namun Inggris memanipulasi hasil pemilihan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wafatnya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1949 M, Al-Banna mendapat undangan gelap untuk hadir di kantor pusat organisasi Jum’iyyatusy Syubban Al-Muslimin beberapa saat sebelum maghrib. Ketika ia hendak naik taksi bersama Abdul Karim Manshur, tiba-tiba lampu penerang jalan tersebut dipadamkan. Bersamaan dengan itu peluru-peluru beterbangan mengarah ke tubuhnya. Ia sempat dievakuasi dengan ambulans. Namun karena pendarahan yang hebat, ajal menjemputnya. Dengan itu, tertutuplah lembaran kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian sejarah ringkas Hasan Al-Banna bersama gerakan dakwah yang ia dirikan. Pembaca mungkin berbeda-beda dalam menanggapi sejarah tersebut, sesuai dengan sudut pandang yang digunakan. Namun bila kita melihatnya dengan kacamata syar’i, menimbangnya dengan timbangan Ahlus Sunnah, maka kita akan mendapatinya sebagai sejarah yang suram. Mengapa? Karena kita melihat, ternyata gerakan tersebut lahir dari sebuah sosok yang berlatar belakang aliran shufi Hashafi dengan berbagai kegiatan bid’ahnya, seperti bai’at kepada syaikh tarekat dan kepada Al-Banna sendiri sebagai pimpinan gerakan, amalan wirid-wirid Ruzuqiyyah yang diada-adakan, dzikir berjamaah, maulud Nabi, ziarah-ziarah kubur dengan cara bid’ah sampai pada praktek politik praktis di atas asas demokrasi. Gurunyapun campur aduk, dari syaikh tarekat, seorang yang terpengaruh madzhab Mu’tazilah, dan seorang yang berakidah salafi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna-warni sosok pendiri tersebut sangat berpengaruh dalam menentukan corak gerakan tersebut, sehingga warnanyapun tidak jelas, buram. Tidak seperti Ash-Shirathul Mustaqim yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam katakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Traditional Arabic'; color: red;"&gt;تَرَكْتُكُمْ عَلىَ مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;“Aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya seperti siangnya.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Abi ‘Ashim, Al-Hakim, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Zhilalul Jannah no. 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-6805567540001479960?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/6805567540001479960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/6805567540001479960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/mengenal-pendiri-ikhwanul-muslimin.html' title='Mengenal Pendiri Ikhwanul Muslimin'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-342763595097762984</id><published>2008-04-17T21:32:00.002+03:00</published><updated>2008-04-17T21:39:54.396+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jama&apos;ah Tabligh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Jama&apos;ah Tabligh'/><title type='text'>Bantahan Tafsir Mimpi Muhammad Ilyas</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.15pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Bodoni MT&amp;quot;; color: blue;"&gt;BANTAHAN TAFSIR MIMPI MUHAMMAD ILYAS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 0.15pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bodoni MT&amp;quot;; color: blue;"&gt;Disusun Oleh:&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: blue;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Bodoni MT&amp;quot;; color: blue;"&gt;Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: blue;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;Berkata Muhammad Manzur Al-Nu’maaniy menukil perkataan Syaikh Muhammad Ilyas tentang dirinya:”Terbuka jelas jalan dakwah ini ketika saya mendapatkan ilham dalam mimpi tentang tafsir baru firman Allah:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; color: red;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;{كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ} (110) سورة آل عمران&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: windowtext;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imron: 110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;Dan hal itu tidak dapat terwujud dengan tetap tinggal disatu tempat, berdasarkan dalil firman Allah ( أخرجت). Dan iman akan bertambah dengan khuruj ini, dengan dalil adanya firman Allah Azza wa Jalla ( وتؤمنون بالله ) setetelah firman-Nya ( أخرجت للناس ) dan makna kalimat ( أمة ) adalah bangsa arab dan ( الناس) adalah bangsa-bangsa selain arab&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;1).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmiy hafizahullah Ta’ala ketika mengomentari pernyataan di atas:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Sesungguhnya Al-Qur’an tidak dapat ditafsirkan oleh orang-orang yang sedang tidur, sesungguhnya hal ini merupakan salah satu penafsiran Al-Kasyf dari para pengikut shufiyyah yang mana hal ini berasal dari Syaithon.&lt;br /&gt;b) Perkataannya:” Dan hal itu tidak dapat terwujud dengan tetap tinggal disatu tempat..”. Ini adalah perkataan bathil. Sesungguhnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah mewujudkan dakwah sedangkan ia berada di Makkah dan Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab telah mewujudkan dakwah sedangkan ia berada di Ad-Dar’iyyah. Barangsiapa yang membuka madrosah dan mengajarkan ilmu kepada menusia maka ia telah menegakkan/mewujudkan dakwah di atas tangannya apabila ia melakukannya dengan ikhlash dan menasehati (ummat, pent) walaupun ia tinggal disuatu tempat.&lt;br /&gt;c) Dan perkataannya:” Dan iman akan bertambah dengan khuruj..”. Pernyataan ini juga tidak benar, karena iman akan bertambah dengan keta’atan apabila menetapi syarat-syarat diterimanya suatu amal. Karena syarat diterimanya suatu amal adalah ikhlash dan benar dengan apa-apa yang disyari’atkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; color: red;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;{وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى …} (76) سورة مريم&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: windowtext;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunju…” (QS. Maryam: 76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca Al-Qur’an dengan mentadaburinya, membaca As-Sunnah (Al-Hadits, pent) dengan tujuan untuk memahami Ad-Dien, berdzikir dengan dzikir-dzikir yang masyru’, melakukan sholat sunnah, shodaqoh, shaum dan lain sebagainya semuanya ini merupakan wasilah bertambahnya iman. Bertambahnya iman bukan karena khuruj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Sedangkan tafsir ( أمة) khusus untuk bangsa arab saja dan ( الناس) untuk orang-orang selain bangsa arab, ini adalah penafsiran yang tidak pernah aku (Syaikh Ahmad Yahya, pent) lihat dari generasi terbaik ummat ini, bahkan khithob (ayat ini, pent) adalah kepada seluruh ummat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, baik bangsa arab maupun bangsa selain arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Abdullah bin ‘Abas:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; color: red;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” هم الذين هاجروا من مكة وشهدوا بدرا والحديبية “&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: windowtext;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Mereka adalah orang-orang yang berhijrah dari Makkah dan syahid di Badr dan Hudaibiyyah” (HR. Ahmad 1/272; An-Nasa’I dalam At-Tafsir 1/319 no. 92; Ath-Thabariy dalam Tafsirnya 7/110; Ibn Abi Haatim no. 1157; Ibn Abi Syaibah 12/155; Ath-Thabraniy dalam Al-Kabiir no. 12303; Al-Haakim 2/294 ia berkata:”Shahih menurut syarat Imam Muslim dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Berkata Al-Hafiz (Ibn Hajar, pent) dalam Al-Fath 8/225:”Sanadnya bagus”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata ‘Umar ibn Al-Khothob:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; color: red;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;” من فعل فعلهم فهو مثلهم “&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: windowtext;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Barangsiapa yang melakukan apa-apa yang mereka lakukan maka ia seperti mereka”&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam hadits Shahih Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:&lt;br /&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="rtl" style="text-align: justify; text-indent: 0.15pt;"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;; color: red;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="rtl"&gt;&lt;/span&gt;(( خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم…))&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span dir="ltr" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; color: windowtext;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  “Sebaik-baiknya manusia adalah pada masaku, kemudian setelahnya, kemudian setelahnya…” (HR. Bukhori no. 4557; Ath-Thabraniy 4/29-30; Ibn Abi Haatim no. 1161; Al-Haakim dalam Al-Mustadrok 4/84. Hadits ini dishahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Lihat Tafsir Ibn Katsir 1/392).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkholiy hafizahullah:”Dan yang benar terhadap tafsir ayat: {كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ… } adalah umum untuk seluruh ummat di setiap masa.3 dan 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Kaki:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1) Lihat Al-Mauridul ‘Adzbul Zulal, hal: 250-251. Oleh: Syaikh Ahmad Yahya dan juga Jama’ah Tabligh, hal: 14. Oleh: Miyan Muhammad Aslam.&lt;br /&gt;2) Lihat Ad-Durul Mantsur 2/293.&lt;br /&gt;3) Lihat Tuhfatul Ahwadzi 8/353.&lt;br /&gt;4) Dinukil dari kitab Al-Mauridul ‘Adzbul Zulal, hal: 265-268 dengan diringkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-342763595097762984?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/342763595097762984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/342763595097762984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/bantahan-tafsir-mimpi-muhammad-ilyas.html' title='Bantahan Tafsir Mimpi Muhammad Ilyas'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-830400684338344207</id><published>2008-04-17T14:17:00.002+03:00</published><updated>2008-04-17T14:19:42.345+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jama&apos;ah Tabligh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh Jama&apos;ah Tabligh'/><title type='text'>Mengenal Pendiri Jama'ah Tabligh</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0.15pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 17pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;MENGENAL PENDIRI JAMA’AH TABLIGH&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0.15pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;Disusun Oleh:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0.15pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0.15pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah Tabligh adalah salah satu diantara jama’ah-jama’ah dakwah yang ada pada saat ini. Jama’ah ini berdiri sekitar pertengahan abad 14 Hijriyah, pendirinya adalah Syaikh Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma’il Al-Kandahlawiy1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kelahirannya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Ilyas dilahirkan pada tahun 1302 Hijriyah, ia menghafal Al-Qur’an dan kitab-kitab hadits (Kutubus Sittah) di atas manhaj Ad-Deobandiy2), dengan madzhab Hanafi, Aqidah Asy’ariy Al-Maturidiy, dan dengan thoriqoh shufiyah.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah Tabligh menganut 4 (empat) thoriqoh shufiyyah, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Thoriqoh An-Naqsyabandiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Thoriqoh As-Sahrudiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Thoriqoh Al-Qodariyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Thoriqoh Al-Jisytiyyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Ilyas telah melakukan bai’at shufiyyah kepada Syaikh Rosyid Ahmad Al-Kankuhiy, kemudian ia memperbaharuinya setelah Syaikh Rosyid meninggal kepada Syaikh Ahmad Al-Sahranfuriy. Syaikh Ahmad memberikan izin kepada Muhammad Ilyas untuk membai’at orang lain menurut manhaj shufi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Ilyas sering sekali duduk berkhalwat di kuburan Syaikh Nur Muhammad Al-Badayuniy dan kuburan Syaikh ‘Abdul Kudus Al-Kankuhiy seorang penganut faham wihdatul wujud 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata Muhammad Manzur Al-Nu’maaniy menukil perkataan Syaikh Muhammad Ilyas tentang dirinya:”Terbuka jelas jalan dakwah ini ketika saya mendapatkan ilham dalam mimpi tentang tafsir baru firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ} (110) سورة آل عمران&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik” (QS. Ali Imron: 110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal itu tidakdapat terwujud dengan tetap tinggal disatu tempat, berdasarkan dalil firman Allah ( أخرجت). Dan iman akan bertambah dengan khuruj ini, dengan dalil adanya firman Allah Azza wa Jalla ( وتؤمنون بالله ) setetelah firman-Nya ( أخرجت للناس ) dan makna kalimat ( أمة ) adalah bangsa arab dan ( الناس) adalah bangsa-bangsa selain arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Azza wa Jalla telah menyampaikan tentang bangsa arab sebagaimana dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{لَّسْتَ عَلَيْهِم بِمُصَيْطِرٍ} (22) سورة الغاشية&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka” (QS. Al-Ghoosyiyyah: 22). Dan firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;{… وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِوَكِيلٍ} (107) سورة الأنعام&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka” (QS. Al-An’am: 107)4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wafatnya:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh Muhammad Ilyas meninggal dunia pada tahun 1364 Hijriyah atau bertepatan pada tahun 1944 Masehi, meninggalkan keluarga dan pengikutnya. Diantara putranya adalah Syaikh Muhammad Yusuf Al-Kandahlawiy, amir kedua Jama’ah Tabligh. Juga meninggalkan seorang putrid yang kemudian menikah dengan Syaikh Muhammad Zakaria, penulis kitab Tabligh An-Nishob.5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan Kaki:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Al-Kandahlawiy adalah penisbatan kepada tanah kelahirannya Kandahla distrik Saharanpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Ad-Deobandiyah adalah nisbat kepada nama desa Deoband. Deobandiyyah adalah madrasah Darul Ulum yang di dirikan pada tanggal 18 Muharram 1288 H. Khusus mengajarkan madzhab Hanafi dan Aqidah Asy’ariyah Maturidiyah. Mereka beranggapan bahwa madrasah ini di dirikan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, dihadiri oleh Syaikh Muhammad Qaasim An-Nanutawi Al-Hanafiy Al-Jitsiy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Jama’ah Tabligh, hal: 12-13. Muhammad Aslam. Dengan Perantara kitab Haqiqat Ad-Da’wah Ila Allah. Oleh: Sa’ad Hushain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Lihat Al-Mauridul ‘Adzbul Zulal, hal: 250-251. Oleh: Syaikh Ahmad Yahya dan juga Jama’ah Tabligh, hal: 14. Oleh: Miyan Muhammad Aslam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Haqiqat Ad-Da’wah Ila Allah, hal: 63. Oleh: Sa’ad Hushain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-830400684338344207?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/830400684338344207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/830400684338344207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/mengenal-pendiri-jamaah-tabligh.html' title='Mengenal Pendiri Jama&apos;ah Tabligh'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-796897720869900063.post-4507047020930241234</id><published>2008-04-16T00:10:00.001+03:00</published><updated>2008-04-16T00:11:43.875+03:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jama&apos;ah Tabligh'/><title type='text'>Borok-Borok Jama'ah Tabligh</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;BOROK-BOROK AQIDAH JAMA’AH TABLIGH&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;Oleh:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;Al-Ustadz Azhari Asri hafizahullah Ta’ala&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" dir="ltr" style="text-align: center; text-indent: 0pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: 'Bodoni MT'; color: red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada yang bertanya: Kenapa dakwah Salafiyah sering membicarakan kejelekan fulan dan fulan, kelompok ini dan kelompok itu? Apakah ini bukan termasuk ghibah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah wahai saudaraku, tidaklah semua ghibah diharamkan. Ada jenis ghibah tertentu yang diperbolehkan. Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan: Ketahuilah, bahwasanya ghibah diperbolehkan bila untuk tujuan yang benar dan syar’i yang tidak mungkin dapat dicapai (tujuan itu) kecuali dengannya.&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Yang demikian itu dengan alasan enam sebab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karena terzhaliminya (seseorang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Dalam rangka minta bantuan untuk merubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang bermaksiat kepada kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Minta fatwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.Memperingatkan kaum Muslimin dari suatu kejelekan dan menasehati mereka. Yang demikian meliputi beberapa bentuk di antaranya dengan menerangkan kejelekan rawi-rawi hadits dan para saksi yang memiliki kejelekan. Hal itu diperbolehkan berdasarkan ijma’ kaum Muslimin bahkan wajib karena adanya kebutuhan. Dan (bentuk lain) yaitu jika seseorang melihat seorang penuntut ilmu mondar-mandir mendatangi mubtadi’ atau seorang yang fasik, dia mengambil ilmu darinya dan dikhawatirkan si penuntut ilmu itu terpengaruh dengannya maka wajib bagi orang tadi untuk menasehatinya dengan menerangkan keadaan mubtadi’ tersebut. Dengan syarat dia bermaksud memberi nasehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.Adanya seseorang yang terang-terangan dengan kefasikannya dan kebid?ahannya.&lt;br /&gt;6.Untuk pengenalan, (misalnya) seorang manusia terkenal dengan julukan si kabur matanya, si buta, si pincang, dan yang lain maka diperbolehkan memperkenalkan mereka dengan julukan-julukannya itu. Tetapi diharamkan jika tujuannya untuk mencela dan merendahkan. Dan seandainya memungkinkan untuk diperkenalkan dengan selain itu, itu lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dinukil secara ringkas dari Kitab Riyadhush Shalihin bab ke-256, Bab Perkara Diperbolehkan Berghibah halaman 525-527 tahqiq Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah jenis keempat, Imam An-Nawawi menyatakan bahwa ghibah diperbolehkan jika dalam rangka memperingatkan kaum Muslimin dari suatu kejelekan dan untuk menasehati mereka. Berapa banyak kitab-kitab para ulama yang membahas kejelekan rawi-rawi hadits dan kelemahaan mereka, seperti Kitab Adh-Dhu’afa karya Imam Bukhari, Nasa’i, Al-Uqaili, dan Ad-Daraquthni. Kitab Al-Kamil fid Dhu’afa karya Ibnu Abi Hatim, Kitab Al Mughni fidh Dhu’afa karya Imam Adz Dzahabi dan berbagai kitab lainnya yang berisi jarh (kritikan) terhadap rawi-rawi hadits. Apakah kita menuduh para ulama telah melakukan ghibah terhadap individu-individu tertentu atau kelompok-kelompok tertentu. Na’udzu Billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa menyebutkan kejelekan seseorang diharamkan jika tujuannya semata-mata mencela, mem    kar aib, dan merendahkan dia. Adapun jika di situ ada maslahat bagi seluruh kaum Muslimin atau khususnya bagi sebagian mereka dan bertujuan mencapai maslahat itu maka tidak diharamkan tetapi mandub (disunnahkan). Tegas Ibnu Rajab Al Hambali dalam Al Farqu bainan Nashihah wat Ta’yir halaman 25.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak akan tinggal diam ketika melihat kemungkaran-kemungkaran atau penyimpangan-penyimpangan yang terjadi di tengah-tengah kaum Muslimin. Kita harus memperingatkan kaum Muslimin agar berhati-hati dari orang-orang yang menyimpang atau kelompok-kelompok yang menyimpang dari Al Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para Salafus Shalih dari generasi shahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sebagian mereka berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal: “Sesungguhnya berat bagiku untuk mengatakan si fulan begini dan begitu. Maka beliau berkata: Kalau Anda diam dan akupun diam, kapan orang yang tidak tahu akan tahu mana yang benar dan yang salah”. (Naqdur Rijal halaman 39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, yang menjadi sorotan kita kali ini adalah penyimpangan aqidah Firqah Tabligh. Sejauh mana kelompok yang bertambah subur dimana-mana ini menyimpang dari aqidah yang benar, aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman Syahadat Menurut Jama’ah Tabligh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menafsirkan makna Laa Ilaaha Illallah terjadi kesalahan       (fatal error) pada mereka. Mereka menafsirkan lafadh itu dengan makna Rububiyah Allah. Yaitu bahwa Allah adalah Pencipta, Pemberi Rizqi, Pengatur Semua Urusan dan Yang Menghidupkan serta Yang Mematikan. Memang benar Allah demikian, tapi apakah makna seperti itu yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika mendakwahi kaum musyrikin di zaman beliau. Tidak! Mengapa?. Karena kaum musyrikin yang hidup di masa beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memiliki keyakinan yang demikian. Allah kisahkan keadaan mereka itu dalam firman-Nya (yang artinya): “Katakanlah: Siapakah yang memberi rizki kalian dari langit dan bumi atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Niscaya mereka akan menjawab: ‘Allah’. Maka katakanlah: ‘Mengapa kalian tidak mau bertaqwa (kepada-Nya).” (QS. Yunus: 31)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya jika mereka mengetahui.? Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah: ‘Maka mengapa kalian tidak ingat’. Katakanlah: ‘Siapa yang mempunyai langit yang tujuh dan yang mempunyai ‘Arsy yang besar’. Mereka akan menjawab: ‘Milik Allah’. Katakanlah: ‘Maka apakah kalian tidak bertakwa’. Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya jika kalian mengetahui’. Mereka akan menjawab: ‘Kepunyaan Allah’. Katakanlah: ‘(Kalau demikian) maka dari jalan mana kalian ditipu”. (QS. Al Mukminun: 84-89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah,.walau demikian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tetap memerangi mereka. Mengapa?. Karena mereka tidak mengakui bahwa Allah saja yang berhak untuk diibadahi. Dan mereka tahu kalau mengucapkan syahadat berati mereka mengkufuri semua sesembahan mereka. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: “Padahal mereka kaum musyrikin mengakui dan bersaksi bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi Rizki sendiri saja tanpa sekutu. Dan tidak ada pemberi rizki kecuali Dia. Tidak ada yang menghidupkan dan mematikan kecuali Dia. Tidak ada yang mengatur alam kecuali Dia. Semua langit yang tujuh dan para penghuninya, bumi-bumi dan para penghuninya semuanya adalah hamba-hamba-Nya dan dalam kekuasaan-Nya dan kalau Anda menginginkan dalil bahwa mereka yang diperangi oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga meyakini seperti ini, bacalah ayat… (Kemudian beliau membawakan ayat-ayat tadi)”. (Lihat Kasyfusy Syubuhat halaman 9-10, ta’liq Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman menyimpang di atas terjadi pula pada Jama’ah Tabligh ini. Mereka menafsirkan kata Illah dalam syahadat dengan Rububiyah. Ini dinyatakan oleh Syaikh Hammud dan dialaminya sendiri oleh beliau serta teman-temannya yang lain ketika berdialog dengan salah seorang tokoh mereka ketika ditanyakan tentang makna Illah dalam syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun dalam hal tauhid Asma’ was Shifat, di kalangan orang-orang tabligh ada yang berpemahaman Asy’ariyah dan Maturidiyah. Kedua madzhab ini termasuk dalam madzhab yang menyelisihi aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Al Qaulul Baligh hal: 8 )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengingkaran Jamaah Tabligh Terhadap ‘Uluwullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kitab Al-Qaulul Baligh halaman 42-43 disebutkan kisah seorang pemimpin Jama’ah Tabligh di Saudi Arabia yang beraqidah Maturidiyah dan mengingkari ‘Uluwullah (sifat ketinggian bagi Allah di atas makhluk-Nya). Syaikh Hammud At-Tuwaijiri mengisahkan bahwa seorang guru di Jama’atul Islamiyah Madinah mengirim surat kepadanya. Dalam surat itu, guru tadi berkata: ‘Suatu kisah pernah saya alami, seseorang datang menemuiku hendak mengingkari kritikan saya terhadap Jama’ah Tabligh. Aku berkata kepadanya: ‘Sesungguhnya mereka berpemahaman sufi dan Maturidiyah, mereka enggan mensifati Allah dengan sifat ‘Uluw’. Dia (seorang tablighi) berkata: ‘Apa buktinya’. Aku berkata kepadanya: ‘Pergilah dan buktikan sendiri!’. Maka dia pergi, selang beberapa hari dia datang kepadaku dan berkata: ‘Apa yang Anda katakan bahwa mereka tidak mengakui bahwa Allah di atas dan bersemayam (istiwa’) di atas ‘Arsy-Nya adalah benar. Aku bertanya kepadanya: ‘Bagaimana Anda bisa tahu hal itu?’. Dia berkata: ‘Aku mendatangi seorang pimpinan Tabligh yang bernama Sa’id Ahmad, dia sangat percaya kepadaku karena aku termasuk muridnya. Aku berkata kepadanya: ‘Aku benar-benar tidak meragukan keyakinan kita bahwa Allah ada di setiap tempat dan Dia tidak berada di atas langit. Akan tetapi dengan apa kita membantah orang yang mengatakan bahwa Allah di atas langit.? (Sa’id Ahmad) berkata: ‘Tinggalkanlah mereka dan tetaplah di atas aqidahmu karena itulah yang benar!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah pentolan Tabligh ini! Dia dengan tegas mengatakan bahwa Allah berada di mana-mana dan tidak bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Bukankah keyakinan seperti ini menyimpang dari keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini bahwa Allah di atas seluruh makhluk-Nya, beristiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, berada di atas langit-Nya, di atas makhluk-Nya, terpisah dari mereka, Dia mengetahui amalan-amalan mereka, mendengar ucapan-ucapan mereka, melihat gerak dan diamnya mereka, tidak ada yang tersembunyi bagi Allah sedikitpun. (Shifatullahi ‘Azza wa Jalla halaman 186)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa banyak ayat dalam Al Qur’an yang menjelaskan tentang ‘Uluwullah, di antaranya Allah berfirman (yang artinya):”Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi”. (QS. Al A’la: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya” (QS. Al An’am: 1 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apakah kalian merasa aman terhadap Allah yang di atas langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang”. (QS. Al Mulk: 16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘Arsy-Nya”. (QS. Thaha: 5)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dijelaskan tentang ‘Uluwullah. Di antaranya kisah dialog Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan seorang budak wanita milik Mu’awiyah bin Al Hakam As Sulami radliyallahu ‘anhu. Beliau bertanya kepada budak tersebut: “Di manakah Allah?” Dia menjawab: ‘Di atas langit’. Beliau bertanya lagi: “Siapakah aku?” Dia menjawab: ‘Engkau adalah Rasulullah’. Maka beliau berkata (kepada Mu’awiyah): “Merdekakanlah dia karena sesungguhnya dia adalah seorang perempuan Mukminah”. (HR. Ahmad dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkanlah antara budak wanita yang hidup di masa Rasulullah ini dengan tokoh Tabligh tersebut. Meskipun statusnya sebagai budak tetapi dia lebih pandai daripada tokoh Tabligh itu. Memang kesesatan itu tidak pandang bulu. Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjuki siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki pula. Syaikh Hammud At Tuwaijiri mengomentari kisah tokoh Tabligh tadi: “Ini adalah penyimpangan terbesar dalam aqidah orang-orang Tabligh, yaitu mengingkari ‘Uluwullah di atas makhluk-Nya. Inilah madzhab Jahmiyah (para pengikut Jahm bin Shafwan yang mengingkari sifat ‘Uluwullah, pent.) yang dikafirkan oleh kebanyakan ulama Salaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka hendaknya orang-orang yang ingin bergabung dengan Jama’ah Tabligh mengambil pelajaran dari kisah seorang pimpinan Jama’ah mereka itu yang meyakini bahwa Allah berada di setiap tempat dan tidak berada di atas langit! Ini adalah kekufuran yang nyata karena bertentangan dengan dalil-dalil yang banyak dari Al Kitab, As Sunnah, dan ijma’ kaum Muslimin yang menyatakan bahwa Allah di atas seluruh makhluk-Nya dan Allah bersama makhluk dengan ilmu-Nya, pengawasan-Nya, dan peliputan-Nya. Hendaknya seorang Mukmin ‘yang menasehati dirinya’ berhati-hati untuk bergabung dengan orang-orang Tabligh yang mengingkari ketinggian Allah di atas makhluk-Nya dan menyangka bahwa Allah berada di setiap tempat. Maha Tinggi Allah dari apa-apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dhalim”. (Al Qaulul Baligh halaman 43-44)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamaah Tabligh Mengagung-agungkan Kuburan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk kesesatan Tabligh dalam hal aqidah adalah mereka mendatangi kuburan tokoh-tokoh mereka kemudian berdoa dan menanti ilmu laduni (kasyaf, ilmu menyingkap rahasia-rahasia tersembunyi), karamah-karamah, dan ikatan batin dengan orang-orang yang ada di kuburan itu. Bukti atas ucapan ini adalah sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Aslam dalam kitabnya yang berjudul Jama’ah Tabligh ‘Aqidatuha wa Afkaru Masyayikhiha. Pengarang berkata pada halaman 3: “Bahwasanya tokoh utama orang-orang Tabligh, Muhammad Ilyas, duduk di belakang kuburan Abdul Quddus Al Kankuhi (seorang pemimpin tarikat Sufi beraliran Jistiyah) pada sebagian besar waktunya. Dan dia juga duduk berkhalwat (bersendiri) di dekat kuburan Sa’id Al Badayuni dan shalat jamaah di sana”. (Lihat Al Qaulul Baligh halaman 65)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diragukan lagi bahwa perbuatan tokoh mereka ini adalah perbuatan syirik bahkan menyerupai perbuatan Yahudi dan Nashara. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda (yang artinya): “Laknat Allah terhadap Yahudi dan Nashara, mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid”. (Aisyah berkata): ‘Beliau memperingatkan apa yang mereka lakukan dan seandainya jika tidak ada (peringatan itu) niscaya kuburan beliau ditampakkan (ditinggikan) tetapi karena beliau takut kalau kuburannya dijadikan masjid (maka tidak ditampakkan)’. (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah radliyallahu ’anha)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Ummu Habibah dan Ummu Salamah menerangkan keadaan gereja yang berada di negeri Habasyah (Ethiopia), keduanya menyebutkan keindahannya dan gambar-gambar yang ada di dalamnya. Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda (yang artinya): “Mereka adalah suatu kaum yang jika ada seorang yang shalih meninggal di antara mereka, mereka membangun masjid di atas kuburannya dan mereka membuat gambar-gambar itu (gambar orang shalih tersebut). Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah”. (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan: “Dengan sebab inilah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melarang menjadikan masjid-masjid di atas kuburan karena hal itu yang banyak menjerumuskan kebanyakan umat-umat ke dalam syirik akbar dan yang lebih rendah/hina dari itu. Sesungguhnya jiwa-jiwa manusia akan berbuat kesyirikan terhadap patung orang-orang shalih dan gambar-gambar yang dianggap sebagai mantera-mantera dan yang semacamnya. Kesyirikan karena adanya kuburan seseorang yang diyakini keshalihannya adalah lebih dekat kepada jiwa-jiwa manusia dibanding kesyirikan karena mengagungkan sebuah pohon atau sebuah batu. Oleh karena itu, Anda akan menjumpai orang-orang yang berbuat syirik, merendahkan diri, khusyu’, hening, dan menunaikan ibadah di kuburan-kuburan tersebut yang tidak mereka lakukan ketika berada di rumah-rumah Allah dan di waktu sahur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara mereka ada yang sujud kepada kuburan itu. Dan kebanyakan mereka mengharapkan barakah shalat dan berdoa di tempa itu apa yang mereka tidak harapkan ketika di masjid-masjid. Karena kerusakan itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memutuskan penyebab utamanya. Hingga beliau melarang shalat di kuburan secara mutlak. Walaupun orang yang shalat di situ tidak mengharapkan barakah tempat tersebut sebagaimana ketika shalat di masjid. Sebagaimana beliau melarang shalat ketika matahari terbit dan ketika terbenam. Karena waktu-waktu itu adalah waktu shalat bagi kaum musyrikin kepada matahari. Maka beliau melarang umatnya shalat ketika itu meskipun ia tidak bermaksud sebagaimana tujuan kaum musyrikin, (hal ini dilakukan) dalam rangka menutup jalan menuju larangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun jika seseorang shalat di sisi kuburan dengan tujuan mencari barakah di tempat itu maka ini benar-benar menentang Allah dan Rasul-Nya, menyelisihi agama Rasul dan melakukan kebid’ahan dalam agama yang tidak pernah diizinkan oleh Allah. Karena kaum Muslimin telah sepakat berdasarkan apa yang mereka ketahui dari agama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa shalat di sisi kuburan adalah terlarang dan bahwasanya beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam melaknat orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat sujud. Karena termasuk kebid’ahan terbesar dan sebab-sebab perbuatan syirik adalah shalat di sisi kuburan, menjadikannya sebagai tempat sujud, dan membangun masjid-masjid di atasnya. Telah mutawatir dalil-dalil dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam akan larangan dan sikap keras beliau terhadap (orang yang) membangun masjid di atas kuburan dan sujud di sisinya”. (Lihat Fathul Majid halaman 275-276)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterkaitan Jama’ah Tabligh Dengan Jimat-Jimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kesyirikan-kesyirikan yang tersebar di kalangan Jama’ah Tabligh adalah menggantungkan jimat-jimat yang berisi mantera-mantera, nama-nama yang asing, nomor-nomor atau rumus-rumus yang aneh yang tidak terlepas dari permintaan, pertolongan, dan perlindungan kepada selain Allah. (Lihat Al Qaulul Baligh halaman 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah mereka mengetahui bahwa memakai jimat-jimat hukumnya haram dan termasuk syirik asghar. Bahkan bisa menjadi syirik akbar jika seandainya orang yang memakainya bergantung sepenuhnya kepada jimat-jimat tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda (yang artinya): “Barangsiapa menggantungkan jimat-jimat maka sungguh dia telah berbuat syirik”. (HR. Ahmad dan Al Hakim dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam As Shahihah nomor 492)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh keras ancaman Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang yang berbuat syirik. Allah berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah maka pasti Allah mengharamkan padanya Surga dan tempatnya ialah di neraka, tidaklah ada bagi orang yang dhalim itu seorang penolong pun”. (QS. Al Maidah: 72)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup&lt;br /&gt;Dari sejumlah penyimpangan-penyimpangan yang telah disebutkan di atas, cukup bagi kita untuk menilai sampai sejauh mana jama’ah ini menyeleweng dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Ahlus Sunnah wal Jama’ah sangatlah memperhatikan perbaikan perkara aqidah di tengah umat ini. Bahkan yang pertama kali mereka (Ahlus Sunnah) dakwahkan adalah bagaimana mengaplikasikan penghambaan seseorang kepada Allah semata dan menjauhkannya dari segala kesyirikan dan penghambaan kepada selainAllah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Jama’ah Tabligh tidak menghiraukan sama sekali perkara aqidah. Sehingga tak heran kalau mereka tidak memahami makna hakiki dari kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah. Bahkan mereka (Jama’ah Tabligh) menghalang-halangi orang-orang yang berdakwah kepada tauhid dan menganggap dakwah tauhid adalah dakwah pemecah-belah umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asas dakwah Jama’ah Tabligh dibangun di atas kejahilan dan kebodohan. Mereka menghalang-halangi para pemuda untuk menuntut ilmu agama dan menganggap bahwa ilmu agama itu bisa didapatkan dengan melakukan khuruj fi sabilihim (keluar berdakwah di jalan mereka bukan di jalan Allah) tanpa mendatangi para ulama dan menuntut ilmu dari mereka. Akibatnya, kesyirikan-kesyirikan, khurafat-khurafat, dan kebid’ahan-kebid’ahan tumbuh subur di kalangan mereka. Dan hasil dari dakwah yang berdiri di atas kebodohan adalah kebodohan pula, tidak ada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka penulis menasehatkan kepada seluruh pembaca agar berhati-hati dari Jama’ah Tabligh atau seluruh jama’ah-jama’ah yang menyimpang dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah As Salafiyah Al Firqatun Najiyah Ath Tha’ifah Al Manshurah. Di hadapan kita banyak dai-dai yang mengajak kepada kesesatan sebagaimana yang digambarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ketika menafsirkan ayat: “Dan bahwasanya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa”. (QS. Al An’am: 153)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata: ‘Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menggaris sebuah garis dengan tangannya kemudian berkata: “Inilah jalan Allah yang lurus”. Kemudian beliau menggaris sejumlah garis di sebelah kanan dan kiri garis itu kemudian bersabda: “Dan inilah jalan-jalan, tidaklah setiap jalan kecuali terdapat syaitan yang mengajak kepadanya”. (HR. Ahmad, Nasa’i, dan Al Hakim dan dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Adz Dzahabi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu A’lam Bish Shawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: assunnah.cjb.net&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/796897720869900063-4507047020930241234?l=ahlulahwa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/4507047020930241234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/796897720869900063/posts/default/4507047020930241234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ahlulahwa.blogspot.com/2008/04/borok-borok-jamaah-tabligh_16.html' title='Borok-Borok Jama&apos;ah Tabligh'/><author><name>ibn sarijan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16383263705159505870</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry></feed>
